Bani Insan Peduli Luruskan Kesalahpahaman 'Prank Bansos'
Isu 'prank bansos' yang dilayangkan pendiri panti jompo Griya Lansia Malang Arief Rakhman Hakim di media sosial ditanggapi oleh pihak Bani Insan Peduli.
SURABAYA - Bani Insan Peduli (BIP) meluruskan isu prank bantuan sosial (bansos) yang dilayangkan pendiri panti jompo Griya Lansia Malang Arief Rakhman Hakim di media sosial.
Arief Rakhman Hakim yang juga dikenal dengan alias Arief Camra, diketahui menuding BIP membatalkan bansos secara sepihak.
Humas BIP Kuswanto Ferdian mengatakan, BIP memang menggelar program Tour Jatim untuk memberikan bantuan selama periode 14-15 Mei 2026.
Kunjungan pertama menuju rumah Pak Purnomo Polisi Baik pada tanggal 14 Mei 2026 di Lamongan.
Di sana, BIP memberikan bantuan berupa dua ekor sapi dan pembangunan masjid dengan nama awal Bani (Bakti Anak Nurani Ibu) sebagaimana permintaan founder sebagai bentuk bakti pada ibunda.
Bantuan tersebut senilai Rp1 miliar langsung diberikan oleh Ali Zaenal sendiri dan permintaan nama itu disetujui.
"Beliau minta ada namanya ibunda beliau (Founder BIP) sebagai bentuk penghargaan kepada ibunda beliau yang sudah meninggal," kata Kuswanto Ferdian saat jumpa pers di Surabaya, Minggu (12/7/2026).
Selain itu, dikatakan Kuswanto, Pak Purnomo juga meminta bantuan ambulans. Termasuk juga, bantuan kesejahteraan kepada pasien orang dalam gangguan jiwa (ODGJ) yang tengah dirawat Pak Purnomo senilai Rp500 ribu per orang.
Kemudian kunjungan tour bansos kedua dilanjutkan menuju Griya Lansia Malang. Pihak BIP menghubungi Arief Rakhman Hakim alias Arief Camra selaku pendiri.
Arief disebut Kuswanto meminta BIP untuk melakukan komunikasi langsung dengan Pengasuh Yayasan Griya Lansia Malang, Nurhadi.
Di sana, Founder BIP Ali Zainal memberikan bantuan berupa sapi, sembako, kursi roda, selimut, sajadah, mukena, sarung, dan memberikan uang kepada karyawan yayasan.
Pemilihan penyerahan bantuan di Griya Lansia Malang juga dinilai karena yayasan ini membutuhkan bantuan kesejahteraan.
Berdasarkan analisa kebutuhan, total bantuan senilai Rp1,5 miliar rencananya diperuntukkan bagi pembangunan masjid dan kesejahteraan warga panti jompo. Bantuan pertama diserahkan senilai Rp250 juta untuk karyawan Griya Lansia Malang.
"Saat acara penyerahan bantuan ke Griya Lansia Malang ini, Pak Arief Camra tiba-tiba menyodorkan berkas pembebasan lahan untuk pembangunan rumah yatim Griya Yatim Sidoarjo dan meminta bantuan. Totalnya sebesar Rp900 juta," katanya.
Permintaan bantuan di luar rencana tersebut, tak lantas ditolak oleh BIP.
Ali Zainal bahkan mengamini permohonan dengan menjanjikan bantuan senilai Rp1,1 miliar atau dilebihkan Rp200 juta.
Beberapa waktu kemudian, kata Kuswanto, tim BIP melakukan survei lokasi Griya Yatim di Sidoarjo dan memperkirakan harga rumah hanya sekitar Rp400 jutaan.
Temuan ini membuat BIP secara terpaksa membatalkan bantuan tersebut.
Di sisi lain, Founder BIP Ali Zaenal mengungkapkan sangat menghormati Arief Camra sebagai sosok yang aktif dalam aksi-aksi kemanusiaan. Ia berharap kesalahpahaman antara kedua belah pihak dapat menemukan titik terang.
"Hubungan saya pribadi sama pihak Griya Lansia Malang dan Griya Yatim baik-baik saja, tidak ada masalah apapun sama Bapak Arief. Yang ada, saya adalah butuh banyak belajar dan butuh arahan beliau," katanya.
Arief sendiri diketahui merupakan pendiri sekaligus ketua yayasan panti jompo Griya Lansia Husnul Khatimah di Malang, Jawa Timur.
Melalui akun media sosial pribadinya, Arief Camra sempat mengunggah video klarifikasi terbuka menyatakan kekecewaannya terhadap pihak BIP.
BIP dianggap membatalkan ucapan terkait komitmen pemberian bantuan sosial yang sebelumnya sudah dijanjikan di hadapan publik. Menanggapi isu tersebut, BIP memberikan klarifikasi untuk meluruskan kesalahpahaman.
Sementara saat dikonfirmasi, Arief Camra mengakui, jika pihaknya sudah disurvei beberapa kali dan permasalahannya ada pada penamaan masjid dan area pemakaman.
"Ada deal-dealan (kesepakatan) dibantu dicairkan kalau masjidnya itu diberi nama label Bani di depannya. Nah, Masjid Bani Griya Lansia. Tentu saja saya tolak," kata Arief melalui sambungan telepon.
Dikatakan Arief Camra, begitu pula dengan nama pemakaman. Pihaknya menawarkan kepada Ketua BIP agar nama pemakaman Bani Griya Lansia yang diusulkan BIP diganti dengan nama pemakaman khusus warga Griya Lansia Blok 2 Bantuan Bani Insan Peduli.
"Tapi, kalau pemakaman Bani Griya Lansia itu saya nggak mau, itu yang berada di Malang. Begitu juga masjid sudah saya tawarkan masjid bantuan dari seluruh masyarakat dan donatur utama Yayasan Nurul Hayat dan Yayasan Bani Insan Peduli. Itu sudah saya tawarkan tapi ditolak," jelasnya.
Akan tetapi, dikatakan Arief, nama yang ia ajukan belum mendapat persetujuan dari pihak BIP. "Kemudian saya digantung," ujarnya.
Arief juga mengakui pihaknya telah menerima bantuan senilai Rp250 juta dan sudah dibagikan. Sementara sisanya ia kembalikan karena merasa tidak mendapat kepastian kelanjutan program bantuan.
"Saya sudah dapat uang Rp250 juta, tapi uang itu baru saya bagikan sesuai amanat beliau sendiri ke 49 karyawan saya dengan nilai Rp2.500.000 dan 22 karyawan saya senilai satu juta rupiah kali 22. Saya merasa tertekan dan digantung. Akhirnya saya WhatsApp ke Ketua BIP, apakah ada kelanjutan dengan program ini," kata Arief.
Ia mengatakan, saat itu juga langsung berkomunikasi melalui WhatsApp dengan Ali Zaenal dalam proses mentransfer sisa uang ke rekening yang bersangkutan.(*)
Apa Reaksi Anda?