Waspada Duduk Terlalu Lama, Tim PKM Unesa Edukasi Siswa Cegah Gangguan Otot

Keluhan muskuloskeletal kini tidak lagi didominasi kelompok usia dewasa. Remaja, termasuk pelajar, mulai banyak mengalaminya.

Maret 2, 2026 - 16:00
Waspada Duduk Terlalu Lama, Tim PKM Unesa Edukasi Siswa Cegah Gangguan Otot

SURABAYA im Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menggelar edukasi pencegahan musculoskeletal disorders (MSDs) bagi siswa SMA Islam Shafta Surabaya. 

Kegiatan ini difokuskan pada upaya menekan risiko gangguan otot dan rangka yang kerap muncul akibat kebiasaan duduk terlalu lama saat proses belajar.

Program dipimpin Prof. Dr. Agus Hariyanto, M.Kes., bersama tim dosen dari Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan Unesa. Para siswa diberikan pemahaman mengenai risiko postur tubuh yang tidak ergonomis serta minimnya aktivitas fisik selama jam pelajaran.

Prof. Agus mengatakan, keluhan muskuloskeletal kini tidak lagi didominasi kelompok usia dewasa. Remaja, termasuk pelajar, mulai banyak mengalaminya.

“Anak-anak sekolah sekarang bisa duduk berjam-jam, baik saat belajar di kelas maupun ketika menggunakan gawai. Jika tidak diimbangi peregangan dan postur yang benar, risiko nyeri leher, bahu, dan punggung akan meningkat,” kata Prof. Agus di sela kegiatan.

Menurut dia, kebiasaan kecil seperti memperbaiki posisi duduk dan melakukan peregangan ringan setiap 30–60 menit dapat memberi dampak besar bagi kesehatan jangka panjang.

PKM-Unesa-b.jpg

Dalam kegiatan tersebut, siswa tidak hanya menerima materi teori tentang MSDs, tetapi juga mengikuti praktik langsung gerakan peregangan melalui pendekatan fun stretching exercise. Metode ini dikemas interaktif agar mudah diterapkan di sela aktivitas belajar.

“Pendekatan harus menyenangkan. Kalau dibuat terlalu formal, siswa cenderung cepat bosan. Dengan gerakan sederhana dan fun, mereka lebih mudah mengingat dan mempraktikkan,” ungkap Prof Agus.

Sebagai tindak lanjut, tim PKM Unesa juga menyiapkan video tutorial peregangan yang dapat diakses siswa secara mandiri, baik di sekolah maupun di rumah.

Berdasarkan hasil evaluasi melalui pre-test dan post-test, terjadi peningkatan pemahaman siswa setelah mengikuti kegiatan. Prof. Agus berharap edukasi ini tidak berhenti pada satu kali kegiatan.

“Kami ingin ini menjadi budaya. Sekolah bisa memasukkan peregangan singkat sebagai rutinitas sebelum atau di sela pembelajaran. Jika dilakukan konsisten, dampaknya akan sangat positif bagi kesehatan dan konsentrasi belajar siswa,” pungkasnya.

Melalui program ini, Unesa mendorong terciptanya lingkungan belajar yang lebih sehat, aktif, dan produktif bagi generasi muda. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow