Berdiri Sejak 1415, Misteri Masjid Iban di Sirnoboyo Pacitan Masih Dijaga Hingga Kini
Warga menyebutnya 'masjid yang tiba-tiba berdiri' karena tak seorang pun tahu pasti siapa pendirinya.
PACITAN Masjid Iban di Desa Sirnoboyo, Kecamatan Pacitan Kabupaten Pacitan, diyakini sudah ada sejak 1415.
Warga menyebutnya 'masjid yang tiba-tiba berdiri' karena tak seorang pun tahu pasti siapa pendirinya. Hingga hari ini, cerita itu masih hidup dan dijaga bersama oleh masyarakat setempat.
Masjid yang kini bernama Masjid Miftahul Jannah tersebut berdiri di Jalur Lintas Selatan (JLS) yang cukup ramai. Namun di balik bangunannya yang tampak kokoh dan modern, tersimpan kisah lama yang terus dituturkan dari generasi ke generasi.
Menurut Joko Hariadi (61), pengelola masjid, nama “Iban” punya makna tersendiri bagi warga. Istilah itu merujuk pada kisah berdirinya bangunan yang dianggap misterius.
“Dulu masyarakat tidak tahu siapa yang mendirikan. Tiba-tiba sudah ada. Orang-orang tua bilang, berdirinya seperti papan yang mendadak tegak begitu saja. Karena itu disebut Masjid Iban,” ujar Joko, Kamis (26/2/2026).
Masjid ini dipercaya telah berdiri sejak tahun 1415. Pada awalnya, bentuknya sangat sederhana—model panggung dengan ukuran yang tidak besar. Jauh berbeda dengan kondisi sekarang yang lebih luas dan permanen.
Seiring waktu, renovasi dilakukan beberapa kali. Tahun 1992 menjadi salah satu momen penting, ketika atap direnovasi dan material kayu diganti demi keamanan.
Kemudian pada 2008, bagian serambi diperluas. Saat itu bertepatan dengan proyek pelebaran jalan jalur lintas selatan (JLS), sehingga area masjid ikut terdampak penataan ulang.
Meski demikian, ada bagian yang tetap dipertahankan. Empat soko atau pilar utama di tengah masjid diyakini sebagai bagian asli bangunan lama. Kini pilar-pilar itu sudah dicor agar lebih kuat, tetapi posisinya tidak diubah.
Keunikan lain ada pada kubahnya. Pengelola mengaku tidak berani membongkar kubah lama.
Alih-alih mengganti, mereka membangun kubah baru tepat di atas kubah lama. Kubah lama tetap dibiarkan utuh di dalam, mengikuti pesan para sesepuh agar tidak membongkar bagian inti masjid.
Bagi warga Sirnoboyo, menjaga masjid ini bukan sekadar merawat bangunan, tetapi juga merawat cerita dan keyakinan. Seluruh biaya renovasi dan operasional berasal dari swadaya masyarakat serta bantuan para perantau yang dulu pernah mengaji di sana.
“Alhamdulillah, banyak perantau yang sudah sukses tetap ingat kampung halaman. Mereka ikut membantu. Untuk operasional harian, kami ambil dari kas masjid yang dilaporkan rutin setiap Jumat,” kata Joko.
Masjid ini juga memiliki petugas kebersihan yang digaji dari kas jemaah. Hal itu dilakukan agar masjid tetap bersih dan nyaman, terutama karena lokasinya berada di tepi jalur lintas yang kerap disinggahi musafir untuk beristirahat dan beribadah.
Di tengah perubahan zaman dan pembangunan yang terus bergerak, Masjid Iban tetap berdiri.
Bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai penanda ingatan kolektif warga tentang sebuah bangunan yang, menurut cerita, pernah 'berdiri begitu saja'. (*)
Apa Reaksi Anda?