Membumikan Al Quran, Menanamkan Iman: Dua Hari di Pesantren SMA Babussalam Malang

Ramadan bukan sekadar perpindahan jam makan, melainkan momentum bagi institusi pendidikan untuk memperkuat fondasi spiritual siswanya.

Maret 5, 2026 - 11:30
Membumikan Al Quran, Menanamkan Iman: Dua Hari di Pesantren SMA Babussalam Malang

MALANG Ramadan bukan sekadar perpindahan jam makan, melainkan momentum bagi institusi pendidikan untuk memperkuat fondasi spiritual siswanya. Hal inilah yang ditangkap oleh SMA Babussalam Malang melalui penyelenggaraan Pesantren Ramadan pada 3-4 Maret 2026. Kegiatan ini menjadi oase di tengah gempuran disrupsi moral, dengan fokus utama menanamkan nilai-nilai Islami dan memperkuat literasi Al Quran.

Membangun Fondasi melalui Ritual dan Literasi
Kegiatan yang dimulai dengan shalat dhuha berjamaah dan khotmil quran ini bukan sekadar rutinitas formalitas. Di dalamnya terdapat upaya sistematis untuk mendekatkan siswa pada teks suci. Dalam dunia yang serba instan, mengajak siswa duduk tenang meresapi ayat-ayat Al Qur'an adalah langkah krusial untuk membangun ketenangan batin dan kecerdasan spiritual.

Meluruskan Makna "Kembali Suci"
Salah satu poin paling krusial dalam kegiatan ini adalah pemaparan materi dari Sofi Yulloh, Guru PAI SMA Babussalam. Beliau menyoroti fenomena sosial ritual Idulfitri yang sering kali terjebak pada euforia lahiriah semata.

Literasi-al-quran.jpg

Sofi menekankan sebuah peringatan penting bagi generasi muda: merayakan Idulfitri harus sesuai kaidah yang benar. Jangan sampai makna Idul Fitri—yang secara harfiah berarti kembali kepada kesucian—tercemari oleh perilaku yang justru menjauhkan diri dari nilai-nilai agama. Menjadi "suci" berarti membawa pulang pribadi yang lebih baik setelah ditempa selama sebulan penuh, bukan sekadar mengganti baju lama dengan yang baru.

Tantangan Pasca-Ramadhan: Konsistensi di Masa Libur
Menutup rangkaian kegiatan, Kepala SMA Babussalam, Hodri, memberikan pesan yang sangat pragmatis namun mendalam. Libur panjang pasca-Ramadhan sering kali menjadi "lubang hitam" bagi progres pembelajaran siswa.

"Jangan sampai proses pembelajaran selama satu tahun hilang hanya karena waktu libur satu bulan," tegas Hodri.

Pesan ini adalah pengingat bahwa status sebagai siswa dan penjaga almamater tidak tanggal saat lonceng libur berbunyi. Menjaga nama baik sekolah dan tetap disiplin belajar di rumah adalah bentuk nyata dari pengamalan nilai-nilai pesantren yang telah diikuti.

Pesantren Ramadhan SMA Babussalam Malang tahun ini berhasil memotret bahwa pendidikan agama di sekolah tidak boleh berhenti pada hafalan, tapi harus menyentuh ranah sosiologis. Melalui bimbingan para guru, siswa diajak untuk tidak hanya menjadi ahli ibadah di dalam masjid, tetapi juga menjadi pribadi yang santun dan menjaga integritas di tengah masyarakat, terutama saat menyambut hari kemenangan nanti. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow