BMKG: Kemarau 2026 Lebih Kering, Bukan Ekstrem

BMKG menyebut kemarau 2026 lebih kering dari rata-rata akibat El Nino lemah. Namun, kondisi ini bukan yang terparah dan tidak perlu disikapi berlebihan.

April 14, 2026 - 13:30
BMKG: Kemarau 2026 Lebih Kering, Bukan Ekstrem

JAKARTA - Isu kemarau ekstrem yang ramai beredar di ruang publik mulai diluruskan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa musim kemarau 2026 memang diprakirakan lebih kering, namun tidak masuk kategori ekstrem seperti yang banyak diklaim.

Direktur Perubahan Iklim BMKG, Fachri Rajab, menyebut kondisi tahun ini harus dipahami secara proporsional. “Lebih kering yang dimaksud adalah dibandingkan rata-rata 30 tahun terakhir, bukan kemarau terparah,” ujarnya dalam diskusi Hari Meteorologi Dunia ke-76 di Jakarta, Selasa (14/4/2026).

Narasi “Kemarau Godzilla” Dinilai Berlebihan

Fachri juga meluruskan istilah yang belakangan viral, seperti “Kemarau Godzilla” atau “El Nino Godzilla”. Menurutnya, istilah tersebut tidak dikenal dalam kajian klimatologi dan berpotensi menyesatkan publik.

BMKG, kata dia, hanya mengenal klasifikasi intensitas El Nino mulai dari lemah, moderat, kuat, hingga sangat kuat. Tidak ada istilah tambahan yang bersifat sensasional.

“Informasi seperti itu cenderung berlebihan dan tidak sepenuhnya benar,” tegasnya.

Secara klimatologis, kemarau 2026 dipengaruhi oleh kemunculan El Nino yang mulai aktif pada akhir April hingga awal Mei. Fenomena ini berdampak pada berkurangnya curah hujan di sebagian wilayah Indonesia.

Meski demikian, Fachri menegaskan bahwa El Nino dan musim kemarau adalah dua hal berbeda. Indonesia tetap mengalami musim kemarau setiap tahun sebagai konsekuensi iklim tropis, terlepas dari ada atau tidaknya El Nino.

Saat ini, intensitas El Nino masih berada pada kategori lemah. Namun, berdasarkan proyeksi BMKG, fenomena ini berpotensi meningkat menjadi moderat pada triwulan III, khususnya Agustus hingga Oktober 2026.

Tidak Sekering 1997 dan 2015

Dalam perspektif historis, BMKG menilai kondisi tahun ini belum sebanding dengan kemarau ekstrem yang terjadi pada 1997 dan 2015. Namun, jika dibandingkan dengan 2023, musim kemarau 2026 diprediksi memang lebih kering dan berlangsung lebih lama.

Artinya, risiko tetap ada, terutama pada sektor yang sensitif terhadap ketersediaan air seperti pertanian dan perkebunan.

BMKG mengingatkan bahwa informasi ini perlu disikapi serius, tetapi tidak berlebihan. Fokus utama adalah mitigasi, termasuk pengelolaan sumber daya air dan kesiapan sektor pangan.

Kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat menjadi kunci untuk meminimalkan dampak.

“Yang penting adalah kesiapsiagaan, bukan kepanikan,” ujar Fachri. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow