Jejak Pangdam Siliwangi Mayjen Kosasih, Dari Marbot Masjid Hingga Bintang Dua
Perjalanan hidup Mayjen TNI Kosasih sering disebut sebagai kisah inspiratif tentang ketekunan dan kesederhanaan. Ia lahir dari keluarga sederhana yang sangat dekat dengan kehidupan pesantren.
TASIKMALAYA Suasana khidmat menyelimuti Markas Komando Distrik Militer (Makodim) 0612 Tasikmalaya pada Minggu (15/3/2026) sore seiring kedatangan Pangdam Siliwangi, Mayjen TNI Kosasih
Di tengah nuansa bulan suci Ramadan yang sarat nilai spiritual, Panglima Kodam III Siliwangi Mayjen TNI Kosasih, melakukan kunjungan kerja sekaligus Safari Ramadan ke wilayah Tasikmalaya.
Kunjungan tersebut bukan sekadar agenda kedinasan untuk sosok yang dikenal luas sebagai 'Jenderal Santri' ini.
Baginya, Tasikmalaya adalah ruang batin yang dekat dengan perjalanan hidupnya, sebuah wilayah yang sarat dengan tradisi pesantren dan nilai-nilai religius yang telah membentuk karakter kepemimpinannya.
Kedatangan Pangdam disambut langsung oleh Komandan Kodim 0612 Tasikmalaya, Letkol Czi M. Imvan Ibrahim, bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) serta para tokoh ulama Tasikmalaya.
Momentum ini menjadi pertemuan yang tidak hanya bersifat formal militer, tetapi juga sarat dengan pesan moral, refleksi spiritual, serta penguatan nilai-nilai kebangsaan di tengah masyarakat.
Jejak Sang 'Jenderal Santri'
Perjalanan hidup Mayjen TNI Kosasih sering disebut sebagai kisah inspiratif tentang ketekunan dan kesederhanaan. Ia lahir dari keluarga sederhana yang sangat dekat dengan kehidupan pesantren.
Ayah dan ibunya dikenal sebagai guru mengaji di lingkungan masyarakat. Sejak kecil, Kosasih telah akrab dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an dan kehidupan masjid.
Sebagai anak dari keluarga sederhana, ia tidak tumbuh dalam kemewahan. Bahkan, di masa kecilnya ia pernah menjadi marbot masjid dan berjualan es mambo untuk membantu perekonomian keluarga.
Pengalaman tersebut membentuk karakter yang kuat dalam dirinya disiplin, kerja keras, serta kesadaran spiritual yang tinggi.
Nilai-nilai itulah yang kemudian terus dibawanya sepanjang perjalanan karier militer hingga akhirnya dipercaya memimpin Kodam III Siliwangi sebagai Pangdam.
Bagi banyak prajurit, kisah hidupnya menjadi bukti bahwa latar belakang sederhana bukanlah penghalang untuk meraih prestasi tertinggi, selama diiringi kerja keras, keimanan, dan integritas.
Tanam Pesan Terkait Jati Diri Prajurit
Dalam arahannya di hadapan ratusan prajurit di lingkungan Kodim 0612 Tasikmalaya, Pangdam III Siliwangi menyampaikan pesan mendalam mengenai jati diri prajurit Siliwangi.
Ia menegaskan bahwa kekuatan militer tidak hanya diukur dari kemampuan tempur, tetapi juga dari akhlak dan integritas.
“Prajurit Siliwangi harus memegang teguh filosofi silih asah, silih asih, silih asuh, dan silih wawangi. Jadilah teladan di tengah masyarakat, bukan justru menjadi beban,” tegas Mayjen TNI Kosasih. Minggu (15/3/2026).
Filosofi Sunda tersebut, menurutnya, merupakan nilai luhur yang telah lama menjadi identitas moral prajurit Siliwangi.
- Silih Asah: saling mengasah ilmu dan kemampuan
- Silih Asih: saling menyayangi dan menghormati
- Silih Asuh: saling membimbing dan
- Silih Wawangi: saling menjaga nama baik.
Nilai-nilai tersebut diharapkan tidak hanya menjadi slogan, tetapi benar-benar diterapkan dalam kehidupan sehari-hari prajurit, baik di dalam maupun di luar kedinasan.
Penguatan Aspek Sosial
Dalam kesempatan tersebut, Pangdam juga menyinggung fenomena sosial yang saat ini semakin marak di berbagai lapisan masyarakat, yakni praktik judi online.
Ia memberikan peringatan tegas agar seluruh prajurit serta keluarga besar Kodim 0612 Tasikmalaya menjauhi aktivitas yang dapat merusak kehormatan dan disiplin militer tersebut.
Menurutnya, judi online bukan hanya sekadar pelanggaran aturan disiplin, tetapi juga dapat menghancurkan kehidupan keluarga prajurit.
“Ketahanan seorang istri adalah perisai batin prajurit. Jangan hancurkan kepercayaan itu dengan hal-hal yang merusak seperti judi,” ujarnya.
Pangdam juga menekankan bahwa keluarga merupakan benteng utama dalam menjaga integritas prajurit TNI. Peran istri, terutama anggota Persit Kartika Chandra Kirana, sangat penting dalam menjaga stabilitas mental dan moral prajurit.
Safari Ramadan tersebut juga diwarnai dengan kegiatan sosial yang penuh makna.
Sebagai implementasi dari semboyan kepemimpinannya, “Jabatanku adalah Ibadahku”, Pangdam III Siliwangi menyerahkan santunan kepada anak-anak yatim dan penyandang disabilitas di wilayah Tasikmalaya.
Kegiatan tersebut menjadi simbol kepedulian TNI terhadap masyarakat, sekaligus pengingat bahwa kekuatan militer sejatinya harus selalu berpihak pada kemanusiaan.
Para penerima santunan tampak haru ketika menerima bantuan langsung dari Pangdam, yang dikenal memiliki gaya kepemimpinan sederhana dan dekat dengan masyarakat.
Kegiatan Safari Ramadan ini ditutup dengan buka puasa bersama yang berlangsung dalam suasana penuh kekeluargaan.
Prajurit, anggota Persit, tokoh masyarakat, serta para ulama duduk bersama dalam satu ruang, menikmati hidangan berbuka puasa sebelum melaksanakan shalat Magrib berjamaah.
Momentum tersebut memperlihatkan kedekatan antara pimpinan TNI dengan prajurit serta masyarakat.
Bagi Mayjen TNI Kosasih, kunjungan ke Tasikmalaya bukan sekadar perjalanan dinas.
Lebih dari itu, ini adalah perjalanan kembali ke akar nilai-nilai santri yang telah membentuk dirinya sejak kecil.
Dari seorang anak marbot masjid yang membantu keluarga dengan berjualan es mambo, hingga kini menjadi jenderal bintang dua yang memimpin ribuan prajurit.
Kisah hidupnya menjadi inspirasi bahwa kepemimpinan sejati lahir dari kesederhanaan, ketekunan, dan nilai-nilai moral yang kuat. (*)
Apa Reaksi Anda?