Sekolah Bahtsul Masail Ahsan Fest 2026: Bedah Genealogi hingga Kontekstualisasi Bersama Rais Syuriah PBNU
Melalui tiga pilar tema yang diusung, kegiatan ini dirancang untuk membekali peserta dengan pemahaman komprehensif tentang Bahtsul Masail.
Pesantren Kampus ‘Ainul Yaqin (PKAY) Universitas Islam Malang (UNISMA) kembali menggelar kegiatan intelektual dalam bingkai Ahsan Fest 2026 melalui program Sekolah Bahtsul Masa’il pada Kamis (02/07) pukul 18.00 WIB di Aula Mabna Ibnu Khaldun, Rusunawa 3 UNISMA.
Mengusung tema 'Genealogi, Metodologi, dan Kontekstualisasi', kegiatan ini menghadirkan salah satu tokoh keulamaan nasional sebagai narasumber utama, yakni KH. Muhibbul Aman Aly, Rais Syuriah PBNU sekaligus mushohih senior Bahtsul Masa’il.
Kegiatan tersebut diikuti oleh pimpinan dan pengurus pesantren, mahasiswa, santri, dan peserta dari berbagai kalangan yang tampak antusias mengikuti setiap sesi dengan penuh perhatian, mulai dari pemaparan materi hingga sesi diskusi yang membuka ruang untuk berdialog langsung dengan narasumber mengenai mengenai materi yang telah disampaikan.
Melalui tiga pilar tema yang diusung, kegiatan ini dirancang untuk membekali peserta dengan pemahaman komprehensif tentang Bahtsul Masail.
Tidak hanya dari sisi historis dan akar tradisinya (genealogi), tetapi juga cara kerja dan kaidah metodologisnya, hingga bagaimana tradisi keilmuan ini dapat dikontekstualisasikan untuk menjawab persoalan-persoalan syariat yang terus berkembang di tengah masyarakat.
Dalam pemaparannya, KH. Muhibbul Aman Aly menjelaskan bahwa tradisi Bahtsul Masa'il sejatinya telah hidup bahkan sebelum Nahdlatul Ulama berdiri.
Menurutnya, forum yang kini dikenal sebagai Bahtsul Masa'il berakar dari tradisi musyawarah para ulama dalam membahas persoalan-persoalan keagamaan.
Oleh karena itu, setiap upaya untuk menghidupkan Bahtsul Masa'il pada masa kini tidak hanya bertujuan mencari solusi atas persoalan umat, tetapi juga menjadi ikhtiar untuk mewarisi dan melestarikan tradisi intelektual para ulama terdahulu.
INFORMASI SEPUTAR UNISMA DAPAT MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id
Lebih lanjut, beliau juga menekankan bahwa proses perumusan jawaban tidak dapat dilakukan secara instan.
Seorang faqih harus menguasai tiga disiplin ilmu, yakni ushul fikih, fikih (furu'), dan kaidah fikih sebagai bekal untuk melakukan takhrij secara tepat dan bertanggung jawab.
Pemaparan tersebut mendapat antusiasme tinggi dari para peserta. Pada sesi diskusi, sejumlah peserta mengajukan pertanyaan mengenai mekanisme takhrij, tahapan perumusan jawaban dalam Bahtsul Masa'il, hingga penerapan metodologi yang telah dipaparkan oleh narasumber.
Seluruh pertanyaan dijawab secara sistematis dengan merujuk pada prinsip-prinsip keilmuan fikih dan tradisi pesantren.
INFORMASI SEPUTAR UNISMA DAPAT MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id
Melalui program Sekolah Bahtsul Masail ini, PKAY UNISMA berharap lahir generasi santri yang tidak hanya fasih membaca kitab, tetapi juga mampu berpikir kritis dan memberikan solusi nyata atas persoalan umat dengan metodologi yang benar.
Selaras dengan visi besar pesantren dalam mencetak ulama yang intelek dan intelek yang ulama.
MALANG - *) Pewarta : Iftitakhul Arzaqiyah, Anggota Tim Multimedia Santri Pesantren Kampus ainul Yaqin, Universitas Islam Malang
Apa Reaksi Anda?