MTs Almaarif 01 Singosari: Perkuat Komitmen Sekolah Ramah Anak

Ada satu hal yang tidak bisa ditawar dalam dunia pendidikan, yakni keberpihakan pada anak. Di titik itulah MTs Almaarif 01 Singosari menegaskan komitmenya.

Mei 1, 2026 - 14:00
MTs Almaarif 01 Singosari: Perkuat Komitmen Sekolah Ramah Anak

MALANG - Ada satu hal yang tidak bisa ditawar dalam dunia pendidikan, yakni keberpihakan pada anak. Di titik itulah MTs Almaarif 01 Singosari menegaskan komitmenya. Bukan sekadar slogan, tetapi kerja nyata melalui kegiatan Bedah Indikator dan Bukti Dukung Standarisasi Sekolah Ramah Anak yang digelar selama dua hari, Kamis hingga Jumat, 30 April – 1 Mei 2026, bertempat di madrasah. Ini bukan langkah pertama.

Tahun 2023 menjadi pijakan awal. Kini, langkah itu diperdalam. Fokusnya jelas, untuk memperkuat pemahaman indikator dan merapikan bukti dukung agar selaras dengan standar nasional. Sebab dalam banyak kasus, program bagus kerap berhenti di konsep dan gagal di eksekusi. Dua nama dihadirkan untuk memastikan itu tidak terjadi, fasilitator nasional Bekti Prastyani dan Ach. Asyhari.

Keduanya tidak sekadar memberi materi, tetapi membedah strategi bagaimana indikator itu dipenuhi, bagaimana bukti itu disusun, dan bagaimana semuanya bisa dipertanggungjawabkan. Dukungan kelembagaan pun terlihat nyata. Hadir Kepala Seksi Pendidikan Madrasah, Yuli Nur Rahmawati, M.Pd, bersama Moh. Yasin, S.Pd dari Kementerian Agama Kabupaten Malang. Kehadiran mereka bukan formalitas, tetapi sinyal: program ini penting, dan harus jalan. Kepala madrasah, Dwi Retno Palupi, M.Pd, tidak bertele-tele dalam pesannya. Ia menyebut program ini sebagai gerakan bersama.

“Harapannya, madrasah ramah anak di MTs Almaarif 01 Singosari, di Yayasan Pendidikan Almaarif Singosari, hingga tingkat Kabupaten Malang, menjadi pintu masuk untuk menghidupkan gerakan Madrasah Ramah Anak,” tegasnya. Di sisi lain, Yuli Nur Rahmawati mengingatkan hal yang sering luput, ramah anak bukan soal bangunan megah atau fasilitas modern.

“Ini soal ekosistem. Soal bagaimana guru berinteraksi. Soal bagaimana lingkungan belajar memberi rasa aman,” ujarnya. Dan di situlah esensinya. Sekolah Ramah Anak bukan proyek sesaat. Ia berakar pada prinsip besar: non-diskriminasi, kepentingan terbaik bagi anak, dan ruang partisipasi yang nyata. Selaras dengan kebijakan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dan Kementerian Agama, program ini menargetkan satu hal mendasar sekolah yang bebas dari kekerasan, sekaligus mendukung tumbuh kembang anak secara utuh.

Kegiatan ini, pada akhirnya, bukan sekadar memenuhi indikator. Bukan pula sekadar melengkapi dokumen. Targetnya lebih dalam: memastikan nilai-nilai ramah anak hidup dalam keseharian di ruang kelas, di halaman sekolah, dalam setiap interaksi. Karena pendidikan yang baik bukan hanya mencerdaskan. Ia juga memanusiakan manusia. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow