Junjung Kendi Angkat Martabat: Mahasiswa Lembata Hidupkan Mitos Jedo Pare di Panggung ISI Yogyakarta
Melalui pementasan Nodione, ia berharap generasi muda dan masyarakat daerah semakin terdorong untuk menuliskan serta mendokumentasikan kebudayaan mereka.
MALANG - Mahasiswa asal Lembata berhasil mencuri perhatian dalam ujian koreografi di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta melalui karya tari tunggal berjudul Nodione.
Pertunjukan tersebut tidak hanya mengandalkan estetika gerak, tetapi juga menghadirkan kedalaman filosofi budaya Lamaholot yang mengangkat kisah pengorbanan seorang perempuan demi kelangsungan hidup masyarakatnya.
Karya ini memiliki sejarah panjang yang berakar dari riset terhadap naskah teater komunitas yang pernah dipentaskan sang koreografer di daerah asalnya.
Dalam konteks akademik di ISI Yogyakarta, tema tersebut kemudian bertransformasi menjadi karya tari tunggal berjudul Nodione yang bermakna "perempuan yang rela mati demi sebuah kehidupan".
Melalui tarian ini, penonton diajak mengenal kembali mitos Jedo Pare, anak bungsu perempuan dari sembilan bersaudara yang hidup di tengah bencana kelaparan hebat di wilayah Lamaholot.
Dalam kisah tersebut, Jedo Pare memilih mengorbankan nyawanya dengan meminta kakak sulungnya menyembelih dirinya di atas batu sebagai tebusan agar alam kembali bersahabat.
Tujuh hari setelah pengorbanan itu, muncul benih-benih kehidupan berupa sorgum (stela), jagung, dan padi dari tempat ia dikorbankan.
Kisah tersebut hingga kini masih dikenang melalui berbagai ritual adat yang dilaksanakan masyarakat sebelum musim tanam.
Keunikan pementasan ini terletak pada keberhasilannya membawa identitas budaya Lamaholot keluar dari Nusa Tenggara Timur untuk diperkenalkan kepada khalayak yang lebih luas di Yogyakarta.
Salah satu momen yang paling menarik perhatian penonton adalah ketika sang koreografer menari sambil menjunjung kendi atau periuk tanah di atas kepala.
Bagi masyarakat Lamaholot, kendi bukan sekadar properti pertunjukan. Benda tersebut merupakan simbol identitas perempuan yang sangat lekat dengan dapur atau tungku.
Filosofi adat setempat menyebutkan bahwa 'ada perempuan, makanya kita bisa makan panas dan bisa makan dingin' - menegaskan peran penting perempuan sebagai pusat kehidupan dan keseimbangan dalam masyarakat.
Melalui karya ini, sang koreografer ingin meluruskan persepsi bahwa aktivitas perempuan di dapur bukanlah simbol pembantu, melainkan identitas dan martabat yang setinggi harga sebuah gading.
Di balik keindahan pertunjukan tersebut, proses penciptaan karya menghadapi tantangan besar, terutama minimnya sumber tertulis dan jurnal yang membahas sejarah lisan daerah.
Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran bahwa kekayaan budaya NTT dapat kehilangan jejak dokumentasinya di masa depan.
"Kalau kita tidak punya arsipan, nanti satu saat orang mengakui tarian kita, orang tidak akan percaya karena kita tidak punya bukti tertulis," tegasnya.
Melalui pementasan Nodione, ia berharap generasi muda dan masyarakat daerah semakin terdorong untuk menuliskan serta mendokumentasikan kebudayaan mereka.
Baginya, budaya Lamaholot memiliki nilai yang sangat mahal, setinggi harga sebuah gading, sehingga layak dikenal dan dihormati di kancah nasional. (*)
(Pewarta: Agnes Monika Kewa_Mahasiswa Ilkom FISIP UNMER Malang)
Apa Reaksi Anda?