Siap Perang Lagi, Iran Sudah Tak Percaya Lagi dengan AS dan Sekutunya
Iran sudah tidak mempercayai lagi kepada Amerika Serikat (AS) dan sekutu-sekutunya, dan menyatakan siap perang lagi apapun modelnya.
JAKARTA - Iran sudah tidak mempercayai lagi kepada Amerika Serikat (AS) dan sekutu-sekutunya, dan menyatakan siap perang lagi apapun modelnya.
Bahkan perkembangan terbaru, seorang komandan militer senior Iran mengatakan bahwa negaranya telah mengisi kembali peluncur rudal dan drone selama gencatan senjata dua minggu ini.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf menyatakan, Iran secara bersamaan melakukan diplomasi tapi juga siap perang.
Ia menekankan bahwa Iran sudah tidak mempercayai musuh-musuhnya dan siap untuk perang apapun modelnya
Dalam pidato yang disiarkan televisi kepada bangsa Iran, Sabtu malam Qalibaf mengatakan, "perang ketiga yang dipaksakan" juga dimulai di saat sedang berlangsung negosiasi melalui tipu daya Amerika Serikat.
Sebuah sumber yang dilansir media Iran, IRNA, Iran telah "menolak" putaran kedua pembicaraan damai dengan AS, dan Trump ngotot dengan ancamannya akan 'menghancurkan' pembangkit listrik Iran.
Dilaporkan, Iran menolak putaran kedua pembicaraan damai dengan AS setelah Trump mengatakan putaran negosiasi baru akan berlangsung pada Senin (20/4/2026) hari ini.
Iran menuduh Amerika Serikat mengajukan 'tuntutan berlebihan' dan masih tetap memblokade pelabuhan-pelabuhan Iran dari Selat Hormuz.
Selain menyalahkan tuntutan yang berlebihan, Iran juga mengungkapkan Amerika Serikat selalu membual dengan harapan yang tidak realistis, perubahan sikap yang terus-menerus, kontradiksi yang berulang, dan blokade angkatan laut yang berkelanjutan' serta penolakannya untuk bernegosiasi.
Konon, kata pihak AS, Wakil Presiden AS, JD Vance sedianya dijadwalkan tiba di Pakistan untuk melakukan pembicaraan perdamaian ditengah gencatan senjata yang rapuh selama dua minggu yang masih berlangsung.
Di sisi lain, Presiden AS tetap mengancam Iran dengan tuduhan melanggar gencatan senjata dengan menembakkan peluru ke kapal-kapal Eropa di Selat Hormuz.
Namun Kementerian Pertahanan AS sendiri mengatakan, tidak ada laporan tentang serangan semacam tersebut.
Trump memperingatkan bahwa ia akan memerintahkan militer AS untuk 'menghancurkan setiap pembangkit listrik dan setiap jembatan' di Iran jika mereka menolak kesepakatan perdamaian berikutnya.
Peluncur Rudal Diisi Kembali
Sementara itu seorang komandan militer senior Iran mengatakan, bahwa negaranya telah mengisi kembali peluncur rudal dan drone selama gencatan senjata dua minggu, bahkan pengisian itu lebih banyak dari sebelum perang.
Pada Minggu (19/4/2026) kemarin, Komandan Satuan Udara Korps Garda Revolusi Islam (RGC), Jenderal Seyed Majid Mousavi juga membagikan sebuah video di platform media sosial UpScrolled, yang menunjukkan penggantian peluncur rudal dan drone.
Bersamaan dengan rekaman tersebut, pesan Mousavi menyatakan bahwa “kecepatan Iran dalam memperbarui dan mengisi ulang peluncur rudal dan drone telah melampaui kecepatan sebelum perang.”
"Kami menyadari bahwa musuh tidak mampu menciptakan kondisi seperti itu bagi diri mereka sendiri selama gencatan senjata," kata Mousavi.
Sejak gencatan senjata dimulai pada 11 April, katanya, Amerika Serikat terpaksa mengimpor amunisi dari belahan dunia lain secara bertahap.
"Mereka juga kalah dalam fase perang ini. Mereka kehilangan Selat, mereka kehilangan Lebanon, dan mereka kehilangan seluruh wilayah," kata komandan itu.
Pernyataan Mousavi itu muncul di tengah banyaknya laporan yang membantah klaim bahwa agresi militer gabungan AS-Israel selama beberapa minggu terhadap Iran telah secara signifikan melemahkan kemampuan strategis negara tersebut.
Mengutip penilaian intelijen AS, Wall Street Journal (WSJ) melaporkan pekan lalu, bahwa kemampuan Iran untuk mempertahankan kemampuan misilnya bergantung pada jaringan luas area penyimpanan bawah tanah yang diperkuat, yang sebagian besar telah melindungi peluncur bergerak dari pemboman selama berminggu-minggu.
Laporan tersebut menyatakan bahwa Iran masih memiliki ribuan rudal balistik jarak menengah dan pendek yang bisa dikeluarkan dari persembunyian atau diambil dari lokasi bawah tanah.
Jenderal Mousavi juga menyebutkan Selat Hormuz yang dinyatakan tertutup kembali oleh IRGC pada hari Sabtu karena pelanggaran gencatan senjata oleh AS. IRGC menegaskan kembali bahwa blokade angkatan laut yang berkelanjutan terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran sama dengan pembajakan.
Dalam unggahan terpisah di platform media sosial, Mousavi memuji strategi militer yang dirancang oleh pemimpin Revolusi Islam yang gugur, Ayatollah Seyyed Ali Khamenei, yang menurutnya telah membuka jalan bagi kemenangan Iran atas dua musuh bersenjata nuklir.
Komandan tersebut mengatakan bahwa strategi perang asimetris mendiang Ayatollah Khamenei, teknologi rudal buatan dalam negeri, dan ketergantungan pada para ilmuwan dan pejuang muda membuat Iran berdiri tegak melawan iblis-iblis terkuat di dunia.
Militer Iran menyatakan awal pekan ini bahwa jika keamanan pelabuhan-pelabuhan Iran di perairan Teluk Persia dan Laut Arab terancam, maka tidak ada pelabuhan di Teluk Persia dan Laut Arab yang akan aman.
Sementara itu, Angkatan Bersenjata Iran, yang telah menunjukkan ketahanan luar biasa dalam menghadapi agresi selama 40 hari, bersumpah untuk tetap waspada dan siap, dengan jari di pelatuk, untuk menghancurkan setiap ancaman dengan tekad baja.
Beberapa hari setelah AS dan Israel melancarkan agresi militer mereka terhadap Iran pada 28 Februari, Iran membatasi akses Selat Hormuz bagi musuh dan sekutu mereka sebagai manuver strategis.
Gangguan terbesar yang pernah terjadi di jalur perairan Teluk Persia, yang merupakan titik transit utama bagi sekitar 20 persen pengiriman minyak dan gas alam cair global, telah memicu inflasi dan memperlambat perekonomian global, dengan dampak yang diperkirakan akan berlangsung selama berbulan-bulan. (*)
Apa Reaksi Anda?