42 Jaksa Agung AS Geledah OpenAI, Termasuk Kasus Penembakan Massal yang Libatkan ChatGPT

Koalisi 42 jaksa agung AS mengirim subpoena ke OpenAI. Investigasi mencakup praktik bisnis, penanganan data, dan dampak ChatGPT pada anak dan lansia. Florida juga gugat OpenAI terkait peran chatbot da

Juni 13, 2026 - 18:01
42 Jaksa Agung AS Geledah OpenAI, Termasuk Kasus Penembakan Massal yang Libatkan ChatGPT

JAKARTA - Perusahaan riset dan kecerdasan buatan OpenAI menerima surat perintah panggilan pengadilan (subpoena) pada Jumat (12/6/2026) waktu setempat, dari koalisi yang beranggotakan 42 jaksa agung negara bagian Amerika Serikat. Koalisi tersebut meminta dokumen terkait praktik bisnis perusahaan serta dampaknya terhadap pengguna.

Menurut laporan Wall Street Journal, dokumen panggilan yang dikirim oleh kantor jaksa agung New York mencakup berbagai aktivitas perusahaan, termasuk periklanan, keterlibatan dan retensi pengguna, penanganan data konsumen dan data kesehatan, aktivitas terkait anak di bawah umur dan lansia, model pembelajaran mendalam (deep learning), perilaku menjilat pada model (model sycophancy), serta kebijakan perusahaan.

OpenAI menanggapi tindakan hukum ini dengan pernyataan resmi. "AI adalah teknologi baru yang sangat kuat, dan kami bekerja setiap hari untuk menghadirkan manfaatnya secara aman kepada masyarakat dengan cara yang bertanggung jawab. Kami menanggapi kekhawatiran yang disampaikan oleh para jaksa agung negara bagian dengan serius dan berniat untuk terlibat secara konstruktif dengan kantor mereka," ujar juru bicara perusahaan.

Florida Jadi Negara Bagian Pertama yang Gugat OpenAI

Florida menjadi negara bagian pertama yang mengajukan gugatan hukum terhadap OpenAI beserta CEO-nya, Sam Altman, pada awal Juni 2026. Gugatan tersebut mengeklaim bahwa OpenAI dan Altman secara sadar merilis produk yang tidak aman dan mengabaikan peringatan bahwa produk itu dapat membahayakan pengguna.

Gugatan tersebut merujuk pada dua kasus penembakan. Pertama, penembakan massal di Florida State University tahun lalu yang menewaskan dua orang. Menurut penyelidikan, tersangka diduga menggunakan fitur ChatGPT sebagai tempat bertukar pikiran untuk merencanakan serangan, dan chatbot tersebut diduga memberikan saran tentang apa yang harus dilakukan.

Kasus Kedua dan Gugatan Lainnya

Gugatan Florida juga merujuk pada kasus pembunuhan dua mahasiswa doktoral University of South Florida. Tersangka diduga mengajukan pertanyaan kepada ChatGPT tentang pembuangan jenazah. Dalam perkara ini, tersangka juga dilaporkan meminta ChatGPT untuk merayakan kematian korbannya.

OpenAI merespons dengan menyatakan telah memasukkan perlindungan tambahan untuk anak di bawah umur ke dalam ChatGPT, termasuk alat prediksi usia dan fitur untuk membantu orang tua memantau penggunaan AI oleh anak-anak mereka.

Dampak dan Investigasi Lainnya

Selain OpenAI, koalisi 42 jaksa agung juga mengirimkan surat ke para kompetitornya (Meta, Anthropic, Google, dan xAI) untuk menyampaikan kekhawatiran mereka. Koalisi tersebut menuntut adanya jaminan keamanan untuk melindungi pengguna yang rentan dari interaksi berbahaya dengan chatbot.

Sementara itu, kantor jaksa agung California pada Januari mengumumkan penyelidikan atas produksi massal gambar seksual wanita dan anak-anak yang dibuat menggunakan chatbot Grok milik xAI. Materi eksplisit tersebut diduga telah digunakan untuk melecehkan orang-orang di seluruh platform media sosial milik Elon Musk, X.

Di sisi lain, OpenAI secara rahasia mengajukan berkas dokumen IPO (penawaran umum perdana) kepada Komisi Sekuritas dan Bursa (SEC) awal Juni, hanya beberapa hari sebelum subpoena ini dikeluarkan(*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow