Duka Istri Korban Tragedi Tower Purwaharja: Menanti Tanggung Jawab Pemberi Kerja
Keluarga korban meninggal akibat tower roboh di Purwaharha Banjar menuntut tanggung jawab pemberi kerja yang sampai saat ini belum jelas.
BANJAR - Suasana duka masih menyelimuti kediaman Robiyanti (30) di RT 04 RW 01, Dusun Cijambu, Desa Cibeureum, Kecamatan Banjar, Kota Banjar.
Dua tahun membina rumah tangga bersama Apip Kusmayadi (31), kini ia harus menerima kenyataan pahit bahwa sang suami telah pergi untuk selamanya.
Apip menjadi salah satu korban tewas bersama rekan kerjanya, Endut Kuswara (46), warga Panatasan akibat robohnya tower di kompleks perkantoran Purwaharja, Kota Banjar pada Sabtu pagi kemarin (4/7/2026).
Kepergian mendadak ini meninggalkan trauma mendalam, tak terkecuali bagi anak sambubg Almarhum yang masih berusia 3 tahun yang kini kerap mengigau dan menanyakan keberadaan ayah sambungnya setiap malam.
Firasat dan Rencana 'Botram' yang Kandas
Ditemui di kediamannya, Yanti, sapaan akrab Robiyanti, mengaku tidak memiliki firasat aneh sebelum suaminya berangkat kerja pada hari nahas tersebut. Almarhum berpamitan seperti biasa sekitar pukul 05.30 WIB demi menghindari cuaca panas.
"Aa sempat bilang, rencananya naik dari jam 06.00 pagi dan mau turun jam 10.00 siang. Nanti dilanjut lagi sore biar gak kepanasan," kenang Yanti lirih saat ditemui di kediamannya, Minggu (5/7/2026).
Bahkan, almarhum sudah merencanakan untuk menyusul acara makan bersama keluarga (botram) di kawasan Karang Pucung setelah turun dari tower siang itu. Melalui pesan singkat Whatsapp terakhir pada pukul 07.00 WIB, Apip mengabarkan bahwa dirinya bersiap untuk naik ke tower setinggi 80 meter tersebut, yang pengerjaannya menyisakan 40 meter terakhir.
Namun, rencana tinggal rencana. Sekitar pukul 08.30 WIB, saat Yanti sedang memompa ban motor bersiap pergi, sebuah telepon dari adiknya memecah ketenangan.
"Adik saya menelepon sambil menangis, memberi tahu kalau Aa sudah jatuh," tuturnya.
Upah Borongan Belum Dibayar, Keberadaan Pemberi Kerja Misterius
Tragedi ini menyisakan persoalan pelik terkait status kerja almarhum. Menurut penuturan Yanti, proyek penurunan tower tersebut merupakan kerja borongan perorangan, bukan di bawah naungan perusahaan resmi.
Proyek tersebut dipercayakan oleh seseorang bernama Cecep dengan sistem upah borongan sebesar Rp1.000.000 per orang untuk target kerja selama tiga hari.
"Suami saya cerita, upah borongannya Rp1 juta per orang untuk tiga hari kerja sampai beres. Kalau yang bantu di bagian bawah diupah Rp150 ribu per hari. Tapi sampai Aa meninggal, sepeser pun belum ada bayaran yang kami terima," ungkap Yanti.
Pihak keluarga kini menyayangkan sikap Cecep yang hingga saat ini belum menunjukkan iktikad baik untuk mendatangi rumah duka maupun menemui pihak keluarga. Keberadaan pemberi kerja tersebut bahkan saat ini masih dicari oleh pihak keluarga.
"Kami hanya ingin iktikad baik dan pertanggungjawabannya. Jangan sampai dicari-cari malah tidak ketemu. Nyawa suami saya tidak bisa diganti dengan uang, tapi tolong datangi kami, bagaimana pertanggungjawabannya untuk keluarga yang ditinggalkan," tegasnya.
Berdasarkan cerita almarhum semasa hidup, Apip memang merupakan pekerja yang sudah sangat berpengalaman memanjat tower sejak ia bekerja di Jakarta. Namun, pada proyek terakhirnya ini, almarhum sempat mengeluhkan beberapa rekan kerja yang kurang berpengalaman sehingga menghambat proses teknis di lapangan.
Barang Bukti Masih Ditahan Polresta Banjar
Hingga hari kedua pasca-kejadian, pihak kepolisian dari Polres Banjar telah mengembalikan dompet milik almarhum kepada Yanti. Meski demikian, beberapa barang personal milik korban masih diamankan oleh petugas.
"Dompet sudah dikembalikan oleh polisi, tapi kartu ATM-nya masih saya cari karena gak ada. Sementara untuk HP dan sepeda motor milik almarhum saat ini masih ditahan oleh Polres Banjar sebagai barang bukti," pungkas Yanti.
Kini, pihak keluarga berharap aparat penegak hukum dapat mengusut tuntas legalitas dan standar keselamatan kerja proyek tersebut, sekaligus membantu memediasi hak-hak korban yang hingga kini masih terkatung-katung. (*)
Apa Reaksi Anda?