PBNU Luncurkan Gerakan Nasional Pesantrenku Aman, Targetkan 1.000 Pesantren Adopsi Sistem Perlindungan Santri

PBNU meluncurkan Gerakan Nasional Pesantrenku Aman di Pasuruan. Program ini menargetkan 1.000 pesantren menerapkan sistem perlindungan santri dan pencegahan kekerasan.

Juni 2, 2026 - 21:01
PBNU Luncurkan Gerakan Nasional Pesantrenku Aman, Targetkan 1.000 Pesantren Adopsi Sistem Perlindungan Santri

PASURUAN - Di tengah meningkatnya perhatian publik terhadap isu perlindungan anak di lingkungan pendidikan, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengambil langkah strategis dengan meluncurkan Gerakan Nasional "Pesantrenku Aman". Inisiatif ini menjadi upaya konkret untuk memperkuat sistem perlindungan santri sekaligus memastikan pesantren tetap menjadi ruang pendidikan yang aman, sehat, nyaman, dan ramah anak.

Peluncuran program yang diinisiasi oleh Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI) PBNU bersama Satuan Anti Kekerasan (SAKA) PBNU tersebut digelar di Pondok Pesantren Al Yasini, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, pada 1–2 Juni 2026.

Mengusung slogan "Menjaga Amanah, Merawat Masa Depan", gerakan ini melibatkan seluruh elemen pesantren, mulai dari pengasuh, pengurus, dewan guru, musyrif dan musyrifah, hingga ribuan santri yang hadir dalam rangkaian kegiatan edukasi dan penguatan kapasitas.

Pesantren Aman Jadi Prioritas PBNU

Ketua Umum Yahya Cholil Staquf menegaskan bahwa perlindungan santri merupakan amanah yang harus dijaga oleh seluruh institusi pesantren.

Menurutnya, pesantren tidak hanya bertugas mencetak generasi berilmu, tetapi juga memastikan keselamatan, kehormatan, dan masa depan para santri yang dipercayakan oleh orang tua.

"Santri merupakan amanah Allah SWT yang dititipkan kepada pesantren untuk dididik, dibimbing, serta dijaga keselamatan, kehormatan, dan masa depannya. Mewujudkan Pesantren Aman adalah bagian mutlak dari khidmah tersebut," ujar Gus Yahya.

Ia menambahkan, PBNU berkomitmen membangun sistem pengawasan yang lebih terstruktur dari tingkat pusat hingga daerah agar lingkungan pesantren tetap menjadi ruang tumbuh yang sehat bagi anak-anak Indonesia.

Dari Deklarasi Menuju Perubahan Sistemik

Ketua Rabithah Ma'ahid Islamiyah PBNU, Hodri Ariev, menegaskan bahwa Gerakan Nasional Pesantrenku Aman tidak dirancang sebagai kegiatan seremonial semata.

Menurutnya, gerakan ini merupakan ikhtiar kolektif untuk membangun sistem pencegahan dan perlindungan yang kuat di lingkungan pesantren.

"Gerakan ini bukan sekadar seremoni. Ini adalah ikhtiar bersama untuk memastikan pesantren tetap menjadi tempat yang aman, nyaman, dan bermartabat bagi santri dalam menuntut ilmu dan membangun masa depannya," katanya.

Senada dengan itu, Ketua Satuan Anti Kekerasan PBNU, Alissa Wahid, menekankan pentingnya pendekatan menyeluruh dalam menangani persoalan kekerasan di lingkungan pendidikan Islam.

"Kita harus menggarisbawahi pentingnya aspek pencegahan, penanganan cepat, dan pemulihan terhadap segala bentuk kekerasan di lingkungan pendidikan Islam," tegasnya.

Target 1.000 Pesantren Terapkan Pakta Integritas

Gerakan ini juga memiliki target yang terukur. Sekretaris RMI PBNU, Ulunuha, menyebutkan bahwa pascadeklarasi pihaknya menargetkan sedikitnya 1.000 pesantren di bawah naungan RMI mengadopsi pakta integritas perlindungan santri.

Langkah tersebut diharapkan menjadi fondasi lahirnya standar nasional perlindungan anak di lingkungan pesantren yang dapat diterapkan secara berkelanjutan.

Edukasi Santri hingga Penyusunan SOP Perlindungan

Gerakan Nasional Pesantrenku Aman tidak berhenti pada deklarasi. Sejumlah program edukatif langsung dilaksanakan untuk memperkuat pemahaman seluruh elemen pesantren.

Santri putri mengikuti pelatihan Tarbiyah Jinsiyah bersama Ning Nuvis dan Tim Nawaning guna meningkatkan pemahaman mengenai kesehatan reproduksi, perlindungan diri, dan relasi yang sehat.

Sementara itu, santri putra mendapatkan pelatihan Santri Cakap Media yang dipandu oleh Abdulloh Hamid untuk memperkuat literasi digital dan ketahanan terhadap risiko dunia maya.

Tidak hanya santri, para pengasuh asrama dan dewan guru juga mendapatkan pelatihan khusus bersama para ahli, termasuk Marzuki Wahid dan Mohammad Maphur.

Materi yang diberikan mencakup psikologi perkembangan anak, mekanisme pencegahan kekerasan, hingga penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP) penanganan dan pendampingan korban.

Deklarasi Pasuruan Perkuat Perlindungan Santri

Salah satu hasil penting dari kegiatan ini adalah lahirnya Deklarasi Pasuruan, yang disepakati para pengasuh pesantren dari berbagai wilayah.

Deklarasi tersebut memuat lima komitmen utama, menguatkan sistem pengasuhan berbasis kemaslahatan santri, menetapkan kebijakan dan mekanisme perlindungan santri. Membentuk Satgas Pesantren Aman, menyediakan lingkungan, infrastruktur, dan saluran pengaduan yang aman, dan membangun budaya partisipatif yang mendukung keamanan dan perlindungan santri.

Rekomendasi tersebut dibacakan oleh Wafiyul Ahdi bersama Nasih Aschol dan Ahmad Munib Syafa’at.

Dengan dihadiri sekitar 1.000 peserta, deklarasi tersebut menjadi titik awal penguatan budaya perlindungan anak di lingkungan pesantren. Setelah Jawa Timur, roadshow Gerakan Nasional Pesantrenku Aman dijadwalkan akan menyambangi berbagai daerah di Indonesia sebagai bagian dari upaya membangun ekosistem pesantren yang semakin aman, inklusif, dan berkelanjutan. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow