Atasi Kekeringan, Petani di Lebak Beralih Tanam Sayur Dataran Rendah

Menghadapi kemarau panjang, petani di Kabupaten Lebak mengalihkan lahan sawah kering untuk budi daya sayuran dataran rendah yang hemat air dan bernilai ekonomi tinggi.

Juli 26, 2026 - 09:00
Atasi Kekeringan, Petani di Lebak Beralih Tanam Sayur Dataran Rendah

LEBAK - Memasuki bulan kedua musim kemarau, sejumlah petani di Kabupaten Lebak, Banten, memutar otak agar lahan pertanian mereka tetap produktif. Mereka memilih beralih mengolah tanaman sayuran dataran rendah yang minim penggunaan air ketimbang memaksakan menanam padi di tengah ancaman kekeringan.

‎"Kami beralih ke pertanian sayuran karena menguntungkan dibandingkan tanaman padi yang mengalami kekeringan," kata Yana (55), seorang petani di Warunggunung, Kabupaten Lebak, Banten, dilansir Antara, Minggu (26/7/2026).

Langkah efisiensi ini terbukti menjanjikan. Selain hemat air—karena hanya membutuhkan penyiraman rutin pada pagi dan sore hari—hasil panen sayuran dataran rendah ini memiliki daya serap pasar yang tinggi. Salah satu pendorong utamanya adalah melonjaknya permintaan bahan pangan untuk memenuhi kebutuhan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Lahan-lahan persawahan yang semula retak dan menganggur kini disulap menjadi komoditas pangan bernilai tinggi, seperti pare, kacang panjang, dan mentimun yang memiliki siklus panen singkat, yakni 40 hari setelah tanam.

"Kami dan petani lainnya di sini mengembangkan sayuran paria, kacang panjang dan ketimun dengan masa panen 40 hari setelah tanam," katanya menjelaskan.

Dari segi ekonomi, harga jual komoditas sayur di tingkat petani saat ini tergolong stabil dan menguntungkan, yakni berada di kisaran Rp8.000 per kilogram. Dalam satu petak lahan, petani mampu memanen hingga dua ton per pekan.

‎"Kami setiap pekan bisa menjual produksi sayuran jenis ketimun dan kacang panjang dan jika menjual dua ton dengan harga Rp8.000 bisa menghasilkan uang Rp14 juta. Panen tanaman sayuran bisa dipanen delapan kali," katanya menjelaskan.

Kondisi serupa dirasakan Iming (55), petani asal Desa Tambakbaya, Kecamatan Cibadak. Mengingat sebagian besar sawah di wilayahnya mengering akibat kemarau, ia memilih membudidayakan mentimun dan kacang panjang yang sudah mengantongi kepastian pembeli dari pihak pengepul.

‎"Kami sekali musim panen bisa mendapatkan sekitar Rp10 juta dari lahan seluas 5.000 meter persegi, itu per pekan," katanya.

Merespons fenomena ini, Kepala Bidang Produksi Dinas Pertanian Kabupaten Lebak, Dodi Hermawan, mendorong para petani untuk memasifkan budi daya sayuran dataran rendah. Imbauan ini sejalan dengan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang memperkirakan kemarau akan berlangsung hingga November mendatang.

‎"Kita berharap ke depan petani bisa mengganti pola tanam dari padi sawah ke tanaman sayuran untuk meningkatkan produksi ketahanan pangan dan ekonomi petani menjadi lebih baik," katanya menjelaskan. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow