Iran Mengincar Minyak Dunia Bila AS dan Israel Terus Menyerang
Iran mengancam, jika perang terus berlanjut, maka ia berjanji tidak akan ada lagi cara untuk menjual dan memproduksi minyak.
JAKARTA Iran mengancam, jika perang terus berlanjut, maka ia berjanji tidak akan ada lagi cara untuk menjual dan memproduksi minyak.
Iran mengancam akan menyerang fasilitas minyak di negara-negara tetangga setelah Israel menyerang lima lokasi energi di dalam dan sekitar Teheran, menyelimuti kota itu dengan asap hitam dan meningkatkan kekhawatiran bahwa konflik tersebut akan mengakibatkan gangguan signifikan terhadap perekonomian dunia.
"Jika Anda bisa mentolerir harga minyak lebih dari 200 dolar per barel, silahkan lanjutkan permainan ini," kata seorang juru bicara Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Minggu (8/3/2026) kemarin.
Amerika Serikat berupaya menghibur pasar ditengah lonjakan harga minyak dengan berjanji untuk tidak menargetkan infrastruktur energi Iran.
Namun, bola api dan kepulan asap tebal membubung di atas Teheran pada hari Minggu setelah Israel menghantam empat fasilitas penyimpanan dengan serangan udaranya .
Perusahaan distribusi minyak Iran mengatakan empat karyawannya tewas, sementara kabut gelap menyelimuti kota dan bau minyak terbakar masih tercium di udara. Ledakan di kota Karaj yang berdekatan dengan ibu kota menggema di seluruh wilayah, dan meninggalkan daerah tersebut diselimuti asap.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf mengatakan, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump salah menghitung, karena bukan hanya kepentingan Amerika Serikat, tetapi juga kepentingan negara-negara di kawasan dan dunia yang dikorbankan oleh khayalan Benjamin Netanyahu.
Dalam pesan yang diunggah di akun X-nya pada hari Minggu, Mohammad Baqer Qalibaf mengecam perubahan pernyataan Trump tentang harga minyak dan memperingatkan bahwa konflik yang sedang berlangsung bisa memiliki konsekuensi serius bagi pasar energi global dan kepentingan dunia.
"Trump mengatakan bahwa harga minyak tidak akan naik terlalu banyak, dan sekarang setelah harga minyak naik, dia mengatakan harga akan segera dikoreksi," kata QalibafÂ
Amerika Serikat dan rezim Zionis melancarkan kampanye militer skala besar terhadap Iran bahkan membunuh Pemimpin Revolusi Islam, Ayatollah Seyed Ali Khamenei bersama dengan beberapa komandan militer senior dan warga sipil pada tanggal 28 Februari 2026 lalu.
Serangan-serangan tersebut melibatkan serangan udara besar-besaran terhadap lokasi militer dan sipil di seluruh Iran, menyebabkan banyak korban jiwa dan kerusakan infrastruktur yang meluas.
Sebagai tanggapan, Angkatan Bersenjata Iran telah melakukan operasi pembalasan, menargetkan posisi Amerika dan Israel di wilayah pendudukan dan di pangkalan-pangkalan regional dengan gelombang rudal dan drone.
Serangan Amerika Serikat-Israel terhadap Iran telah meningkatkan ketidakstabilan global secara tajam, mendorong harga energi lebih tinggi dan mengganggu jalur perdagangan internasional, termasuk tekanan pada Selat Hormuz. Menurut pernyataan resmi, ribuan korban jiwa telah dilaporkan di semua pihak, sementara pengurangan produksi minyak di beberapa bagian Teluk semakin memperburuk pasar. Seiring meningkatnya ketegangan, seruan untuk pengambilan keputusan kepemimpinan yang cepat telah muncul di dalam Iran di tengah eskalasi yang terus berlanjut.
Apa Reaksi Anda?