Konferensi Sungai Indonesia 2026: PJT I Soroti Ancaman Krisis Air hingga Rendahnya Kesadaran Masyarakat

PJT I menyatakan, pengelolaan air kini menghadapi tantangan yang semakin berat karena kerusakan kawasan hulu akibat perubahan tata guna lahan dan meluasnya lahan kritis yang mempercepat sedimentasi di

Juli 26, 2026 - 14:31
Konferensi Sungai Indonesia 2026: PJT I Soroti Ancaman Krisis Air hingga Rendahnya Kesadaran Masyarakat

MALANG - Ancaman terhadap keberlanjutan sumber daya air di Indonesia kian kompleks. Mulai dari perubahan tata guna lahan, sedimentasi waduk, dampak perubahan iklim, hingga meningkatnya kebutuhan air akibat pertumbuhan penduduk menjadi persoalan yang membutuhkan penanganan bersama. 

Isu-isu tersebut mengemuka dalam Konferensi Sungai Indonesia 2026 yang digelar di Wana Wisata Mata Air Sumber Gempong, Desa Ketapanrame, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, Sabtu (25/7/2026). Forum yang memperingati Hari Sungai itu mempertemukan komunitas peduli sungai dari berbagai daerah untuk memperkuat kolaborasi dalam menjaga kelestarian sungai.

Direktur Utama Perum Jasa Tirta I (PJT I), Fahmi Hidayat, yang menjadi pembicara utama pada sesi bertajuk Isu dan Tantangan Pemanfaatan Air Sungai dan Danau, menegaskan bahwa pengelolaan air kini menghadapi tantangan yang semakin berat.

Menurutnya, kerusakan kawasan hulu akibat perubahan tata guna lahan dan meluasnya lahan kritis telah mempercepat sedimentasi di berbagai waduk. Kondisi tersebut secara bertahap mengurangi kapasitas tampung waduk yang selama ini berfungsi sebagai penyedia air, pengendali banjir, hingga pembangkit energi.

Di sisi lain, perubahan iklim turut memengaruhi pola ketersediaan air. Curah hujan yang semakin tidak menentu menyebabkan kelebihan air pada musim hujan, tetapi berpotensi memicu kekurangan air ketika musim kemarau tiba.

"Pemanfaatan air tidak hanya berbicara mengenai berapa banyak air yang dapat digunakan, tetapi juga bagaimana menjaga kualitas, ketersediaan, dan keberlanjutannya agar tetap dapat memberikan manfaat bagi generasi mendatang," ujar Fahmi.

Ia menambahkan, meningkatnya jumlah penduduk dan aktivitas ekonomi juga membuat kebutuhan air terus bertambah. Akibatnya, pengelolaan sumber daya air harus dilakukan secara lebih cermat agar mampu memenuhi kebutuhan masyarakat, pertanian, industri, pembangkit listrik, hingga menjaga kelestarian lingkungan secara seimbang.

Selain tantangan teknis, Fahmi juga menyoroti masih rendahnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga sumber daya air. Menurutnya, pengelolaan sungai tidak cukup hanya mengandalkan pembangunan infrastruktur, tetapi juga memerlukan perubahan perilaku masyarakat.

Ia menilai perencanaan, pendanaan, koordinasi lintas sektor, hingga penegakan regulasi masih perlu diperkuat agar pengelolaan sumber daya air berjalan secara terpadu dan berkelanjutan.

Dalam paparannya, Fahmi mengibaratkan sungai sebagai jaringan pembuluh darah yang menopang kehidupan. Sejak dahulu, sungai telah menjadi pusat berkembangnya peradaban karena menyediakan air untuk kebutuhan rumah tangga, pertanian, perdagangan, transportasi, hingga berbagai aktivitas ekonomi.

Karena itu, ia menekankan bahwa pemanfaatan air harus berpedoman pada lima prinsip utama, yakni adil, efisien, terukur, lestari, dan adaptif. Prinsip tersebut dinilai penting untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan manusia dengan kelestarian ekosistem.

Fahmi juga menegaskan bahwa keberhasilan menjaga sungai tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah maupun pengelola sumber daya air. Komunitas peduli sungai memiliki peran strategis dalam membangun kesadaran masyarakat, melakukan edukasi lingkungan, memantau kondisi sungai, mencegah pencemaran, hingga menggerakkan kegiatan konservasi di tingkat lokal.

Sebagai BUMN yang bergerak di bidang pengelolaan sumber daya air, Perum Jasa Tirta I terus menjalankan berbagai program pengelolaan daerah aliran sungai, pengendalian kualitas dan kuantitas air, pengoperasian infrastruktur sumber daya air, serta mitigasi banjir di wilayah kerjanya.

Melalui partisipasi dalam Konferensi Sungai Indonesia 2026, PJT I kembali menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, komunitas, dan masyarakat dalam menghadapi berbagai tantangan pengelolaan air, sehingga sungai tetap menjadi sumber kehidupan yang berkelanjutan bagi generasi sekarang maupun mendatang. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow