Donald Trump Serang Paus Leo XIV soal Iran, Sebut ‘Buruk untuk Kebijakan Luar Negeri’
Trump menyerang Paus Leo XIV usai kritik perang Iran. Konflik politik dan moral global kian memanas antara Gedung Putih dan Vatikan.
JAKARTA - Ketegangan geopolitik global kini merambah ranah moral dan keagamaan. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara terbuka melancarkan serangan verbal terhadap Paus Leo XIV, menyusul kritik keras Vatikan terhadap perang Iran yang dipimpin Washington.
Dalam unggahan di media sosial Truth Social, Donald Trump menyebut Paus Leo XIV sebagai sosok yang “lemah dalam urusan kriminal” dan “buruk dalam kebijakan luar negeri.” Ia bahkan mengklaim memiliki andil dalam terpilihnya paus asal Chicago tersebut, sebuah pernyataan tanpa dasar yang memicu kontroversi luas.
Konflik Iran Jadi Titik Ledak
Serangan Donald Trump itu muncul setelah Paus Leo XIV berulang kali mengkritik keras eskalasi militer Amerika Serikat di Iran. Dalam sejumlah kesempatan, pemimpin Gereja Katolik itu menegaskan bahwa perang hanya akan memperdalam krisis kemanusiaan.
Dalam khotbahnya, Paus Leo menegaskan bahwa “Yesus adalah Raja Damai yang menolak perang,” sekaligus mengingatkan bahwa agama tidak boleh digunakan untuk membenarkan kekerasan. Ia juga menyebut ancaman penghancuran peradaban Iran sebagai tindakan yang “tidak dapat diterima” dan melanggar hukum internasional.
Tak hanya itu, Vatikan juga memperingatkan bahwa serangan terhadap infrastruktur sipil bertentangan dengan prinsip kemanusiaan global, sebuah kritik yang secara implisit mengarah pada kebijakan militer Washington.
Trump: Paus Terlalu Politis
Menanggapi kritik tersebut, Trump justru menuduh Paus Leo XIV “berpihak pada kelompok kiri radikal” dan bertindak layaknya politisi, bukan pemimpin spiritual. Ia juga menegaskan tidak menginginkan pemimpin gereja yang menentang kebijakan luar negeri Amerika, termasuk operasi militer di Iran dan Venezuela.
Dalam retorika yang semakin tajam, Trump bahkan menyebut Paus seharusnya “berterima kasih,” karena tanpa dirinya, Leo tidak akan berada di Vatikan. Sebuah klaim yang mempertegas eskalasi personal dalam konflik ini.
Vatikan berulang kali menilai perang berpotensi menciptakan “spiral kekerasan tanpa akhir,” sementara Washington justru meningkatkan tekanan militer, termasuk rencana blokade strategis di kawasan Teluk.
Paus Leo XIV menutup seruannya dengan pesan yang sederhana namun kuat: “Cukup dengan perang. Saatnya damai.”
Namun, di tengah eskalasi militer dan retorika keras dari Washington, pesan tersebut tampaknya masih jauh dari realitas. (*)
Apa Reaksi Anda?