Tujuh Warga Bondowoso Terjangkit Leptospirosis, Dinkes Ingatkan Bahaya Kencing Tikus
Dinas Kesehatan Kabupaten Bondowoso mencatat tujuh kasus leptospirosis yang terkonfirmasi positif selama periode Januari hingga Mei 2026.
BONDOWOSO - Dinas Kesehatan Kabupaten Bondowoso mencatat tujuh kasus leptospirosis yang terkonfirmasi positif selama periode Januari hingga Mei 2026. Kasus penyakit yang ditularkan melalui bakteri dari urine tikus tersebut ditemukan di empat kecamatan dan seluruh pasien telah mendapatkan perawatan medis.
Bahkan Dinas Kesehatan sudah mulai melakukan penangkapan tikus di tempat yang diduga tempat penularan. Nanti ginjal tikus tersebut akan dikirim ke laboratorium Jatim.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Bondowoso, dr. Habib Muzakki mengungkapkan bahwa kasus leptospirosis tahun ini tersebar di Kecamatan Tenggarang, Curahdami, Kademangan, dan Sumber Wringin.
“Jadi untuk leptospirosis data yang terbaru, sampai bulan Mei 2026, ini total tujuh. Jadi Januari ada tiga, Februari nol, Maret dua, Mei dua. Jadi sekarang tujuh hasil leptospirosis yang positif,” kata Habib, Kamis (4/6/2026).
Berdasarkan data Dinkes, Kecamatan Tenggarang menjadi wilayah dengan kasus terbanyak, yakni tiga kasus. Sementara Curahdami mencatat dua kasus, sedangkan Kademangan dan Sumber Wringin masing-masing satu kasus.
Ia menjelaskan, leptospirosis merupakan penyakit infeksi bakteri yang umumnya ditularkan melalui air atau tanah yang telah tercemar urine tikus.
Penularan lebih mudah terjadi apabila seseorang memiliki luka terbuka pada kulit yang bersentuhan dengan lingkungan yang terkontaminasi.
“Jadi lepto itu berasal dari kencingnya tikus. Bisa dari tanah yang terkontaminasi, air yang terkontaminasi. Jadi akhirnya menularkan penyakit lepto ini,” ujarnya.
Menurutnya, petani menjadi kelompok yang paling rentan terpapar karena sering beraktivitas di area persawahan yang berpotensi terkontaminasi. Risiko semakin tinggi jika tidak menggunakan perlengkapan pelindung diri seperti sepatu bot saat bekerja.
Selain petani, masyarakat yang tinggal di lingkungan dengan populasi tikus yang tinggi juga perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit tersebut.
Habib menyebutkan sejumlah gejala yang perlu diwaspadai, antara lain demam tinggi di atas 38 derajat Celsius, tubuh terasa lemas, mata memerah, sakit kepala, nyeri pada otot betis, hingga muncul warna kekuningan pada kulit.
Apabila tidak segera mendapatkan penanganan, leptospirosis dapat berkembang menjadi kondisi serius yang menyerang organ vital, terutama ginjal.
“Yang fatal bisa gagal ginjal. Akhirnya bisa cuci darah. Jadi bisa kematian juga. Karena dia akan membuat disfungsi ginjal,” ungkapnya.
Untuk mencegah penularan, Dinas Kesehatan mengimbau masyarakat menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), menjaga kebersihan lingkungan dari sarang tikus, serta menggunakan alat pelindung saat beraktivitas di area yang berisiko.
Masyarakat juga diminta segera memeriksakan diri ke puskesmas atau rumah sakit terdekat apabila mengalami gejala yang mengarah pada leptospirosis.
“Ya, agar dapat ditangani lebih cepat dan mencegah komplikasi yang lebih berat,” pungkasnya. (*)
Apa Reaksi Anda?