Giriasih Gelar Tradisi Bersih Kali Pego, Wujud Syukur dan Edukasi Menjaga Sumber Air
Suasana kebersamaan dan rasa syukur menyelimuti kawasan Kali Pego di Padukuhan Ngoro-Ngoro, Kalurahan Giriasih, Kapanewon Purwosari, Kabupaten Gunungkidul.
GUNUNGKIDUL - Suasana kebersamaan dan rasa syukur menyelimuti kawasan Kali Pego di Padukuhan Ngoro-Ngoro, Kalurahan Giriasih, Kapanewon Purwosari, Kabupaten Gunungkidul.
Ratusan warga dari tiga padukuhan yakni Trasih, Ngoro-Ngoro, dan Wonolagi berkumpul mengikuti tradisi adat ' Bersih Kali Pego' sebuah warisan budaya leluhur yang terus dijaga hingga kini.
Tradisi yang digelar setiap selesai panen tersebut tidak hanya menjadi sarana doa bersama, namun juga mengandung nilai edukasi tentang pentingnya menjaga kelestarian sumber air. Di tengah kondisi wilayah selatan Gunungkidul yang identik dengan kekeringan saat musim kemarau, keberadaan sumber air Kali Pego menjadi anugerah besar bagi masyarakat setempat.
Warga membawa berbagai makanan untuk kenduri bersama di sekitar sumber air. Doa-doa dipanjatkan sebagai ungkapan syukur kepada Allah SWT atas keberadaan mata air yang selama puluhan tahun tidak pernah kering.
Nuansa gotong royong dan kekeluargaan tampak kuat dalam prosesi adat yang diwariskan turun-temurun tersebut.
Lurah Giriasih, Suwitono, mengatakan tradisi Bersih Kali Pego telah dilakukan sejak zaman nenek moyang sebagai bentuk penghormatan sekaligus rasa syukur atas sumber kehidupan bagi masyarakat tiga padukuhan. Dahulu, warga harus mengambil air secara manual menggunakan jeriken untuk kebutuhan sehari-hari.
“Sekarang air sudah bisa dinikmati langsung di rumah-rumah warga melalui program Pamsimas. Kurang lebih enam tahun terakhir pengelolaan air semakin baik sehingga masyarakat lebih mudah mendapatkan air bersih,” ujarnya, Sabtu (23/5/2026).
Ia menjelaskan, pengelolaan sumber air tersebut juga memberikan manfaat ekonomi bagi kalurahan melalui pendapatan asli desa (PAD). Hasil pengelolaan kemudian dimanfaatkan kembali untuk pembangunan infrastruktur dan kesejahteraan masyarakat.
“Dari hasil pengelolaan ini lingkungan sekitar sumber air juga menjadi lebih bersih dan tertata dibanding dahulu,” katanya.
Panewu Purwosari, Subiyantoro, mengapresiasi masyarakat yang masih menjaga tradisi leluhur di tengah perkembangan zaman. Menurutnya, tradisi Bersih Kali Pego menjadi pengingat pentingnya menjaga hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Tuhan.
“Tradisi seperti ini patut dilestarikan karena mengajarkan masyarakat untuk menjaga keseimbangan alam sekaligus melestarikan budaya lokal,” ungkapnya.
Sementara itu, juru kunci Goa Pego, Mulyadi, menuturkan kenduri dalam tradisi Bersih Kali Pego merupakan simbol rasa syukur atas limpahan nikmat sumber air yang selama ini mencukupi kebutuhan warga.
“Adat bersih kali ini sudah ada sejak nenek moyang dan sampai sekarang masih terus dilestarikan. Harapannya sumber air tetap lestari, warga selalu sehat, sejahtera, dan kehidupan masyarakat tetap rukun,” katanya.
Tradisi Bersih Kali Pego menjadi bukti bahwa budaya lokal tidak hanya berfungsi sebagai ritual adat, tetapi juga menjadi media edukasi lingkungan. (*)
Apa Reaksi Anda?