Pentas Wayang Potehi di Eng An Kiong Malang, Menjaga Tradisi di Tengah Tantangan Zaman

Pertunjukan wayang potehi di Klenteng Eng An Kiong Malang menjadi upaya pelestarian budaya Tiongkok-Indonesia di tengah minimnya regenerasi dalang dan tantangan zaman modern.

Maret 3, 2026 - 13:00
Pentas Wayang Potehi di Eng An Kiong Malang, Menjaga Tradisi di Tengah Tantangan Zaman

MALANG Pertunjukan wayang potehi yang rutin digelar dalam rangkaian tahun baru Imlek di Klenteng Eng An Kiong, Kota Malang, Jawa Timur menjadi salah satu upaya konkret melestarikan kesenian tradisi Tiongkok yang telah berakar di Indonesia.

Sejak 27 Februari hingga 30 April 2026, seni boneka sarung ini dipentaskan setiap hari dalam dua sesi, pukul 15.00–17.00 WIB dan 20.00–21.30 WIB, membawakan lakon bersambung “Sam He Lam Tong”. Di tengah arus modernisasi, panggung klenteng menjadi ruang penting untuk menjaga keberlangsungan wayang potehi agar tetap hidup dan dikenal generasi muda.

Wayang potehi merupakan seni pertunjukan boneka sarung yang berasal dari tradisi Tiongkok dan berkembang di lingkungan klenteng di Indonesia. Pada mulanya, pertunjukan ini bukan sekadar tontonan, melainkan persembahan ritual kepada dewa-dewi sebagai wujud doa, nazar, dan ungkapan syukur umat. Seiring waktu, wayang potehi juga tampil sebagai hiburan budaya di ruang publik.

Dalang-wayang-potehi-Andianto-b.jpgPanggung pertunjukan wayang potehi di Klenteng Eng An Kiong, Malang, Senin (2/3/2026). (foto: Aisyah Imanira Islam/TIMES Indonesia)

Namun, keberlangsungan kesenian ini menghadapi tantangan serius. Andianto, dalang sekaligus seniman wayang potehi generasi ketiga dari rombongan Fu He An Gudo, mengungkapkan minimnya minat generasi muda serta berkurangnya dalang senior membuat potehi kian sulit bertahan.

Di Malang, saat ini hanya dirinya dan sang anak yang aktif menekuni kesenian tersebut. Secara nasional, dalang seangkatan Andianto disebut tinggal sekitar enam orang, sementara generasi muda yang mulai belajar masih sangat terbatas dan membutuhkan pendampingan panjang.

Persoalan juga muncul pada aspek penulisan naskah. Cerita-cerita potehi yang bersumber dari kisah klasik Tiongkok dahulu diterjemahkan oleh penutur asli dan ditulis ulang menjadi skenario pementasan. Kini, keberlanjutan naskah praktis bergantung pada satu sosok.

“Saat ini saya satu-satunya yang masih menulis naskah cerita wayang potehi di Indonesia,” ujar Andianto.

Menurutnya, proses menjadi dalang tidak singkat. Seorang pemain harus menguasai teknik memainkan boneka, memahami alur cerita, serta mampu memainkan seluruh alat musik pengiring. Tanpa bimbingan dalang senior, kualitas generasi baru berisiko tidak matang.

Di sisi lain, berkurangnya umat klenteng turut berdampak pada menurunnya jumlah tanggapan pementasan ritual yang selama ini menjadi ruang utama hidupnya wayang potehi.

Menurut Andianto, tantangan pelestarian semakin berat karena wayang potehi kerap dianggap kuno oleh sebagian anak muda. Proses belajarnya pun tidak singkat. Seorang dalang harus terlebih dahulu menguasai teknik memainkan boneka, memahami alur cerita, serta menguasai seluruh alat musik pengiring.

Tanpa bimbingan dalang senior, kualitas pementasan generasi baru berisiko tidak matang. Di sisi lain, berkurangnya umat klenteng juga berdampak pada menurunnya jumlah tanggapan pementasan ritual yang selama ini menjadi ruang utama hidupnya wayang potehi.

Perubahan zaman juga menggeser ruang tampil potehi. Setelah tahun 2000, kesenian ini mulai dipentaskan di pusat perbelanjaan dan hotel sebagai hiburan budaya. Bagi Andianto, ruang tersebut penting untuk mengenalkan potehi kepada publik luas. Namun, ia menegaskan pakem asli harus tetap dijaga.

Dalang-wayang-potehi-Andianto-c.jpgWarga menyaksikan pementasan wayang potehi di Klenteng Eng An Kiong, Malang, Senin (2/3/2026). (foto: Aisyah Imanira Islam/TIMES Indonesia)

“Boleh tampil sebagai hiburan, tapi jangan merusak tata cara potehi yang asli. Kalau asal-asalan, itu bukan melestarikan, justru merusak,” tegasnya.

Ia berharap muncul generasi penerus yang tidak hanya mampu memainkan wayang potehi, tetapi juga memahami nilai, filosofi, serta pakem pertunjukan. Tanpa regenerasi yang serius dan berkelanjutan, wayang potehi dikhawatirkan semakin terpinggirkan dan perlahan menghilang dari ruang budaya Indonesia. (*)

Pewarta: Aisyah Imanira Islam

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow