Siswa SMA Islam NU Pujon, Tunjukkan Kemampuan Sinematografi dan Editing Video Tampil Cinematic
Di balik megah dan estetiknya video Angkatan 2026 SMA Islam NU Pujon, Malang terdapat tiga sosok siswa yang memilih lebih banyak bekerja di belakang layar dibanding tampil di depan kamera.
MALANG - Di balik megah dan estetiknya video Angkatan 2026 SMA Islam NU Pujon, Malang terdapat tiga sosok siswa yang memilih lebih banyak bekerja di belakang layar dibanding tampil di depan kamera. Mereka adalah M Hadi Nur Rofik, Jonathan Putra Setiawan, dan Fattahilah Annas Nurris Sugiono.
Ketiganya menjadi motor utama dalam proses produksi video angkatan yang belakangan mendapat banyak apresiasi karena kualitasnya yang terlihat cinematic, rapi, dan profesional. Menariknya, seluruh proses produksi dilakukan secara mandiri tanpa menggunakan jasa vendor videografer profesional.
Bagi siswa kelas XII, video angkatan bukan sekadar dokumentasi biasa. Video tersebut menjadi simbol kebersamaan, kekompakan, perjalanan persahabatan, hingga kenangan terakhir sebelum meninggalkan bangku sekolah. Karena itulah, proses pembuatannya selalu menjadi momen yang paling dinantikan setiap tahun.
Namun di Angkatan 2026 SMA Islam NU Pujon, ada cerita inspiratif yang membuat proses pembuatan video terasa berbeda. Tiga siswa ini rela tidak banyak muncul dalam frame demi memastikan hasil video terlihat maksimal dan berkesan bagi seluruh teman-temannya.
Mereka lebih memilih sibuk mengatur kamera, menentukan angle terbaik, mengarahkan talent, memastikan pencahayaan tetap ideal, hingga mengulang pengambilan gambar berkali-kali demi mendapatkan hasil yang sempurna.
Meski masih tergolong awam dan baru lulus SMA, kemampuan mereka di bidang videografi ternyata tidak bisa dipandang sebelah mata. Ketiganya memiliki bakat dan keterampilan dalam cinematography, photography, editing video, hingga desain visual.
Mulai dari penyusunan konsep video, pengambilan gambar, pemilihan tone warna, proses editing, hingga desain pendukung seperti poster, thumbnail, dan title video seluruhnya mereka kerjakan sendiri tanpa bantuan pihak luar.
Keputusan untuk tidak menggunakan vendor profesional pun bukan sekadar demi penghematan biaya. Mereka ingin menghasilkan karya yang lebih personal dan benar-benar menggambarkan karakter Angkatan 2026 SMA Islam NU Pujon.
Selama proses shooting berlangsung, perjuangan mereka tidak mudah. Mereka harus bekerja ekstra keras agar setiap scene terlihat estetik dan memiliki kesan emosional. Bahkan ketika teman-teman lain menikmati momen tampil di depan kamera, ketiganya justru lebih sering berdiri di belakang kamera untuk memastikan semuanya berjalan sempurna.
Meski demikian, mereka mengaku menikmati seluruh proses tersebut. Ada rasa bangga tersendiri ketika hasil karya yang dibuat bersama akhirnya mendapat apresiasi dari banyak siswa dan guru.
Tidak sedikit yang mengaku kagum karena kualitas video angkatan tersebut terlihat layaknya produksi profesional. Pengambilan gambar yang cinematic, transisi yang halus, pemilihan musik yang pas, hingga editing yang detail membuat video tersebut terasa lebih hidup dan penuh makna.
Selain menghasilkan karya yang membanggakan, langkah mereka mengerjakan seluruh produksi secara mandiri juga membantu menghemat biaya angkatan. Dana yang biasanya digunakan untuk menyewa vendor dapat dialihkan untuk kebutuhan lainnya.
Lebih dari sekadar video perpisahan, kisah tiga siswa ini menjadi bukti bahwa kreativitas, kerja keras, dan semangat kolaborasi mampu melahirkan karya luar biasa meski dilakukan oleh anak sekolah. Mereka membuktikan bahwa anak muda daerah juga mampu menghasilkan karya profesional jika diberi ruang untuk berkembang.
Momen ini sekaligus mengajarkan bahwa tidak semua sosok hebat harus selalu tampil di depan kamera. Kadang, justru mereka yang bekerja diam-diam di balik layar adalah alasan utama sebuah karya bisa terlihat begitu luar biasa dan dikenang banyak orang.
Informasi serta karya lengkap AVANTERA 2026 dapat dilihat melalui Youtube : AVANTERASMAINU (*)
Apa Reaksi Anda?