BBKSDA Jatim Gandeng FK3I Jatim Hadirkan Edukasi Konservasi di Sekolah

BBKSDA Jatim dan FK3I gelar edukasi konservasi di SMPN 1 dan SMAN 6 Surabaya dalam rangka Road to HKAN 2026. Fokus pada perlindungan satwa dan ekosistem.

April 17, 2026 - 23:01
BBKSDA Jatim Gandeng FK3I Jatim Hadirkan Edukasi Konservasi di Sekolah

SURABAYA - Balai Besar KSDA Jawa Timur (BBKSDA Jatim) bersama Forum Komunikasi Kader Konservasi Indonesia (FK3I) Korda Jawa Timur menggelar edukasi konservasi bagi ratusan pelajar di Kota Surabaya. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Road to Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2026.

Aksi nyata ini menyasar generasi muda di bangku sekolah untuk menanamkan kesadaran terhadap masa depan keanekaragaman hayati. Pada 15 April 2026, kegiatan berlangsung di SMP Negeri 1 Surabaya dengan melibatkan 80 siswa. Edukasi dilanjutkan pada 16 April 2026 di SMA Negeri 6 Surabaya yang diikuti sekitar 300 siswa kelas X.

BBKSDA Jawa Timur menerjunkan tim gabungan yang terdiri dari Polisi Kehutanan, Pengendali Ekosistem Hutan, dan Penyuluh Kehutanan. Sementara itu, FK3I Jawa Timur berperan aktif menghidupkan interaksi lapangan sebagai jembatan antara materi konservasi dan cara pandang generasi muda.

Materi yang disampaikan mencakup lanskap konservasi secara utuh, mulai dari kekayaan hayati Indonesia, pengenalan tumbuhan dan satwa liar (TSL) dilindungi, hingga ancaman nyata seperti perburuan ilegal, perdagangan satwa, deforestasi, dan dampak perubahan iklim.

BBKSDA Jatim dan FK3I

“Konservasi itu bukan urusan nanti, tapi sekarang. Bukan soal siapa yang paling besar perannya, tapi siapa yang mau mulai lebih dulu. Dari ruang kelas ini, kami percaya perubahan bisa dimulai oleh kalian,” ujar Humas FK3I Jawa Timur, Aminudin, Jumat (17/4/2026).

Aminudin menambahkan, kegiatan ini bertujuan membangun gerakan jangka panjang. Ia berharap para siswa dapat menjadi agen informasi yang membawa pesan konservasi ke lingkungan keluarga dan pertemanan mereka.

Senada, Polisi Kehutanan Ahli Muda Seksi KSDA Wilayah III Surabaya, Resia Hindriatni, menegaskan bahwa edukasi ini adalah proses panjang membangun karakter.

“Kesadaran tidak lahir instan; ia harus ditanam, dirawat, dan ditumbuhkan sejak dini. Kami berharap siswa tidak hanya paham konsep, tetapi memiliki kepedulian dan keberanian untuk bertindak menjaga lingkungan,” kata Resia.

Melalui pendekatan partisipatif, para siswa didorong melakukan langkah sederhana, seperti tidak membeli satwa liar dilindungi dan menjaga kelestarian ekosistem sekitar. Pihak sekolah pun merespons positif karena kegiatan ini dinilai selaras dengan kurikulum pendidikan yang mengedepankan pembentukan karakter dan kesadaran ekologis.

Sebagai bagian dari Road to HKAN 2026, inisiatif ini menegaskan bahwa konservasi harus hadir dalam pendidikan dan percakapan sehari-hari. Masa depan pelestarian alam tidak hanya ditentukan di hutan atau kawasan lindung, tetapi juga di ruang-ruang belajar tempat generasi penjaga alam dilahirkan. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow