Iran Hancurkan Data Center Amazon di Timur Tengah, Internet di Teluk Muali Kacau
Iran secara resmi mengaku menghancurkan pusat data Amazon di UAE dan Bahrain. Serangan drone ini lumpuhkan layanan perbankan, pembayaran, dan transportasi online. AWS peringatkan pelanggan untuk migra
JAKARTA Dunia digital global dikejutkan dengan konfirmasi resmi dari Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) yang menyatakan bahwa mereka secara sengaja menargetkan dan menghancurkan pusat data Amazon Web Services (AWS) di sejumlah lokasi strategis di Timur Tengah.
Serangan yang dilakukan pada akhir pekan lalu ini tidak hanya melumpuhkan infrastruktur teknologi, tetapi juga memicu kekacauan layanan publik di kawasan Teluk.
IRGC, melalui kantor berita resmi Fars, mengumumkan bahwa serangan drone fisik dilancarkan terhadap fasilitas AWS di Bahrain dan Uni Emirat Arab (UAE). Mereka menyebut aksi ini sebagai respons atas dugaan peran pusat data tersebut dalam mendukung aktivitas militer dan intelijen Amerika Serikat.
"Target ini dipilih secara sengaja untuk mengidentifikasi peran pusat-pusat ini dalam mendukung aktivitas militer dan intelijen musuh," demikian pernyataan resmi IRGC (5/3/2026)
Raksasa Digital Runtuh dalam Semalam
Tiga fasilitas AWS langsung terpukul. Dua di antaranya berada di UAE dan satu di Bahrain. Akibatnya, layanan digital yang menjadi tulang punggung kehidupan masyarakat modern di kawasan itu langsung kolaps. Platform pembayaran seperti Alain dan Hubay berhenti berfungsi. Raksasa perbankan ADCB dan Emirates NBD tidak dapat diakses. Aplikasi transportasi online Kareem mati total.
Selama 24 hingga 48 jam, ratusan ribu warga di UAE dan Bahrain hidup tanpa akses ke uang digital, transportasi, dan layanan perbankan. Ini bukan akibat bug perangkat lunak, melainkan karena drone menghancurkan bangunan fisik yang menjalankan layanan tersebut.
Menurut laporan resmi Amazon, kerusakan yang cukup parah telah terjadi di pusat tersebut.
Kantor regional Amazon di Bahrain, yang dibuka pada tahun 2019, dianggap sebagai pintu gerbang bagi layanan cloud canggih Amazon ke negara-negara Teluk Persia dan tempat lain di seluruh Asia Barat.
Dalam pembaruan status yang dipublikasikan di dasbor publik AWS, perusahaan mengonfirmasi kerusakan struktural, gangguan listrik, dan kerusakan akibat air dari sistem pemadam kebakaran. Lebih mencengangkan lagi, AWS secara terbuka menyarankan para pelanggannya untuk memigrasikan beban kerja mereka keluar dari kawasan Bahrain dan UAE secara permanen.
Peringatan ini bukan bahasa pemulihan bencana biasa. Ini adalah pengakuan diam-diam dari raksasa cloud terbesar di dunia bahwa infrastruktur fisik mereka tidak lagi aman di kawasan konflik aktif.
Hingga saat ini, pemerintah Amerika Serikat belum memberikan tanggapan resmi atas klaim Iran bahwa server Amazon digunakan untuk mendukung operasi militer AS.
Jika terbukti benar, konsekuensinya sangat besar. Sebuah perusahaan swasta Amerika, melalui infrastrukturnya, secara efektif menjadi bagian dari medan perang. Ini adalah preseden baru yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Para ahli memperingatkan bahwa serangan ini hanyalah permulaan. Sam Winter-Levy dari Carnegie Endowment for International Peace menyatakan bahwa serangan semacam ini akan menjadi semakin umum seiring meningkatnya signifikansi kecerdasan buatan (AI).
Daniel Ephrat, CEO Ned Data Centers, mengungkapkan bahwa industrinya kini diam-diam mulai membangun pusat data di gua-gua dan bunker.
Apa Reaksi Anda?