Bidik Pasar Global, Banyuwangi Perkuat Sistem Budidaya Udang Berkelanjutan

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi mulai memperkuat fondasi budidaya udang berkelanjutan sebagai strategi menghadapi tuntutan pasar global sekaligus meningkatkan daya saing ekspor.

April 17, 2026 - 17:01
Bidik Pasar Global, Banyuwangi Perkuat Sistem Budidaya Udang Berkelanjutan

BANYUWANGI - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi mulai memperkuat fondasi budidaya udang berkelanjutan sebagai strategi menghadapi tuntutan pasar global sekaligus meningkatkan daya saing ekspor.

Upaya ini diwujudkan melalui lokakarya dan capacity building yang melibatkan lintas sektor, akademisi, hingga pelaku usaha perikanan yang digeber di Hotel Grand Harvest, Banyuwangi, pada 14–16 April 2026.

Kepala Dinas Perikanan Banyuwangi, Suryono Bintang Samudra, menegaskan bahwa arah kebijakan budidaya udang ke depan tidak lagi bertumpu pada peningkatan produksi semata, melainkan pada pembangunan sistem yang terintegrasi dan berkelanjutan.

“Selama ini kita terlalu sering melihat tambak hanya sebagai urusan produksi. Padahal sekarang dunia sudah berubah. Yang dilihat bukan hanya hasilnya, tetapi bagaimana prosesnya, apakah berkelanjutan atau tidak,” kata Suryono, Jumat (17/4/2026).

Menurut Suryono, Banyuwangi memiliki potensi strategis sebagai salah satu penyumbang produksi udang nasional. Namun, potensi tersebut harus diimbangi dengan perbaikan tata kelola agar mampu menjawab standar pasar internasional yang semakin ketat, terutama terkait isu lingkungan dan keberlanjutan.

Dia mencotohkan, sejumlah negara produsen udang telah lebih dulu bertransformasi. Di Ekuador, sistem tambak terintegrasi dengan mangrove sehingga tetap menjaga ekosistem.

Sementara di Vietnam, kualitas air dipantau secara digital dan real time. Adapun di India, rantai pasok sudah dilengkapi sistem traceability dari tambak hingga ke konsumen.

“Kita tidak bisa lagi berjalan sendiri-sendiri. Tantangan kita bukan pada potensi, tetapi pada cara kita bekerja. Karena itu, melalui forum ini kita dorong perubahan dari pola sektoral menjadi sistem yang terintegrasi,” tegasnya.

Suryono juga menekankan pentingnya peran lintas sektor dalam mendukung transformasi tersebut. Mulai dari percepatan perizinan bagi tambak berkelanjutan, penataan infrastruktur berbasis sistem air yang baik, hingga penerapan insentif lingkungan bagi pelaku usaha yang patuh terhadap regulasi.

Menariknya, sektor pariwisata juga dinilai memiliki peluang untuk terlibat. Konsep tambak ke depan tidak hanya berorientasi pada produksi, tetapi juga dapat dikembangkan sebagai bagian dari eco-edutourism alias wisata edukasi berbasis perikanan berkelanjutan.

“Ke depan, tambak tidak hanya menghasilkan udang, tetapi juga nilai ekonomi, nilai ekologi, bahkan nilai pariwisata,” ucapnya.

Melalui penyusunan roadmap tersebut, Banyuwangi menargetkan terbentuknya sistem yang mampu menjadi acuan berbagai pihak, mulai dari investor, pemerintah, hingga pelaku usaha tambak.

Pasalnya, menurut Suryono, tren pasar global kini telah bergeser. Konsumen tidak lagi sekadar mempertanyakan jumlah produksi, melainkan lebih menitikberatkan pada aspek keberlanjutan.

“Ke depan pasar tidak akan bertanya berapa produksi kita, tapi apakah udang kita berkelanjutan atau tidak. Kalau kita tidak siap, kita akan ditinggalkan. Tapi kalau kita siap, Banyuwangi bisa menjadi rujukan nasional bahkan global,” tutupnya. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow