Mahasiswa KSM-N Universitas Islam Malang Tampung Aspirasi Isu Pendidikan di Dusun Krajan, Desa Keduwung

Kegiatan penyaluran aspirasi masyarakat berlangsung hangat dan penuh diskusi di Balai Desa Keduwung, Kecamatan Puspo, Kabupaten Pasuruan.

Maret 4, 2026 - 16:00
Mahasiswa KSM-N Universitas Islam Malang Tampung Aspirasi Isu Pendidikan di Dusun Krajan, Desa Keduwung

MALANG Kegiatan penyaluran aspirasi masyarakat berlangsung hangat dan penuh diskusi di Balai Desa Keduwung, Kecamatan Puspo, Kabupaten Pasuruan. Pertemuan yang dihadiri oleh perangkat desa, tokoh masyarakat, serta mahasiswa Kandidat Sarjana Mengabdi Nusantara/ KSMN UNISMA  ini menjadi wadah dialog terbuka terkait berbagai persoalan dan kebutuhan masyarakat setempat.

Liadi sebagai tokoh agama menyoroti masih banyaknya siswa Sekolah Dasar Keduwung 1 yang belum mampu membaca, menulis, dan berhitung (calistung) dengan baik. “Kondisi ini perlu menjadi perhatian serius karena pendidikan dasar merupakan fondasi utama bagi masa depan anak-anak,” tuturnya. Ia juga mendukung penuh rencana mahasiswa untuk mengumpulkan wali murid guna membahas perkembangan belajar anak sekaligus mengevaluasi sistem pembelajaran yang berjalan di sekolah.

“Perlu ada kejelasan terkait pola pembelajaran di sekolah, termasuk durasi belajar dan metode pengajaran yang diterapkan. Apakah sistem belajar yang berjalan saat ini memang sesuai kebijakan atasan atau merupakan inisiatif internal sekolah, karena saya masih menemukan beberapa siswa yang belum menguasai kemampuan dasar berhitung,” ungkap Liadi sebagai Tokoh Agama di Dsn Krajan.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA DAPAT MENGUNJUNGI https://unisma.ac.id/

Nur Huda selaku Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) turut menyampaikan pentingnya membuka wawasan orang tua mengenai urgensi pendidikan. “Perhatian dan pendampingan orang tua di rumah sangat berpengaruh terhadap perkembangan anak di sekolah. Mengingat sebagian guru berasal dari luar desa dengan waktu pembelajaran sekitar empat jam per hari, peran keluarga menjadi faktor penting dalam menunjang keberhasilan belajar siswa,” jelasnya. 

Dari sisi mahasiswa, Ketua KSMN Rafi Lazuar mengungkapkan mengaku dirinya bingung terkait implementasi sistem pembelajaran di SD Keduwung 1. "Saat kami meminta arahan mengajar, kami diarahkan untuk langsung mengajar dan bermain di kelas tanpa pendampingan dari guru serta tanpa bahan ajar materi,” ungkapnya.

Sementara itu, sekolah disebut menerapkan Kurikulum Merdeka yang menekankan fleksibilitas dan pembelajaran berbasis aktivitas. Namun dalam praktiknya, mahasiswa menilai terdapat ketidaksesuaian antara konsep yang disampaikan dan pelaksanaannya di lapangan.

Pertanyaan juga muncul mengenai kebijakan kenaikan kelas bagi siswa yang nilainya belum memenuhi standar. Berdasarkan informasi awal, dalam sistem Kurikulum Merdeka siswa tetap dapat naik kelas dengan syarat tertentu, seperti mengikuti kelas tambahan. Meski demikian, mahasiswa berencana melakukan konfirmasi lebih lanjut kepada pihak sekolah agar informasi yang diperoleh lebih akurat.

Selain itu, pembahasan turut menyinggung pelajaran Bahasa Jawa sebagai muatan lokal. Menurut Kepala Dusun Krajan, Supaijak “Kemampuan berbahasa Jawa anak-anak semakin menurun, beberapa anak belum menguasai Bahasa Jawa Halus. Karena kurangnya jam pembelajaran di Sekolah.” Hal ini menjadi perhatian agar kearifan lokal tetap terjaga di tengah perubahan kurikulum.

Melalui forum ini, mahasiswa KSMN berkomitmen menindaklanjuti aspirasi masyarakat dengan melakukan koordinasi bersama pihak sekolah dan wali murid. Harapannya, sinergi antara sekolah, orang tua, dan masyarakat dapat memperbaiki kualitas pendidikan di Dusun Krajan Desa Keduwung serta memastikan setiap anak memperoleh hak belajar yang optimal. (*)

INFORMASI SEPUTAR UNISMA DAPAT MENGUNJUNGI https://unisma.ac.id/

*) Pewarta: Mahasiswa KSM Nusantara Kelompok 56 Universitas Islam Malang (UNISMA)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow