Unik! Pelukis Senior Bagas KP Suguhkan Lukisan Upcycle Berbunyi di Surabaya Visual Art Fest
Menggabungkan seni dan komponen mekanis barang bekas, Bagas KP tampilkan karya interaktif "Bicycle" dalam Surabaya Visual Art Fest di Galeri Merah Putih Balai Pemuda.
SURABAYA - Perupa senior asal Surabaya, Bagas Karunia Putra alias Bagas KP menampilkan karya upcycle mix media dalam pameran Surabaya Visual Art Fest di Galeri Merah Putih Balai Pemuda.
Ajang ini sekaligus menandai kembalinya Bagas setelah lima tahun vakum dari hingar bingar pameran.
Lewat lukisan kontemporer berjudul "Bicycle", ia mengajak para penikmat seni tak hanya memandang keindahan lekukan karya, tetapi juga merasakan suara meditatif dari setiap derak roda sepeda 'kehidupan'.
Menggunakan sensor suhu, roda akan berputar mengeluarkan bunyi ketukan. Semua bahan mekanik tersebut diperoleh dari toko loak dan kemudian ia 'masak' menjadi karya menarik.
"Event kali ini saya menghadirkan karya mix media upcycle aliran modern art," kata Bagas, Senin (27/7/2026).
Bagas mengungkapkan, upcycle merupakan upaya memanfaatkan ulang barang bekas menjadi sebuah karya artistik. Seperti dalam Bicycle, lukisan yang menjadi simbol pergerakan tubuh secara simultan ketika mengayuh sepeda. Menggerakkan tangan, penglihatan, dan melatih keseimbangan secara bersamaan.
"Orang mengayuh sepeda, saya ibaratkan sebuah pergerakan di mana pergerakan itu kita melalui bermacam dinamika yang saya gambarkan melalui background meliuk-liuk, warna merah, warna marah, warna semangat, itu sebuah proses di mana semua saya kira apapun bentuk proses nya pasti ada tujuan," jelasnya.
Untuk menggambarkan tujuan proses, Bagas melukis foto seorang perempuan dengan lingkaran halo di atasnya.
"Saya tidak memberikan batasan apapun tujuannya," tandas Bagas.
Ia membebaskan penikmat seni merepresentasikan sendiri tujuan hidup mereka. Ia memberikan contoh, pejuang keluarga bertujuan mendapatkan kestabilan finansial, aparat bertujuan mengamankan negara, dan lain sebagainya.
"Selama positif dan bisa melihat sejarah proses perjalanan, saya kira lebih bijak untuk mengambil satu pilihan," ucapnya.
Sebagai perupa, Bagas juga menyelipkan sisi emosional personal dalam karyanya dengan menghadirkan tulisan kecil "Estetika" di bagian boncengan sepeda bergerigi tajam.
"Saya mempunyai proses perjalanan yang saya perjuangkan itu keindahan. Untuk memperjuangkan keindahan atau estetika itu saya ibaratkan di boncengan. Ada gigi-gigi tajam mengibaratkan tak semulus kalau kita tahu prosesnya," ucap Bagas yang memuai kariernya sejak mendapat honor dari membuat sketsa pensil di salah satu surat kabar ternama.
Di sisi lain, kembalinya pelukisa jebolan sekolah keguruan seni rupa di Surabaya Visual Art Fest ini juga bertujuan memperjuangkan medan seni rupa Jawa Timur.
"Saya termotivasi untuk mempertahankan kehidupan galeri dan berkesenian di Balai Pemuda Surabaya," ucap Bagas yang telah mendengar isu terkait rencana alih guna gedung bersejarah ini.
Maka dari itu, ia menampilkan karya spektakuler. Tak hanya indah dipandang, tetapi juga mengeluarkan bunyi-bunyian yang dapat dinikmati mulai 26 Juli hingga 6 Agustus 2026.(*)
Apa Reaksi Anda?