Aksi Damai Suporter Persipro 1954, Tolak Stadion Jadi Venue Even

Puluhan suporter Persipro 1954 yang tergabung dalam kelompok Curva Sud menggelar aksi damai di depan Stadion Bayuangga, Kota Probolinggo, Selasa malam (4/2/26). Mereka datang bukan untuk sekadar berku

Maret 5, 2026 - 15:30
Aksi Damai Suporter Persipro 1954, Tolak Stadion Jadi Venue Even

PROBOLINGGO Puluhan suporter Persipro 1954 yang tergabung dalam kelompok Curva Sud menggelar aksi damai di depan Stadion Bayuangga, Kota Probolinggo, Selasa malam (4/2/26). Mereka datang bukan untuk sekadar berkumpul, melainkan menyuarakan penolakan tegas terhadap penggunaan stadion kebanggaan mereka untuk berbagai even non-olahraga.

Dengan mengenakan atribut khas suporter, mereka duduk di aspal dan sesekali bermain bola di jalanan depan stadion. Spanduk-spanduk protes dibentangkan. Satu spanduk bahkan terang-terangan menuliskan sindiran tajam.

"Disewakan!!! Bisa digunakan untuk segala jenis event kecuali sepak bola." Suasana berlangsung tertib, namun sorot mata para suporter menyimpan kekecewaan yang mengendap lama.

Aksi yang berlangsung sekitar pukul 20.00 Waktu setempat ini dipicu oleh informasi yang menyebut Stadion Bayuangga akan kembali digunakan untuk gelaran musik. Koordinator Curva Sud Probolinggo, 

Nur Ali, saat di konfirmasi, Kamis ( 5/3/2026) menegaskan bahwa pihaknya tidak anti dengan even hiburan. Hanya saja, menurutnya, stadion semestinya menjadi rumah bagi sepak bola, bukan panggung dadakan yang berisiko merusak fasilitas utama, terutama rumput lapangan.

"Setiap habis dipakai even, rumput butuh waktu pemulihan. Sementara, Persipro butuh latihan dan bertanding. Ini yang selalu terabaikan. Apalagi Persipro gagal tampil di Liga 4, salah satu faktornya karena minim dukungan dan perhatian terhadap stadion ini," ungkap Nur Ali.

Ia juga menyoroti tidak adanya transparansi dari pihak pengelola. Curva Sud menuntut kejelasan apakah Event Organizer penyelenggara even sudah menyiapkan anggaran perawatan stadion pasca-kegiatan. "Kami tidak punya akses langsung ke Dispopar. Jika tuntutan ini tidak direspons, kami akan kembali turun," imbuhnya.

Menanggapi gelombang protes ini, Kepala Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Dispopar) Kota Probolinggo, Muhammad Abas, buka suara. Ia mengaku menghormati aksi damai yang dilakukan suporter. Namun di sisi lain, Abas berpandangan bahwa stadion sebagai aset daerah sejatinya bisa dimanfaatkan untuk kepentingan yang lebih luas.

"Stadion bukan hanya untuk sepak bola, tapi juga bisa mendorong perekonomian dan menambah Pendapatan Asli Daerah. Yang penting, keamanan, kenyamanan, dan kualitas lapangan tetap terjaga," ujar Abas.

Abas menambahkan, pihaknya akan segera bertemu dengan perwakilan suporter untuk membahas persoalan ini. Ia ingin memberikan pemahaman bahwa perawatan stadion tetap menjadi prioritas, bahkan ketika digunakan untuk even non-olahraga. "Tujuannya jelas, untuk meningkatkan kunjungan pariwisata dan memutar roda ekonomi," tutupnya.

Hingga larut malam, para suporter masih bertahan di depan Stadion Bayuangga. Mereka datang dengan damai, tapi meninggalkan pesan keras: jadikan stadion kembali menjadi rumah, bukan sekadar komoditas sewaan. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow