Australia Beri Visa Perlindungan bagi 5 Pemain Timnas Putri Iran
Australia memberikan visa perlindungan kepada lima pemain timnas putri Iran yang dikhawatirkan menghadapi ancaman hukuman setelah tidak menyanyikan lagu kebangsaan di Asian Cup 2026.
JAKARTA Keputusan mengejutkan muncul dari gelaran AFC Women’s Asian Cup 2026 atau Piala Asia Putri 2026 di Australia. Lima pemain tim nasional sepak bola putri Iran memilih tetap berada di negara tuan rumah setelah aksi diam mereka saat lagu kebangsaan Iran diputar memicu kontroversi dan kekhawatiran akan keselamatan mereka jika kembali ke tanah air.
Pemerintah Australia memastikan akan memberikan visa perlindungan kepada kelima pemain tersebut. Menteri Dalam Negeri Australia, Tony Burke, menyatakan pemerintah telah menyampaikan kepada mereka bahwa Australia menjadi tempat yang aman untuk tinggal.
“Kelima anggota tim itu kami informasikan bahwa mereka dipersilakan tetap berada di Australia. Mereka aman di sini dan harus merasa seperti di rumah,” ujar Burke dalam konferensi pers, Senin (9/3/2026).
Departemen Dalam Negeri Australia mengidentifikasi lima pemain tersebut sebagai, Kapten tim Zahra Ghanbari, gelandang Fatemeh Pasandideh, gelandang Zahra Sarbali Alishah, gelandang Mona Hamoudi dan Bek Atefeh Ramezanizadeh
Kelima pemain itu sebelumnya berada di Australia bersama skuad Iran untuk mengikuti turnamen Piala Asia Wanita 2026 yang berlangsung di Queensland.
Perdana Menteri Anthony Albanese juga menegaskan bahwa bantuan tetap tersedia bagi pemain lain yang mungkin membutuhkan perlindungan. Namun keputusan untuk meminta suaka sepenuhnya berada di tangan masing-masing pemain.
Jika ada yang mengajukan permohonan, pemerintah Australia memastikan mereka akan mendapatkan dukungan yang sama.
Aksi Diam yang Berujung Risiko
Kontroversi bermula ketika para pemain Iran tidak menyanyikan lagu kebangsaan sebelum pertandingan pertama melawan Korea Selatan. Aksi tersebut memicu kritik keras dari media pemerintah Iran.
Seorang komentator di stasiun televisi negara IRIB bahkan menyebut sikap tersebut sebagai “puncak ketidakberhormatan”.
Tekanan semakin besar karena di Iran, simbol nasional dan loyalitas terhadap negara sering kali memiliki implikasi politik yang serius. Kekhawatiran muncul bahwa para pemain bisa menghadapi konsekuensi berat jika kembali.
Campur Tangan Politik Internasional
Isu ini juga menarik perhatian internasional. Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengaku telah berbicara langsung dengan Perdana Menteri Australia Anthony Albanese mengenai situasi sensitif yang dihadapi para pemain Iran.
Melalui platform Truth Social, Trump menyebut sebagian pemain ingin tetap di Australia, sementara yang lain masih ragu karena khawatir terhadap keselamatan keluarga mereka di Iran.
“Lima orang sudah ditangani. Sebagian lainnya masih mempertimbangkan karena ada ancaman terhadap keluarga mereka jika tidak pulang,” tulis Trump.
Kekhawatiran Pelanggaran HAM
Situasi tim Iran semakin kompleks karena turnamen ini berlangsung di tengah eskalasi konflik internasional. Serangan udara Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari dilaporkan menewaskan lebih dari 1.200 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.
Organisasi serikat pemain sepak bola dunia, FIFPRO, sebelumnya menyatakan kekhawatiran serius terhadap keselamatan tim setelah mereka dilabeli sebagai “pengkhianat di masa perang” oleh sebagian pihak.
Di sisi lain, organisasi kemanusiaan di Australia menyambut keputusan pemerintah. CEO Asylum Seekers Centre, Elijah Buol, menilai langkah tersebut sebagai keputusan yang manusiawi.
“Ini langkah penuh empati yang mengakui risiko serius yang dihadapi banyak warga Iran jika dipaksa kembali,” katanya.
Namun ia menegaskan bahwa kasus ini juga seharusnya menjadi perhatian terhadap banyak pencari suaka Iran lainnya yang masih menunggu kepastian status perlindungan di Australia. (*)
Apa Reaksi Anda?