Dosen Unipma Hadir di Festival Samin, Dorong Kolaborasi Akademik Berbasis Kearifan Lokal
Sejumlah akademisi Unipma Madiun (Universitas PGRI Madiun) berpartisipasi sebagai narasumber dalam Festival Samin ke-10 yang berlangsung di Desa Jepang, Kabupaten Bojonegoro
MADIUN - Sejumlah akademisi Unipma Madiun (Universitas PGRI Madiun) berpartisipasi sebagai narasumber dalam Festival Samin ke-10 yang berlangsung di Desa Jepang, Kabupaten Bojonegoro, Kamis (17/6/2026). Kehadiran para dosen tersebut menjadi bagian dari upaya perguruan tinggi dalam memperluas kontribusi kepada masyarakat melalui pengembangan budaya lokal, penelitian, dan pengabdian.
Tim Unipma Madiun yang terlibat dalam kegiatan tersebut terdiri atas dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Dr. Aris Wuryantoro, S.S., M.Hum., Drs. Sumani, M.M., dosen Pendidikan Sejarah Dr. Novi Triana Habsari, S.Pd., M.Pd., serta Wakil Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unipma Dr. Edy Suprapto, S.Si., M.Pd.
Dalam kesempatan tersebut, Dr. Aris Wuryantoro menyampaikan bahwa keterlibatan Unipma Madiun tidak sekadar memenuhi undangan sebagai pembicara. Menurutnya, festival budaya tersebut juga membuka peluang kerja sama yang dapat dikembangkan antara perguruan tinggi dan masyarakat berbasis potensi budaya lokal.
Ia menilai kawasan budaya Sedulur Sikep di Bojonegoro memiliki peluang besar untuk dijadikan ruang pengembangan berbagai program akademik. Potensi tersebut dapat dimanfaatkan dalam kegiatan penelitian, pengabdian kepada masyarakat, hingga pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) mahasiswa.
“Ke depannya, potensi ini sangat menarik untuk dikemas dan ditindaklanjuti, baik untuk keperluan penelitian, pengabdian masyarakat, maupun program Kuliah Kerja Nyata mahasiswa,” ujar Aris.
Lebih lanjut, Aris menjelaskan bahwa ajaran yang masih dipraktikkan masyarakat Sedulur Sikep mengandung berbagai nilai sosial yang tetap relevan dalam kehidupan masa kini. Nilai-nilai tersebut dinilai dapat menjadi sumber pembelajaran sekaligus sarana penguatan karakter bagi generasi muda.
Beberapa prinsip yang dijunjung masyarakat Sedulur Sikep antara lain kejujuran, kesabaran, dan sikap menerima kehidupan dengan lapang. Selain itu, terdapat ajaran yang menekankan pentingnya menghindari rasa iri, keserakahan, serta kemarahan yang berlebihan.
Masyarakat Sedulur Sikep juga memegang teguh prinsip kehati-hatian dalam berbicara dan bertindak. Setiap ucapan maupun tindakan diharapkan berlandaskan kebenaran serta norma yang berlaku. Selain itu, mereka menjunjung tinggi penghormatan terhadap hak milik orang lain dan menolak perlakuan diskriminatif terhadap sesama manusia.
Menurut Aris, nilai-nilai tersebut memiliki relevansi kuat dalam kehidupan sosial modern, termasuk dalam memperkuat moderasi sosial, kehidupan berbangsa, dan toleransi di tengah masyarakat yang beragam.
“Prinsip tidak membeda-bedakan manusia menjadikan ajaran Sedulur Sikep sangat tepat dijadikan role model dalam moderasi sosial,” katanya.
Partisipasi dosen Unipma Madiun dalam Festival Samin menjadi wujud pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat. Melalui pendekatan budaya dan pendidikan, Unipma Madiun terus memperkuat komitmennya sebagai perguruan tinggi yang aktif mengembangkan penelitian dan pengabdian berbasis kearifan lokal Indonesia. (*)
Apa Reaksi Anda?