Imbas Kedelai Mahal, Perajin Tempe Banyuwangi Kehilangan Pendapatan hingga Rp6 Juta per Bulan

Kenaikan harga kedelai kembali menekan para perajin tempe di Banyuwangi. Meski produksi tetap berjalan, margin keuntungan terus menyusut. Para pelaku usaha kecil ini pun terpaksa putar otak agar tetap

April 29, 2026 - 16:41
Imbas Kedelai Mahal, Perajin Tempe Banyuwangi Kehilangan Pendapatan hingga Rp6 Juta per Bulan

BANYUWANGI - Kenaikan harga kedelai kembali menekan para perajin tempe di Banyuwangi. Meski produksi tetap berjalan, margin keuntungan terus menyusut. Para pelaku usaha kecil ini pun terpaksa putar otak agar tetap bertahan.

Hal ini dirasakan Samsudin (54), perajin tempe asal Dusun Krajan, Desa Kalirejo, Kecamatan Kabat. Pria yang akrab disapa Sam ini, menjadi salah satu yang merasakan langsung dampaknya.

“Dulu harga kedelai sekitar Rp9 ribu per kilo, sekarang sudah Rp10.500. Waktu perang Rusia-Ukraina bahkan sempat tembus Rp13.750. Sekarang memang tidak sekaget dulu, tapi tetap berdampak,” kata Sam, Rabu (29/4/2026).

Bapak dua anak yang sudah menekuni usaha tempe selama 32 tahun ini, mengandalkan kedelai impor. Dia mengaku, kenaikan harga ini membuat selisih biaya produksi mencapai sekitar Rp1,5 juta per ton.

Dengan kebutuhan kedelai sekitar 1 ton per minggu, dalam sebulan dirinya harus menanggung tambahan beban hingga Rp6 juta.

Dalam sehari, dia mengolah sekitar satu kuintal kedelai. Jika sebelumnya biaya produksi berkisar Rp1,35 juta, kini naik menjadi sekitar Rp1,5 juta. Artinya, ada selisih sekitar Rp150 ribu per hari yang harus ditanggung, sementara harga jual tempe tidak bisa dinaikkan.

“Produksi tetap, tapi pendapatan turun. Mau tidak mau ya ukuran tempenya dikurangi,” ujarnya.

Perajin Tempe Banyuwangi 2Istri Samsudin, sedang membantu produksi tempe. (FOTO: Ikromil Aufa/TIMES Indonesia)

Menurut Sam, penurunan pendapatan bisa mencapai 10 hingga 20 persen. Dia memilih mempertahankan harga agar pelanggan tidak lari, meski konsekuensinya keuntungan semakin tipis.

Harga tempe produksinya pun relatif terjangkau, yakni Rp1.500 per bungkus dan Rp2.000 untuk tempe irisan. Para pengecer biasanya mengambil 60 hingga 70 potong tempe irisan per hari, dan 20 hingga 30 bungkus tempe, untuk dijual kembali dengan harga yang disesuaikan.

“Semoga jangan naik lagi (harga kedelai). Sekarang ini sudah lumayan berat, meskipun dibilang masih agak murah dibanding sebelumnya,” ucapnya.

Tak hanya Sam, kondisi serupa juga dirasakan Nur Khotimah, perajin tempe asal Desa Gintangan, Kecamatan Rogojampi. Usaha yang dirintis sejak 2021 itu kini harus berhadapan dengan harga kedelai impor yang mencapai Rp11.500 per kilogram.

Dalam sehari, Nur memproduksi sekitar 10 hingga 15 kilogram kedelai, yang dapat menghasilkan sekitar 30 potong tempe per kilogramnya. Tempe tersebut dijual dengan harga Rp800 per potong.

“Bagaimana lagi, kualitas kedelai lokal saat ini belum sebanding dengan kedelai impor. Jadi untuk menyesuaikan kondisi, terpaksa sedikit mengurangi ukuran tempe. Kalau harga dinaikkan, kami khawatir konsumen justru berkurang,” ujarnya.

Di tengah situasi ini, para perajin tempe di Banyuwangi berharap harga kedelai bisa kembali stabil. Sebab, tanpa penyesuaian harga jual, kenaikan bahan baku secara langsung memangkas keuntungan yang selama ini menjadi penopang usaha mereka. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow