Jejak Dakwah Kiai Ageng Petung Pacitan, Makamnya Masih Diziarahi Hingga Kini
Kiai Ageng Petung dikenal sebagai salah satu penyebar Islam di kawasan Pacitan dan jejak dakwahnya masih terus terasa hingga saat ini.
PACITAN Jejak dakwah Kiai Ageng Petung di Desa Kembang, Kecamatan/Kabupaten Pacitan, Jawa Timur masih terasa hingga hari ini. Makam tokoh penyebar Islam tersebut tetap terawat dan rutin diziarahi warga, menjadi penanda sejarah sekaligus pengingat perjuangan dakwah di masa lampau.
Berdasarkan prasasti pemugaran, pesarean itu pernah diresmikan pada Senin Legi, 16 September 1985 atau 1 Muharram 1406 H oleh Bupati Kepala Daerah Tingkat II Pacitan saat itu, Mochtar Abdul Kadir. Sejak saat itu, kompleks makam terus dijaga dan menjadi salah satu situs religi penting di wilayah tersebut.
Sarifudin, warga setempat yang mengetahui sejarah lisan tentang tokoh tersebut, menuturkan, Kiai Ageng Petung dikenal sebagai salah satu penyebar Islam di kawasan Pacitan, khususnya Desa Kembang. Dalam proses dakwahnya, ia tidak selalu berjalan mulus. Saat itu, sebagian masyarakat disebut masih mempertahankan kepercayaan lama, termasuk sisa pengaruh pasukan Majapahit.
Salah satu tokoh yang dikisahkan menentang dakwahnya adalah Buwana Keling. Namun, dengan dukungan Syech Maulana dan Ki Ageng Posong, perjuangan dakwah itu tetap berlanjut. Pendekatan yang digunakan lebih menitikberatkan pada keteladanan dan cara-cara damai. Lambat laun, ajaran Islam diterima masyarakat tanpa gejolak besar.
Tak hanya berdakwah, Kiai Ageng Petung juga disebut membuka permukiman baru dan mengajarkan ilmu agama kepada warga. Dari situlah, perkembangan Islam di Desa Kembang semakin kuat dan mengakar.
Menurut Sarifudin, makam tersebut bukan sekadar tempat peristirahatan terakhir. “Makamipun Ki Ageng Petung menika mboten namung dados papan pasarean, nanging ugi dados pangèling-èling perjuanganipun nyebaraken agami Islam. Masyarakat mriki taksih ngurmati lan nglestantunaken tradhisi ziarah kanthi tata krama ingkang sae,” ujarnya, Kamis (20/2/2026).
Hingga kini, peziarah masih datang dari berbagai daerah. Warga sekitar juga rutin menggelar doa bersama sebagai bentuk penghormatan. Harapannya, generasi muda tetap mengenal sejarah ini dan menjaga nilai keteladanan yang diwariskan.
Bagi masyarakat Desa Kembang, kisah Kiai Ageng Petung bukan sekadar cerita lama. Ia hidup dalam tradisi, doa, dan ingatan kolektif yang terus dirawat dari waktu ke waktu. (*)
Apa Reaksi Anda?