Perang Iran Kuras Rp195 Triliun dari Kas AS, Dampak Ekonomi Disorot

Perang AS melawan Iran disebut telah menelan sekitar Rp195 triliun. Iran menegaskan tidak akan berunding dengan Washington dan siap bertahan dalam konflik.

Maret 16, 2026 - 08:00
Perang Iran Kuras Rp195 Triliun dari Kas AS, Dampak Ekonomi Disorot

JAKARTA Konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran mulai memunculkan dampak ekonomi yang signifikan. Sejak serangan bersama Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada 28 Februari 2026, biaya perang disebut telah mencapai sekitar US$12 miliar atau sekitar Rp195 triliun.

Angka tersebut diungkapkan oleh Kevin Hassett, Direktur Dewan Ekonomi Nasional Gedung Putih, dalam wawancara dengan stasiun televisi CBS. Dikutip dari Aljazera, ia menyebut angka itu sebagai estimasi terbaru yang diterimanya dari laporan internal pemerintah.

Namun pernyataan tersebut sempat memicu kebingungan. Pada awal wawancara, Hassett terdengar menyampaikan angka tersebut sebagai total proyeksi biaya perang. Ia kemudian mengklarifikasi bahwa jumlah tersebut merupakan biaya yang telah dikeluarkan sejauh ini.

Pembawa acara CBS Margaret Brennan bahkan menyoroti bahwa dalam pekan pertama konflik saja biaya amunisi telah melampaui sekitar US$5 miliar atau sekitar Rp81 triliun, sebuah poin yang tidak dijawab secara langsung oleh Hassett.

Pasar Energi Global Tetap Gelisah

Biaya perang meningkat membawa kekhawatiran konsumen di Amerika Serikat yang mulai merasakan kenaikan harga bahan bakar di sejumlah wilayah.

Kegelisahan pasar juga dipicu oleh ancaman Iran terhadap Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia. Gangguan terhadap jalur ini berpotensi memicu lonjakan harga energi global.

Iran Tegaskan Tidak Akan Berunding

Di tengah meningkatnya tekanan militer, Iran menegaskan tidak akan membuka jalur negosiasi dengan Amerika Serikat.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan Teheran tidak melihat alasan untuk berunding dengan Washington dan siap mempertahankan diri selama konflik berlangsung.

Dalam wawancara dengan CBS, Araghchi menegaskan Iran tidak pernah meminta gencatan senjata maupun negosiasi.

Menurut Araghchi, Iran akan terus bertahan hingga pemerintah Amerika Serikat menyadari bahwa konflik tersebut merupakan perang yang ilegal dan tidak akan menghasilkan kemenangan.

Ia juga menyinggung pengalaman sebelumnya dalam bernegosiasi dengan Washington. Menurutnya, Iran sebenarnya sedang berdialog dengan Amerika Serikat ketika serangan militer diluncurkan.

Karena itu, Teheran menilai tidak ada alasan kuat untuk kembali membuka pembicaraan dengan Washington. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow