Sampah Plastik Ancam Kelestarian Penyu, BSTC Bajulmati Perkuat Edukasi Konservasi di Malang Selatan

Sampah plastik di laut menjadi ancaman serius bagi kelestarian penyu. Melalui Bajulmati Sea Turtle Conservation (BSTC), masyarakat pesisir Malang Selatan terus melakukan upaya konservasi dan edukasi l

Juni 1, 2026 - 17:00
Sampah Plastik Ancam Kelestarian Penyu, BSTC Bajulmati Perkuat Edukasi Konservasi di Malang Selatan

MALANG - Sampah plastik yang mencemari perairan laut bukan persoalan sepele. Bagi penyu, keberadaan limbah plastik dapat menjadi ancaman serius yang mempercepat penurunan populasi satwa laut yang dilindungi tersebut.

Di Indonesia, empat spesies penyu yang rutin mendarat di pantai untuk bertelur adalah penyu hijau, penyu lekang, penyu sisik, dan penyu belimbing. Namun, dalam tiga dekade terakhir, populasinya terus mengalami penurunan.

Penyebab yang kerap ditemukan antara lain pencurian telur penyu serta kerusakan habitat peneluran akibat pembangunan dan pencahayaan buatan di kawasan pantai.

Sutari, nelayan sekaligus pendiri Bajulmati Sea Turtle Conservation (BSTC) dan anggota Yayasan Konservasi Penyu (YKP) Jawa Timur, mengingatkan bahwa sampah plastik di laut juga menjadi ancaman nyata bagi kelangsungan hidup penyu.

Menurutnya, penyu sering kali mengira sampah plastik sebagai ubur-ubur, salah satu sumber makanannya. Plastik yang tertelan dapat mengganggu sistem pencernaan hingga menyebabkan kematian.

Penyu merupakan satwa yang dilindungi negara sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya serta Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa.

Perairan Indonesia menjadi habitat bagi enam jenis penyu, yakni penyu belimbing, penyu sisik, penyu hijau, penyu pipih, penyu abu-abu, dan penyu tempayan.

Merujuk data International Union for Conservation of Nature (IUCN), enam dari tujuh spesies penyu laut di dunia saat ini masuk kategori terancam punah.

Di sisi lain, Kementerian Kelautan dan Perikanan mencatat Indonesia masih menjadi salah satu penyumbang sampah plastik laut terbesar di dunia dengan volume sekitar 1,2 juta ton per tahun.

Fakta yang mengkhawatirkan, lebih dari separuh penyu yang ditemukan mati terdampar diketahui memiliki sampah plastik di dalam perutnya.

Upaya Penyelamatan Penyu di Pantai Bajulmati

Bajulmati Sea Turtle Conservation (BSTC) berada di kawasan Pantai Bajulmati, Desa Gajahrejo, Kecamatan Gedangan, Kabupaten Malang. Kawasan konservasi tersebut didirikan oleh Sutari pada 2009 sebagai bentuk kepedulian terhadap ancaman kepunahan penyu dan pelestarian ekosistem pesisir.

BSTC berdiri di area konservasi yang mendapat persetujuan dari Perhutani Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Malang dan berlokasi di sisi timur Pantai Bajulmati.

Komunitas relawan ini fokus pada upaya pelestarian penyu, mulai dari penyelamatan telur, penetasan, perawatan tukik, hingga pelepasliaran ke laut. Selain itu, relawan juga aktif melakukan penanaman mangrove serta edukasi lingkungan kepada masyarakat dan pelajar.

Seluruh aktivitas konservasi dijalankan secara swadaya oleh masyarakat nelayan yang berpusat di kawasan Pantai Bajulmati. Hingga kini, kawasan pesisir, hutan mangrove, dan habitat peneluran penyu terus dijaga dan dilestarikan.

Program edukasi yang diselenggarakan BSTC melibatkan berbagai kalangan, mulai dari pelajar, mahasiswa, keluarga, hingga komunitas. Para peserta diajak berdiskusi, mengamati langsung kondisi ekosistem pesisir, serta terlibat dalam kegiatan konservasi.

Sutari menilai banyak orang memahami konsep konservasi, tetapi belum tentu pernah menyaksikan secara langsung rapuhnya ekosistem yang harus dijaga.

"Anak-anak hafal nama penyu dari buku, tapi tidak pernah melihat jejak siripnya di pasir. Mereka tahu mangrove penting, tapi belum pernah menanam dan merawat bibitnya," ujar Sutari.

Menurutnya, pembelajaran berbasis pengalaman menjadi sangat penting untuk menumbuhkan kepedulian lingkungan.

Ketika masyarakat melihat langsung sarang penyu yang dirusak anjing liar atau pantai yang dipenuhi sampah plastik, kesadaran untuk menjaga lingkungan akan tumbuh dengan sendirinya.

"Saat habitat penyu makin menyempit dan mangrove terus hilang, edukasi berbasis lapangan jadi benteng terakhir," katanya.

Dari kepedulian tersebut lahir berbagai tindakan sederhana yang berdampak besar, seperti membawa pulang sampah sendiri, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, dan tidak membeli aksesori yang berasal dari bagian tubuh penyu.

Sutari menilai generasi muda perlu dikenalkan dengan alam sejak dini agar tidak tumbuh asing dengan lingkungan pesisir dan laut yang menjadi bagian penting identitas Indonesia sebagai negara maritim.

"Kalau generasi muda tidak diajak ke alam sejak dini, mereka akan tumbuh asing dengan lautnya sendiri. Padahal kita negara maritim. Kesadaran lahir dari pengalaman, bukan teori," tegasnya.

Menurut Sutari, tantangan pelestarian penyu saat ini bukan hanya soal patroli dan penegakan hukum. Tantangan yang tidak kalah besar adalah membangun kepedulian kolektif masyarakat sebelum kerusakan lingkungan semakin parah.

"Ketika suhu laut terus naik, tempat peneluran di pantai makin sempit, dan penyu makin jarang kembali," ujar Sutari. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow