Harmoni Lintas Iman di Malang Menguat, Tapi Regulasi Toleransi Masih Mandek di Meja Birokrasi

Perayaan 1 Abad NU di Kota Malang menampilkan harmoni lintas iman. Namun di balik itu, upaya regulasi toleransi masih tersendat dan belum tuntas.

April 14, 2026 - 11:30
Harmoni Lintas Iman di Malang Menguat, Tapi Regulasi Toleransi Masih Mandek di Meja Birokrasi

JAKARTA - Perayaan Hari Lahir 1 Abad Nahdlatul Ulama (NU) pada 7–8 Februari 2026 di Kota Malang menjadi potret langka harmoni lintas iman dan kolaborasi sosial berskala besar. Ratusan ribu jemaah memadati kota pelajar tersebut, sementara berbagai elemen masyarakat bekerja bersama tanpa sekat.

NU, Muhammadiyah, komunitas Kristiani, hingga aparatur sipil negara (ASN) terlibat dalam satu ekosistem gotong royong. Salah satu contoh paling nyata adalah Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) yang membuka kompleksnya sebagai lokasi transit sekitar 1.000 jemaah NU dari Surabaya.

“Ini bukan hanya soal tempat, tetapi tentang persaudaraan,” ujar Pendeta Natael Hermawan Prianto.

Fenomena ini memperlihatkan kuatnya relasi sosial lintas iman di tingkat akar rumput. Di Desa Sidodadi, Kecamatan Gedangan, warga Muslim dan Kristiani telah hidup berdampingan sejak 1984. Masjid dan gereja berdiri berdekatan, sementara anak-anak tumbuh dalam ruang sosial yang inklusif.

Namun, di balik harmoni tersebut, tantangan struktural masih mengemuka. Akademisi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Dr. Mohammad Mahpur, menilai bahwa kerukunan sosial belum sepenuhnya ditopang oleh regulasi yang kuat. Upaya penyusunan kebijakan toleransi bahkan sempat mandek di tingkat birokrasi.

Sejak 2020, inisiatif penyusunan Peraturan Wali Kota (Perwali) tentang toleransi telah digagas dan melibatkan berbagai pihak. Draf kebijakan tersebut bahkan telah mencapai tahap pembahasan lintas elemen dan dinilai progresif, termasuk usulan perubahan mekanisme syarat pendirian rumah ibadah.

Namun, hingga kini draf tersebut tidak kunjung disahkan dan terhenti di meja birokrasi.

Di sisi lain, data menunjukkan paradoks. Jawa Timur memiliki Indeks Kerukunan Umat Beragama yang tinggi, namun Kota Malang tidak masuk dalam 10 besar Indeks Kota Toleran versi SETARA Institute.

Perbedaan ini menegaskan satu hal: harmoni sosial di Malang tumbuh kuat di masyarakat, tetapi masih belum sepenuhnya diperkuat oleh kebijakan dan sistem tata kelola yang inklusif.

Baca laporan lengkap dan analisis mendalam hanya di Teras.id.(*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow