Bukan yang Pertama, Banjir di Kraksaan Probolinggo Terparah Sepanjang Sejarah

Banjir bandang Probolinggo pecahkan rekor terparah di Kraksaan. Ketinggian air di Sidomukti capai 1,5 meter, jembatan ambruk, dan evakuasi warga terus berlanjut.

Februari 22, 2026 - 22:00
Bukan yang Pertama, Banjir di Kraksaan Probolinggo Terparah Sepanjang Sejarah

Bencana banjir bandang yang menerjang Kabupaten Probolinggo pada Minggu (22/2/2026) dini hari, mencatatkan Kecamatan Kraksaan sebagai titik dengan dampak paling parah dibandingkan kecamatan lainnya. Bencana itu sekaligus menjadi rekor banjir terparah di kawasan tersebut selama ini.

PROBOLINGGO Meski berskala masif dan melumpuhkan banyak sektor, musibah luapan air ini rupanya bukanlah kejadian yang sama sekali baru bagi warga setempat. Wilayah Kraksaan yang menjadi ibu kota Kabupaten Probolinggo, khususnya di area Kelurahan Sidomukti, memiliki rekam jejak sebagai daerah yang kerap dilanda banjir.

Selama beberapa tahun terakhir, permukiman warga yang lokasinya berdekatan langsung dengan aliran sungai memang sering menjadi langganan luapan air. Namun, pada kejadian-kejadian sebelumnya, intensitas dan volume air masih relatif kecil dan tidak menimbulkan kelumpuhan total seperti saat ini.

Fakta ini ditegaskan oleh Romadona, Ketua RT 1 Dusun Patemon, Kelurahan Sidomukti. Ia menampik anggapan jika banjir kali ini adalah fenomena alam yang baru pertama kali terjadi di wilayahnya.

"Kalau ini yang pertama kali rasanya tidak benar. Bulan lalu juga banjir cuman tidak besar," ungkap Romadona saat ditemui di lokasi.

Banjir-Kraksaan-Probolinggo-2.jpg

Meski terbiasa dengan genangan air luapan sungai, Romadona mengakui bahwa skala bencana hari ini benar-benar di luar dugaan warga. "Dan ini yang paling besar selama saya hidup di Kraksaan," tambahnya dengan nada terkejut.

Ketinggian air dari luapan aliran sungai di belakang rumahnya mencapai 1 meter. Di beberapa titik lain, ketinggian air ada yang mencapai 1.5 meter. Tak heran jika wilayah itu menjadi salah satu yang terparah di Kecamatan Kraksaan. Selain lokasinya yang lebih rendah dari jalan, wilayah tersebut juga dikelilingi oleh aliran sungai.

"Di tempat saya sekitar 1 meter. Di RT sebelah ada yang sampai 1.5 meter. Ini yang terparah selama ini," jelasnya.

Hingga saat ini, tim gabungan terus melakukan evakuasi dan penanganan pasca bencana. Evakuasi diprioritaskan pada anak-anak, lansia dan ibu hamil. Termasuk memenuhi kebutuhan warga terdampak.

"Kami tetap mengutamakan evakuasi terlebih dahulu. Seluruh alat dan tim kami kerahkan. Dibantu oleh seluruh anggota lainnya," ungkap Kepala BPBD Kabupaten Probolinggo, Oemar Sjarief.

Selain rumah warga, sejumlah akses penghubungan juga ikut terdampak. Ada beberapa jembatan yang ambruk dan jalan yang rusak akibat bencana tersebut. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow