BEM Unitomo dan Mapalas Nobar Film Pesta Babi, Soroti Isu Papua dan Krisis Ekologis
Puluhan peserta hadir memenuhi ruangan pemutaran film Pesta Babi diakusi yang digelar BEM Unitomo dan Mapalas.
SURABAYA - Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Dr. Soetomo bersama Mahasiswa Pencinta Alam dan Seni (Mapalas) menggelar kegiatan nonton bareng (nobar) dan diskusi film Pesta Babi di Gedung F Lantai 5, Ruang KH. Mohammad Saleh, Universitas Dr. Soetomo Surabaya.
Kegiatan yang berlangsung penuh antusias tersebut menjadi ruang dialog terbuka bagi mahasiswa, akademisi, pecinta alam, aktivis, hingga masyarakat umum untuk membahas isu lingkungan, masyarakat adat Papua, serta dampak pembangunan terhadap keberlangsungan ekologis.
Sekitar delapan puluhan peserta hadir memenuhi ruangan pemutaran film. Suasana berubah hening ketika layar mulai menampilkan potongan-potongan realitas di Papua.
Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Universitas Dr. Soetomo, Suyanto, saat memberikan sambutan dalam acara nobar dan diskusi film Pesta Babi di Ruang KH Mohammad Saleh, Unitomo, Selasa (26/5/2026). (Foto: Lely Yuana/TIMES Indonesia)
Beberapa peserta tampak gelisah menyaksikan sejumlah adegan dalam film, sebagian lainnya terlibat diskusi kecil selama pemutaran berlangsung, sementara beberapa peserta terlihat menahan haru hingga meneteskan air mata.
Hadir sebagai pemantik diskusi, Mugi selaku mahasiswa Unitomo sekaligus perwakilan masyarakat adat Papua.
Selain itu, hadir Wa Ode Maghfiroh Presiden BEM Unitomo, Maulana selaku Presiden BEM STAIL Surabaya, Reszal Aktivis Front Muda Revolusioner Surabaya, serta Aminudin dari Mapalas.
Diskusi berlangsung hangat dan interaktif usai pemutaran film dilakukan. Para narasumber menyampaikan berbagai pandangan mengenai kondisi Papua, keberlangsungan lingkungan hidup, hak masyarakat adat, hingga pentingnya mahasiswa menjaga sikap kritis terhadap berbagai persoalan sosial dan ekologis.
Pihak kampus turut hadir melalui Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Universitas Dr. Soetomo, Suyanto, sebagai bentuk dukungan terhadap kegiatan akademik mahasiswa yang kritis, edukatif, dan membangun kesadaran sosial.
Dalam sambutannya, Suyanto menyampaikan bahwa Universitas Dr. Soetomo menjadi kampus ketiga di Surabaya yang menggelar nonton bareng film Pesta Babi.
Menurutnya, hal tersebut menunjukkan bahwa kampus harus tetap menjadi ruang terbuka bagi mahasiswa untuk berdiskusi, berpikir kritis, dan menyampaikan gagasan secara ilmiah dan bertanggung jawab.
"Mahasiswa harus mampu membaca persoalan lebih dalam, mengkaji secara kritis, serta menjaga keberanian berpikir ilmiah dan kemanusiaan," ungkap Suyanto, Selasa (26/5/2026).
"Suara kebenaran harus disampaikan dengan ilmu pengetahuan, empati, dan tanggung jawab terhadap masa depan ekologis bangsa,” sambungnya.
Sementara itu, Presiden BEM Unitomo sekaligus panitia kegiatan, Wa Ode Maghfiroh, menyampaikan bahwa pemutaran film tersebut bukan sekadar agenda kampus, melainkan bagian dari upaya menghadirkan ruang belajar bersama agar mahasiswa lebih peka terhadap isu kemanusiaan, lingkungan hidup, dan keberadaan masyarakat adat di Indonesia.
Kegiatan tersebut juga menjadi ruang silaturahmi dan diskusi lintas elemen mahasiswa, aktivis, pecinta alam, serta masyarakat umum.
Pandangan menarik juga disampaikan oleh senior Mapalas Unitomo, Aminudin. Ia menilai film tersebut bukan hanya berbicara mengenai konflik pembangunan ataupun persoalan hutan Papua semata, melainkan tentang suara alam yang selama ini jarang terdengar.
Aktivis lingkungan yang lekat disapa Cak Cimin ini juga mengapresiasi panitia karena telah menghadirkan gambaran kondisi Papua Selatan yang menurutnya mulai mengalami degradasi alam akibat proyek strategis nasional yang selama ini belum banyak diketahui masyarakat luas.
Menurut Aminudin, film tersebut sebaiknya tidak dipandang sebagai alat untuk saling menyalahkan, tetapi menjadi pengingat bahwa pembangunan harus berjalan secara bijak dengan memperhatikan lingkungan, masyarakat adat, dan keberlangsungan satwa liar.
Acara nobar dan diskusi film Pesta Babi di Ruang KH. Mohammad Saleh, Universitas Dr. Soetomo Surabaya, Selasa (26/5/2026). (Foto: Lely Yuana/TIMES Indonesia)
"Mapalas tidak anti terhadap pembangunan, tetapi menolak keras kerusakan alam dan lingkungan yang dibungkus atas nama proyek strategis nasional," katanya.
Ia menambahkan, film tersebut merupakan alarm ekologis dan sosial yang digambarkan melalui bahasa visual.
Menurutnya, terdapat tiga fakta utama yang tergambar dalam film tersebut, yakni peminggiran masyarakat adat, pengerusakan alam, dan orientasi pembangunan yang dinilai tidak manusiawi.
"Mapalas mewakili alam yang selama ini menjadi pihak paling sedikit bisa bersuara. Karena itu, bagi kami, film ini adalah alarm ekologis dan sosial," tuturnya.
Aminudin juga menegaskan, bahwa seorang pencinta alam harus mampu bersikap kritis, melihat dan memahami persoalan dari berbagai sudut pandang, termasuk konteks sosial dan politik yang melatarbelakanginya.
Dalam refleksi penutupnya, ia melontarkan pertanyaan mendalam mengenai makna di balik judul film tersebut.
"Pertanyaannya, siapa sebenarnya yang berpesta dalam film ini? Yang berpesta mungkin adalah kepentingan dan keserakahan manusia. Di situlah pesta berubah menjadi tragedi ekologis," pungkasnya memantik nalar untuk berbicara.
Melalui kegiatan ini, BEM dan Mapalas Unitomo berharap kampus dapat terus menjadi ruang dialog yang sehat, ilmiah, dan humanis dalam membangun kesadaran mahasiswa terhadap isu lingkungan, kemanusiaan, dan persoalan sosial kebangsaan.
Sebagai kampus yang dikenal dengan semangat kebangsaan dan kerakyatan, kegiatan tersebut diharapkan menjadi bagian dari upaya menjaga tradisi intelektual mahasiswa. agar tetap kritis, peka terhadap persoalan sosial, serta peduli terhadap masa depan lingkungan hidup Indonesia. (*)
Apa Reaksi Anda?