Hemat hingga 30 Persen, Satgas MBG Rembang Gunakan CNG untuk Operasional SPPG
Satgas Makan Bergizi Gratis di Rembang mulai menggunakan CNG untuk operasional SPPG. Penggunaan bahan bakar ini diklaim mampu menekan biaya operasional dapur hingga 30 persen.
REMBANG - Upaya menekan biaya operasional Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah mulai dilakukan melalui pemanfaatan energi alternatif yang lebih efisien. Satuan Tugas (Satgas) MBG Kabupaten Rembang bersama Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) PT Rembang Migas Energi (RME) meluncurkan penggunaan Compressed Natural Gas (CNG) di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Dorokandang, Kecamatan Lasem, Senin (1/6/2026).
Pemanfaatan CNG tersebut menjadi langkah awal pembentukan ekosistem energi yang mendukung keberlanjutan program MBG sekaligus menandai kebangkitan PT RME setelah sempat tidak beroperasi selama lebih dari tiga tahun.
Ketua Satgas MBG Kabupaten Rembang, Mochamad Hanies Cholil Barro’, mengatakan penggunaan CNG di SPPG Dorokandang merupakan tahap awal sebelum diterapkan lebih luas di seluruh dapur MBG yang akan beroperasi di Kabupaten Rembang.
“Ini sesuai dengan semangat kami di Satgas untuk membangun ekosistem pangan dan ekosistem ekonomi di lingkungan SPPG. Kerja sama dengan BUMD, dalam hal ini PT RME, merupakan langkah yang sangat positif. Saat ini baru nyala perdana dan sudah ada tujuh SPPG yang antre, dari total 72 SPPG yang akan beroperasi ke depan,” ujar pria yang akrab disapa Gus Hanies itu.
Menurutnya, penguatan ekosistem MBG tidak hanya melibatkan PT RME, tetapi juga diharapkan dapat melibatkan BUMD lain serta kelompok masyarakat lokal agar manfaat ekonomi program dapat dirasakan lebih luas.
Direktur PT RME, Rizal Wijaya, menjelaskan bahwa penggunaan CNG menawarkan efisiensi biaya yang cukup signifikan dibandingkan bahan bakar Elpiji. Berdasarkan uji coba yang dilakukan selama sepekan terakhir, penghematan biaya operasional dapur mencapai sekitar 25 hingga 30 persen.
“Secara pemakaian, CNG terbukti lebih hemat sekitar 25 sampai 30 persen. Harganya juga lebih murah dibandingkan Elpiji. Dari sisi keamanan, risikonya sangat rendah selama seluruh prosedur operasional dan standar HSE (Health, Safety, and Environment) dipatuhi,” jelas Rizal.
Ia memastikan ketersediaan pasokan CNG dalam kondisi aman karena PT RME telah menjalin kerja sama dengan produsen CNG di Semarang untuk memenuhi kebutuhan pasar di Rembang.
Peluncuran penggunaan CNG di lingkungan MBG juga menjadi tonggak penting bagi PT RME. Setelah vakum lebih dari tiga tahun, perusahaan daerah tersebut mulai bangkit dengan fokus pada bisnis perdagangan atau trading CNG yang dinilai memiliki prospek menjanjikan.
Meski memulai usaha dengan keterbatasan modal, Rizal optimistis PT RME dapat memberikan kontribusi pendapatan bagi daerah dalam waktu relatif singkat.
“Target kami, minimal 50 persen dari total SPPG di Kabupaten Rembang menggunakan layanan CNG dari PT RME. Jika target tersebut tercapai, insya Allah dalam satu tahun ke depan kami sudah bisa memberikan dividen kepada Pemerintah Kabupaten Rembang,” katanya.
Selain mendukung operasional Program Makan Bergizi Gratis, PT RME juga mulai memperluas pasar ke sektor industri kecil dan menengah (IKM), perhotelan, serta usaha kuliner. Sejumlah instalasi Pressure Regulating System (PRS) dilaporkan mulai dipasang di beberapa lokasi pelanggan dari sektor tersebut.
Langkah ini diharapkan tidak hanya meningkatkan efisiensi operasional berbagai sektor usaha, tetapi juga memperkuat peran PT RME sebagai BUMD yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi daerah melalui pemanfaatan energi yang lebih efisien dan kompetitif. (*)
Apa Reaksi Anda?