Amerika Serikat Siap Menyerang, Iran Bangun Perisai Beton

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mengatakan, kemungkinan untuk melakukan serangan terbatas terhadap Iran.

Februari 21, 2026 - 20:34
Amerika Serikat Siap Menyerang, Iran Bangun Perisai Beton

JAKARTA Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mengatakan, kemungkinan ia akan melakukan serangan terbatas terhadap Iran meski negosiasi soal nuklir dengan Iran ada kemajuan, sementara itu Iran membangun perisai beton di lokasi fasilitas baru militer yang sensitif dan menutupinya dengan tanah.

Opsi sementara itu sampai sedang dalam proses pengerjaan. Kedua pihak mengincar pencabutan sanksi dengan cepat tetapi saling melontarkan ancaman.

"Yang paling bisa saya katakan, saya sedang mempertimbangkannya," kata Trump ketika ditanya oleh seorang reporter pada acara sarapan di Gedung Putih bersama para gubernur AS, Jumat kemarin.

Sementara itu  baru-baru ini Iran telah membangun perisai beton di atas fasilitas baru di lokasi militer yang sensitif dan menutupinya dengan tanah, memajukan pekerjaan di lokasi yang dilaporkan dibom oleh Israel pada tahun 2024.

Gambar-gambar tersebut juga menunjukkan bahwa Iran telah menutup pintu masuk terowongan di lokasi nuklir yang dibom oleh Amerika Serikat  selama perang 12 hari Israel dengan Iran tahun lalu,  yang mana Amerika Serikat ikut serta atas nama Israel, memperkuat pintu masuk terowongan di dekat lokasi lain, dan telah memperbaiki pangkalan rudal yang terkena dampak konflik tersebut.

Peringatan Trump muncul setelah menteri luar negeri Iran, Abbas Araghchi menyatakan bahwa Iran akan segera menyerahkan rancangan kesepakatan nuklir kepada Amerika Serikat. Draf tersebut diklaim siap dalam dua hingga tiga hari ke depan.

Abbas Araghchi mengatakan dalam sebuah wawancara dengan MSNBC, bahwa Amerika Serikat tidak menuntut "pengayaan uranium nol" dari Iran dalam pembicaraan di Jenewa.

Menurutnya, diskusi tersebut berfokus pada langkah-langkah yang bisa membuktikan kepada Amerika Serikat bahwa program nuklir Iran dimaksudkan semata-mata untuk tujuan damai.

Saya yakin dalam dua atau tiga hari ke depan, itu akan siap, dan setelah konfirmasi akhir dari atasan saya, itu akan diserahkan kepada Steve Witkoff," katanya, merujuk pada negosiator utama Trump untuk Timur Tengah.

Namun Kamis lalu, Trump tetap mengisyaratkan bahwa "hal-hal buruk" akan terjadi jika Iran tidak mencapai kesepakatan dalam waktu 10 hari, yang kemudian diperpanjangnya menjadi 15 hari.

Araghchi juga mengatakan bahwa para negosiator AS tidak meminta Teheran untuk mengakhiri program pengayaan nuklirnya, dan ini bertentangan dengan pernyataan dari para pejabat Amerika.

"Kami belum menawarkan penangguhan apa pun, dan pihak Amerika Serikat belum meminta pengayaan nol," katanya dalam sebuah wawancara yang dirilis Jumat oleh jaringan TV AS MS NOW.

"Yang sedang kami bicarakan sekarang adalah bagaimana memastikan bahwa program nuklir Iran, termasuk pengayaan, bersifat damai dan akan tetap damai selamanya," tambahnya.

Komentarnya bertentangan dengan informasi yang disampaikan oleh para pejabat tinggi AS, termasuk Donald Trump, yang berulang kali mengatakan bahwa Iran tidak boleh  memperkaya uranium pada tingkat apa pun.

Iran, di sisi lain, berupaya untuk menegosiasikan pengakhiran sanksi yang terbukti sangat menghambat perekonomiannya.

Kesulitan ekonomi di Iran itulah yang memicu protes pada bulan Desember yang kemudian berkembang menjadi gerakan anti-pemerintah nasional bulan lalu, yang mendorong tindakan keras dari pihak berwenang yang mengakibatkan sebanyak 3000 orang tewas, menurut kelompok hak asasi manusia dan sumber internal di Iran.

Jadi Malapetaka

Duta Besar Iran untuk PBB, Amir Saeid Iravani, memperingatkan bahwa pangkalan, fasilitas, dan aset AS akan menjadi "target yang sah" jika Amerika Serikat menindaklanjuti ancamannya.

Amir Saeid Iravani menekankan bahwa Republik Islam Iran tidak mencari ketegangan atau perang dan tidak akan memulai perang apa pun. Tetapi jika menjadi sasaran agresi militer, Iran akan merespons dengan tegas dan proporsional.

Kamis lalu Iran telah berkirim surat kepada Sekjen PBB, Antonio Guterres dan Presiden Dewan Keamanan, James Kariuki. Utusan Iran itu mengatakan, bahwa presiden AS mengancam akan menggunakan pangkalan Diego Garcia sehubungan dengan potensi serangan militer terhadap Republik Islam Iran.

Ia memperingatkan bahwa langkah tersebut merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa dan hukum internasional, serta berisiko menjerumuskan kawasan itu ke dalam siklus krisis dan ketidakstabilan baru.

Iravani menggarisbawahi, “Republik Islam Iran telah berulang kali menyatakan di tingkat tertinggi bahwa pihaknya tidak menginginkan ketegangan atau perang dan tidak akan memulai perang apa pun. Namun, jika menjadi sasaran agresi militer, Iran akan merespons secara tegas dan proporsional dalam menjalankan hak inherennya untuk membela diri berdasarkan Pasal 51 Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Kepada Sekjen PBB, Iravani menegaskan dalam suratnya, bahwa pernyataan agresif Presiden Amerika Serikat tersebut tidak boleh dianggap sebagai retorika semata, pernyataan itu menandakan risiko nyata agresi militer, yang konsekuensinya akan membawa malapetaka bagi kawasan tersebut dan akan menjadi ancaman serius bagi perdamaian dan keamanan internasional.

Ia mengatakan, Republik Islam Iran tetap sepenuhnya berkomitmen pada tujuan dan prinsip-prinsip Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa dan pada solusi diplomatik. Iran telah terlibat secara konstruktif, dengan serius dan dengan itikad baik, dalam pembicaraan nuklir dengan Pemerintah Amerika Serikat.

Iravani minta Dewan Keamanan dan Sekretaris Jenderal PBB harus bertindak dan jangan sampai menundanya, sebelum terlambat. "Dewan Keamanan tidak boleh membiarkan ancaman penggunaan kekuatan dan tindakan agresi dinormalisasi, dilegitimasi, atau diperlakukan sebagai norma politik yang bisa diterima, atau digunakan sebagai instrumen kebijakan luar negeri. Jika perilaku melanggar hukum tersebut dibiarkan tanpa penanganan, giliran Negara Anggota berdaulat lainnya akan segera tiba," tegasnya.

Republik Islam Iran, lanjut dia, telah berulang kali menyatakan di tingkat tertinggi bahwa pihaknya tidak menginginkan ketegangan atau perang dan tidak akan memulai perang apa pun. "Namun, jika menjadi sasaran agresi militer, Iran akan merespons secara tegas dan proporsional dalam menjalankan hak inherennya untuk membela diri berdasarkan Pasal 51 Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa. Dalam keadaan seperti itu, semua pangkalan, fasilitas, dan aset kekuatan musuh di kawasan tersebut akan menjadi sasaran yang sah dalam konteks respons defensif Iran. Amerika Serikat akan memikul tanggung jawab penuh dan langsung atas segala konsekuensi yang tidak terduga dan di luar kendali," ujarnya.

Perisai Beton 

Sementara itu citra satelit mengungkapkan bahwa Iran membangun perisai beton, memperkuat kompleks militer Parchin untuk menghadapi serangan udara seiring dengan percepatan pembangunan militer AS ditengah ketegangan akut dengan AS di kawasan tersebut.

Gambar gabungan dari citra satelit yang menunjukkan kompleks militer Parchin sebelum dan setelah serangan Israel pada Oktober 2024. Kemudiaan gambar rekonstruksi kerangka bangunan di lokasi tersebut.


Citra satelit tersebut menyajikan gambaran langka tentang aktivitas Iran di beberapa lokasi yang menjadi pusat ketegangan dengan Israel dan Amerika Serikat.

Sekitar 30 km (20 mil) di sebelah tenggara Teheran, kompleks Parchin adalah salah satu situs militer Iran yang paling sensitif. Intelijen Barat telah mengindikasikan bahwa Teheran melakukan uji coba yang relevan dengan peledakan bom nuklir di sana lebih dari 20 tahun yang lalu. Namun Iran selalu membantah mengembangkan senjata atom, dan mengatakan program nuklirnya murni untuk tujuan sipil.

Baik badan intelijen AS maupun badan pengawas nuklir PBB juga tidak menemukan bukti apa pun tahun lalu bahwa Iran sedang mengembangkan senjata nuklir.

Israel dilaporkan menyerang Parchin pada Oktober 2024. Citra satelit yang diambil sebelum dan sesudah serangan itu menunjukkan kerusakan parah pada sebuah bangunan persegi panjang di Parchin, dan rekonstruksi yang tampak jelas dalam citra dari 6 November 2024. Citra dari 12 Oktober 2025 menunjukkan perkembangan di lokasi tersebut, dengan kerangka struktur baru yang terlihat dan dua struktur yang lebih kecil di sebelahnya.

Kemajuan terlihat jelas dalam citra tanggal 14 November, dengan apa yang tampak seperti atap logam yang menutupi struktur besar tersebut. Pada tanggal 16 Februari, struktur itu sama sekali tidak terlihat, tersembunyi oleh apa yang menurut para ahli adalah struktur beton.

Institut Sains dan Keamanan Internasional (ISIS), dalam analisis citra satelit pada 22 Januari, menunjukkan kemajuan dalam pembangunan "sarkofagus beton" di sekitar fasilitas yang baru dibangun di lokasi tersebut, yang diidentifikasi sebagai Taleghan 2.

Pendiri ISIS, David Albright, menulis di X: “Menunda negosiasi memiliki manfaatnya: Selama dua hingga tiga minggu terakhir, Iran sibuk mengubur fasilitas Taleghan 2 yang baru… Lebih banyak tanah tersedia dan fasilitas tersebut mungkin segera menjadi bunker yang sama sekali tidak dapat dikenali, memberikan perlindungan signifikan dari serangan udara.”

Institut tersebut juga melaporkan pada akhir Januari bahwa citra satelit menunjukkan upaya baru untuk mengubur dua pintu masuk terowongan di kompleks Isfahan – salah satu dari tiga pabrik pengayaan uranium Iran yang dibom oleh AS pada bulan Juni selama perang. Pada awal Februari, ISIS mengatakan semua pintu masuk ke kompleks terowongan telah "terkubur sepenuhnya".

Gambar-gambar lain menunjukkan upaya yang sedang berlangsung sejak 10 Februari yaitu memperkuat dan memperkokoh pertahanan dua pintu masuk ke kompleks terowongan di bawah gunung sekitar 2 km (1,2 mil) dari Natanz, lokasi yang menampung dua pabrik pengayaan uranium Iran lainnya. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow