Fenomena Balap Liar Jelang Berbuka Puasa di Kota Tasikmalaya, Ketua IMI Angkat Bicara
IMI Tasikmalaya nilai balap liar saat Ramadan akibat minimnya fasilitas otomotif. Dorong Pemkot sediakan sirkuit resmi dan edukasi untuk salurkan bakat muda secara aman dan legal.
TASIKMALAYA Fenomena balap liar jelang berbuka puasa kembali merebak di sejumlah ruas jalan di Kota Tasikmalaya, salah satunya di Jalan Letnan Mashudi seperti yang telah diberitakan di TIMES Indonesia yang bertajuk "Jalan Letjen Mashudi Kota Tasikmalaya Jadi Lokasi Favorit Balap Liar Saat Ramadan".
Balapan liar yang kerap muncul saat waktu ngabuburit hingga menjelang sahur ini bukan sekadar pelanggaran lalu lintas biasa.
Aktivitas tersebut telah lama menjadi persoalan serius karena membahayakan keselamatan pelaku balap, pengendara lain, hingga masyarakat yang melintas. Ironisnya, meski kerap ditertibkan, praktik ini terus berulang dan seolah menjadi “tradisi tahunan” setiap Ramadan.
Ketua Pengurus Cabang Ikatan Motor Indonesia (IMI) Kota Tasikmalaya, H. Tantan Shadir Soniawan, akhirnya angkat bicara menanggapi maraknya balap liar tersebut.
Ia mengungkap bahwa pihaknya telah menerima banyak informasi terkait aktivitas berbahaya ini.
“Balapan liar ini sudah kami ketahui dari berbagai laporan masyarakat, pegiat otomotif, bahkan informasi dari pengurus IMI Jawa Barat,” ujar Shadir kepada TIMES Indonesia saat ditemui di salah satu kedai kopi di kawasan jalan RAA Wiratanuningrat, Sabtu (21/2/2026) malam.
Menurutnya, fenomena ini tidak bisa semata-mata dilihat sebagai aksi kenakalan remaja. Ada persoalan struktural yang lebih dalam. Salah satunya minimnya fasilitas dan ruang penyaluran hobi otomotif di Kota Tasikmalaya.
“Bisa jadi balap liar ini merupakan dampak dari tidak tersedianya sirkuit resmi atau wadah latihan yang memadai bagi anak-anak muda yang kelebihan energi serta memiliki minat dan bakat di dunia otomotif,” jelasnya.
Shadir menegaskan, balapan liar sangat jauh dari standar keselamatan olahraga otomotif. Tidak ada pengaturan lintasan, tidak ada jeda start yang aman, serta minim bahkan tanpa penggunaan perlengkapan keselamatan seperti helm standar, sarung tangan, maupun pelindung tubuh lainnya.
“Kalau dalam drag bike itu adu kecepatan dua pengendara, satu kali start dan ada jeda. Sedangkan ini kan bergerombol, tidak terkontrol. Tentunya ini sangat membahayakan sekali,” tegasnya.
Kondisi tersebut menjadi semakin rawan karena balapan kerap dilakukan saat jam padat, terutama menjelang berbuka puasa dan waktu sahur, ketika aktivitas masyarakat di jalan masih tinggi.
IMI Kota Tasikmalaya mengaku pernah melakukan koordinasi dengan pihak kepolisian pada periode kepemimpinan Kapolres sebelumnya. Namun untuk kepemimpinan saat ini, komunikasi tersebut belum kembali terjalin secara intens.
Selain itu, Shadir mengungkapkan bahwa sebelumnya lintasan di Lanud Wiriadinata pernah digunakan sebagai tempat latihan para pembalap otomotif, termasuk drag bike, untuk mengasah kemampuan secara terarah dan aman.
“Dengan Pak Danlanud secara langsung memang belum, tapi dengan stafnya sudah. Sekitar sebulan lalu, menjelang Ramadan, kami mengajukan agar latihan bisa dibuka setiap hari Minggu selama bulan puasa. Insyaallah hari Senin saya akan menghadap langsung Pak Danlanud,” ungkap Shadir.
Shadir selaku Ketua IMI Kota Tasikmalaya berharap dapat membuka ruang diskusi dengan Pemerintah Kota, khususnya Wali Kota Tasikmalaya, guna mencari solusi komprehensif terhadap maraknya balap liar.
Menurut IMI, penanganan balap liar tidak cukup hanya dengan penindakan hukum, tetapi juga perlu pendekatan edukatif dan fasilitatif.
Salah satunya dengan mengundang langsung para pelaku balap liar untuk diberi pemahaman tentang risiko hukum, keselamatan, dan masa depan mereka.
“Kami ingin mengedukasi, bukan sekadar melarang. Anak-anak muda ini perlu diarahkan, bukan dimatikan potensinya,” ujarnya.
Sebagai solusi jangka panjang, IMI mendorong pemerintah daerah untuk menyediakan sirkuit atau menggelar event balap resmi, baik drag race maupun road race, khususnya drag bike yang saat ini banyak digandrungi oleh para pebalap liar.
Bahkan, menurut IMI, pemanfaatan ruas jalan tertentu seperti Jalan Lingkar Baru JB bisa menjadi alternatif sirkuit drag sementara, tentu dengan pengawasan ketat dan standar keselamatan maksimal.
“Pemerintah daerah bisa membangun koordinasi dengan Lanud Wiriadinata atau menyiapkan lintasan yang terkontrol. Yang penting aman dan legal,” kata Shadir.
IMI juga menilai, program atau event otomotif resmi yang digelar secara rutin akan menjadi wadah positif bagi generasi muda untuk menyalurkan minat dan bakat mereka, sekaligus menekan angka balap liar di jalan umum.
Menutup pernyataannya, Ketua IMI Kota Tasikmalaya mengimbau para pelaku balap liar serta orang tua agar lebih peduli terhadap risiko yang ditimbulkan.
“Ini bukan hanya soal tilang atau razia. Ini soal keselamatan, soal masa depan generasi muda. Jangan sampai hobi justru berujung pada penyesalan,” pungkasnya.
Persoalan ini menurut Shadir membutuhkan solusi bersama antara komunitas otomotif, aparat penegak hukum, pemerintah daerah, dan keluarga.
Apa Reaksi Anda?