Mengintip Festival Bambu Chapter III Magetan, Langkah Nyata Jaga Ekologi dan Dongkrak Ekonomi Lokal

Festival Bambu Chapter III di GOR Ki Mageti Magetan hadir 10 hari, padukan seni, UMKM, edukasi lingkungan, dan produk kreatif berbasis bambu untuk dorong ekonomi hijau dan kepedulian ekologi.

Juni 12, 2026 - 21:01
Mengintip Festival Bambu Chapter III Magetan, Langkah Nyata Jaga Ekologi dan Dongkrak Ekonomi Lokal

MAGETAN - Pelataran GOR Ki Mageti kembali menjadi pusat perhatian. Pemerintah Kabupaten Magetan, Jawa Timur, resmi membuka gelaran Festival Bambu Chapter III pada Jumat (12/6/2026). 

Diinisiasi dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia, pameran seni dan kerajinan ini dijadwalkan bakal memanjakan masyarakat selama sepuluh hari penuh, hingga 21 Juni 2026 mendatang.

Agenda tahunan yang telah  memasuki edisi ketiga ini menjadi bukti konkret sinergisitas lintas sektor di Magetan, mulai dari birokrasi, sektor swasta, komunitas, hingga para pelaku UMKM.

Bupati Magetan, Nanik Sumantri, menegaskan bahwa festival ini bukan sekadar seremonial, melainkan simbol komitmen daerah dalam menyelaraskan roda pembangunan dengan kelestarian alam.

“Pembangunan ekonomi tidak boleh merusak lingkungan. Justru kita harus menciptakan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan sosial, dan kelestarian ekologi,” ujar Nanik.

Melalui momentum ini, Nanik menaruh harapan besar agar kepedulian kolektif masyarakat terhadap bumi semakin menguat. Pada kesempatan yang sama, apresiasi tinggi juga diberikan kepada para jawara lomba lingkungan hidup serta penerima penghargaan.

“Kami harapkan mampu memotivasi warga lainnya untuk melakukan aksi nyata bagi lingkungan,” tambahnya.

Alasan Bambu Jadi Ikon Utama

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Pangan (DLHP) Magetan, Saif Muchlisun, membeberkan alasan filosofis dan praktis di balik pemilihan bambu sebagai primadona festival. Menurutnya, tanaman ini merupakan anugerah alam yang memiliki dualitas fungsi luar biasa bernilai ekologis tinggi sekaligus menyimpan potensi ekonomi yang menjanjikan.

Secara alamiah, bambu dikenal efektif dalam menyerap emisi karbon dan menjaga cadangan air tanah. Di sisi lain, komoditas ini sangat fleksibel untuk masuk ke dalam industri kreatif modern.

“Bambu bisa diolah menjadi berbagai produk, mulai dari kain, kaos, kursi, hingga kerajinan tangan. Ke depan, bahkan bisa dikembangkan menjadi sepeda dan produk kreatif lainnya. Satu bambu, seribu manfaat,” kata Saif merinci.

Ragam Agenda Selama 10 Hari

Selama sepuluh hari ke depan, Festival Bambu Chapter III diprediksi akan menjadi magnet hiburan dan edukasi bagi warga lokal maupun wisatawan. Berbagai stand UMKM asli Magetan tampak berjejer rapi memamerkan produk unggulan mereka.

Tak hanya itu, atmosfer festival dipastikan meriah dengan unjuk gigi kesenian tradisional yang mengandalkan alat musik bambu, seperti angklung dan suling. Bagi pemburu ilmu, panitia juga menyediakan ruang edukasi lewat workshop budidaya anggrek, pelatihan kerajinan, hingga sosialisasi manajemen pengelolaan sampah.

Daya tarik lain yang patut dinanti adalah gelaran fashion show yang mengkolaborasikan keelokan batik khas daerah dengan busana berbahan serat bambu. Sebagai aksi nyata, gerakan kampanye menanam pohon juga digaungkan di sepanjang acara.

Pembukaan ini berlangsung semarak dengan kehadiran jajaran Forkopimda Magetan, deretan kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD), aktivis lingkungan, serta ratusan warga yang antusias memadati area GOR Ki Mageti sejak sore hari. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow