Mâjang Untingan: Ekspresi Musikal Cacca’an Nelayan Muncar di Banyuwangi
Tradisi lisan masyarakat nelayan di Kecamatan Muncar, Banyuwangi, kembali diangkat ke ruang publik melalui karya musik tradisi bertajuk “Mâjang Untingan”.
BANYUWANGI - Tradisi lisan masyarakat nelayan di Kecamatan Muncar, Banyuwangi, kembali diangkat ke ruang publik melalui karya musik tradisi bertajuk “Mâjang Untingan”.
Karya tersebut lahir dari praktik budaya nelayan berupa Cacca’an atau Untingan, yakni teriakan berirama yang biasa dilantunkan para nelayan saat menarik jaring secara bersama-sama di tengah laut.
Sajian apik gagasan Achzana Ilhamy, mahasiswa Program Studi Seni Program Magister Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta itu, tradisi vokal kerja nelayan Muncar tidak hanya dipandang sebagai aktivitas keseharian, tetapi juga sebagai sistem musikal lokal yang memiliki nilai artistik, sosial, dan filosofis yang kuat.
Menurut Ilham, sapaan akrab Achzana Ilhamy, dalam kehidupan nelayan Muncar, Cacca’an memiliki fungsi penting sebagai alat koordinasi kerja sekaligus pemersatu semangat kelompok saat menarik jaring di laut lepas.
Teriakan-teriakan tersebut dilakukan secara responsorial antara pemimpin kelompok dengan nelayan lainnya, membentuk pola ritmis yang spontan namun konsisten.
Visual wujud Karya Majâng Untingan saat komposisi Permainan Kenong. (FOTO: Ilham for TIMES Indonesia)
Beberapa kosakata khas yang muncul dalam tradisi tersebut di antaranya Andeng Aleng, Antal Godeng, dan Kurting. Meski secara harfiah tidak memiliki makna baku, ungkapan-ungkapan itu menjadi penanda ritme dan komando kerja yang efektif bagi para nelayan.
“Tradisi Cacca’an menyimpan banyak nilai kehidupan yang kini mulai memudar akibar arus modernisasi dan pola pikir individualistis. Nilai gotong royong, solidaritas, tanggung jawab kolektif, hingga religiusitas masyarakat terhadap laut perlahan mengalami pergeseran,” kata Ilham.
Karena itu, Mâjang Untingan dihadirkan sebagai upaya menghadirkan kembali semangat kebersamaan masyarakat pesisir melalui medium seni pertunjukan.
Selain menjadi bentuk pelestarian budaya, karya ini juga menjadi sarana edukasi pentingnya menjaga nilai kolektivitas dalam kehidupan masyarakat maritim.
Dalam proses penciptaannya, owner Rumah Kreatif Damar Art itu melakukan riset lapangan secara langsung bersama nelayan Muncar. Dia mengikuti aktivitas melaut, melakukan observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan sesepuh nelayan, hingga mendokumentasikan Cacca’an melalui rekaman audio, video, dan catatan lapangan.
Sejumlah narasumber dilibatkan dalam proses riset tersebut, di antaranya H. Hasan Basri (86), nelayan asal Desa Tembokrejo, Muncar.
Dalam wawancara yang dilakukan pada 16 November 2020, Hasan Basri menjelaskan bahwa tradisi Untingan diwariskan turun-temurun untuk mempererat kebersamaan kelompok nelayan sekaligus menghibur diri saat bekerja semalaman di laut.
Hasil observasi tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam komposisi musik tradisi berbasis pendekatan etnomusikologi performatif.
Berbagai elemen kehidupan nelayan seperti suara ombak, pola kerja kolektif, timba, drum wadah ikan, jaring rantai besi, hingga perahu nelayan diolah menjadi sumber bunyi musikal.
Karya Mâjang Untingan juga memadukan instrumen tradisi Banyuwangi seperti bonang reong, kendang Banyuwangi, biola, dan terbang Kuntulan dengan bunyi-bunyian nonmusikal dari aktivitas nelayan. Pola musikal seperti krotokan, genjoan, dan slampangan dikembangkan untuk memperkuat nuansa dramatik pertunjukan.
Mahasiswa Program Studi Seni Program Magister Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, Achzana Ilhamy. (FOTO: Ilham for TIMES Indonesia)
Rencananya, pertunjukan ini dirancang dalam format konser musik tradisi berdurasi sekitar 45 menit yang dipentaskan di ruang publik pesisir TPI Pantai Muncar.
Struktur karya dibagi menjadi lima bagian, yakni Kawitan Samar Wulu, Do’a Ring Lautan, Majâng, Jeghul, dan Cacca’an sebagai klimaks pertunjukan.
Yang menarik, para nelayan tidak hanya menjadi objek cerita, melainkan terlibat langsung sebagai subjek artistik dalam pertunjukan. Kehadiran mereka menjadi representasi nyata kehidupan masyarakat pesisir sekaligus memperkuat atmosfer autentik karya.
Ilham mengungkapkan, proses pencipataan karya ini berlangsung selama kurang lebih empat tahun. Selama proses ini, dia menghadapi tantangan membangun sistem musikal bersama nelayan yang tidak memiliki latar belakang pendidikan musik formal, hingga memahami karakter sosial budaya masyarakat pesisir Muncar yang dikenal tegas dan keras.
“Melalui karya Mâjang Untingan, saya berharap tradisi Cacca’an tidak sekadar dikenang sebagai praktik kerja nelayan, tetapi juga dipahami sebagai kekayaan budaya maritim Banyuwangi yang memiliki potensi besar dalam pengembangan seni pertunjukan berbasis tradisi lokal,” harap Ilham. (*)
Apa Reaksi Anda?