Bupati Mappi Bangun Masa Depan Masyarakat Melalui Pendidikan di UNJ

Setiap tanggal 2 Mei, bangsa Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional sebagai momentum refleksi atas perjalanan panjang pendidikan nasional.

Mei 5, 2026 - 09:00
Bupati Mappi Bangun Masa Depan Masyarakat Melalui Pendidikan di UNJ

JAKARTA - Setiap tanggal 2 Mei, bangsa Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional sebagai momentum refleksi atas perjalanan panjang pendidikan nasional. Tahun ini, refleksi itu menemukan gaungnya hingga ke ujung timur Indonesia, tepatnya di Kabupaten Mappi, Provinsi Papua Selatan.

Di tengah berbagai tantangan geografis dan keterbatasan akses, Bupati Mappi, Kristosimus Yohanes Agawemu, menghadirkan sebuah terobosan strategis melalui Program Seribu Sarjana. Program ini dinilai sebagai implementasi nyata dari gagasan besar Ki Hajar Dewantara dan semangat global yang pernah disuarakan oleh Nelson Mandela tentang pendidikan sebagai alat transformasi sosial.

Program tersebut tidak sekadar kebijakan administratif, melainkan lahir dari realitas sosial masyarakat Mappi yang selama ini menghadapi keterbatasan akses pendidikan tinggi. Dengan pembiayaan penuh dari APBD, lebih dari 1.300 mahasiswa telah diberangkatkan ke berbagai perguruan tinggi dalam dan luar negeri, termasuk ke Universitas Negeri Jakarta (UNJ).

Pelaksana Harian (Plh) Rektor UNJ sekaligus Wakil Rektor Bidang Akademik, Kemahasiswaan, dan Alumni, Prof. Ifan Iskandar, menilai bahwa langkah yang diambil Pemerintah Kabupaten Mappi merupakan bentuk keberanian kebijakan yang berbasis pada visi jangka panjang pembangunan manusia.

“Program Seribu Sarjana yang diinisiasi oleh Bupati Mappi merupakan contoh konkret bagaimana pendidikan dijadikan sebagai instrumen transformasi sosial yang berkelanjutan. Ini bukan sekadar program beasiswa, tetapi investasi peradaban yang akan menentukan arah masa depan daerah. Semoga program ini terus menjadi role model bagi daerah lain, baik di level kota, kabupaten, hingga provinsi,” ujar Prof. Ifan dalam keterangannya.

Ia menambahkan bahwa kehadiran mahasiswa Mappi di UNJ menunjukkan komitmen kuat terhadap inklusivitas pendidikan.

“Kami melihat ada keberanian luar biasa dalam kebijakan ini, terutama dalam mendorong partisipasi perempuan dari daerah 3T untuk mengakses pendidikan tinggi. UNJ tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga ruang pembentukan karakter, adaptasi sosial, dan penguatan kapasitas kepemimpinan generasi muda Papua,” lanjutnya.

Lebih jauh, Prof. Ifan menegaskan bahwa UNJ tidak hanya berperan sebagai institusi penerima mahasiswa, tetapi juga tengah membangun model pendidikan khusus yang dirancang secara komprehensif bagi mahasiswa asal Mappi. Model ini mencakup proses seleksi yang kontekstual, program matrikulasi untuk penguatan akademik awal, pendampingan psikologis selama masa studi, hingga pelibatan mahasiswa dalam research-based project yang dilaksanakan saat masa liburan.

“Pendekatan ini kami rancang agar mahasiswa tidak hanya mampu bertahan secara akademik, tetapi juga tumbuh secara mental, sosial, dan intelektual. Melalui research-based project, mahasiswa tetap terhubung dengan realitas sosial daerahnya, sehingga ilmu yang diperoleh dapat langsung dikontekstualisasikan untuk pembangunan Mappi,” jelasnya.

Bupati Mappi dan UNJ - 1

Menurut Prof. Ifan, pendekatan yang dilakukan Bupati Mappi juga mencerminkan filosofi pendidikan progresif yang menempatkan pemimpin tidak hanya sebagai pengambil kebijakan, tetapi sebagai agen perubahan yang hadir langsung di tengah masyarakat.

“Apa yang dilakukan Bupati Mappi mencerminkan nilai ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani. Ini adalah praktik kepemimpinan pendidikan yang utuh, dalam hal memberi teladan, membangun semangat, dan mendorong dari belakang,” tegasnya.

Program ini juga mendapat perhatian karena keberpihakannya pada kelompok yang selama ini termarjinalkan. Sebanyak 100 mahasiswi asal Mappi saat ini tengah menempuh pendidikan di UNJ sebagai bagian dari afirmasi pendidikan perempuan. Langkah ini dinilai penting untuk memutus rantai ketimpangan gender dalam akses pendidikan di wilayah tersebut.

Di sisi lain, Bupati Mappi menegaskan bahwa kebijakan ini merupakan bentuk tanggung jawab moral kepada masyarakatnya.

“Mungkin saya yang menanam, tetapi pemimpin berikutnya yang akan memetik hasilnya. Namun yang terpenting adalah memastikan bahwa generasi muda Mappi memiliki masa depan,” ujarnya dalam sebuah kesempatan.

Selain pengiriman mahasiswa, Pemerintah Kabupaten Mappi juga mengembangkan pendekatan berbasis teknologi melalui inisiatif Mappi AI Hub yang diperkenalkan pada peringatan Hardiknas tahun sebelumnya. Program ini bertujuan memperkuat kualitas pembelajaran di tingkat dasar dan menengah, terutama di wilayah terpencil.

Bagi banyak pihak, langkah yang dilakukan Kabupaten Mappi menjadi contoh bahwa pembangunan pendidikan tidak selalu harus dimulai dari pusat, tetapi dapat tumbuh dari daerah dengan kepemimpinan yang memiliki visi dan keberanian.

Sejalan dengan semangat Nelson Mandela yang menyebut pendidikan sebagai “senjata paling ampuh untuk mengubah dunia”, Mappi kini tengah membuktikan bahwa perubahan besar dapat dimulai dari tempat yang selama ini dipandang sebagai pinggiran.

Dan di sanalah, di antara sungai-sungai yang tenang dan kampung-kampung yang jauh dari hiruk pikuk kota, pendidikan tidak lagi sekadar wacana. Ia telah menjadi gerakan. Sebuah gerakan yang perlahan, tetapi pasti, sedang mengubah masa depan.

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow