Akuisisi Telegraph oleh Axel Springer Jadi Simbol Kebangkitan Ekspansi Media Jerman
Axel Springer resmi akuisisi Telegraph Media Group senilai Rp12,4 triliun. Langkah ini jadi bagian dari ambisi besar membangun imperium media berbahasa Inggris, setelah sukses membeli Politico.
JAKARTA Dunia media global kembali menyaksikan manuver besar dari raksasa penerbitan Jerman. Axel Springer, grup media yang berbasis di Berlin, resmi mengumumkan akuisisi atas Telegraph Media Group senilai 575 juta poundsterling atau sekitar Rp12,4 triliun pada Jumat (6/3/2026) waktu setempat. Langkah ini adalah bagian dari strategi besar Axel Springer membangun imperium media berbahasa Inggris.
Bagi Axel Springer, menguasai Telegraph adalah mimpi yang sudah dipupuk lama. Dua dekade silam, tepatnya pada 2004, mereka pertama kali mencoba mengakuisisi koran berhaluan kanan-tengah tersebut namun gagal. Kini, setelah 22 tahun, ambisi itu akhirnya terwujud.
CEO Axel Springer, Mathias Döpfner, tidak menyembunyikan visi besarnya. Ia ingin Telegraph tumbuh menjadi media sayap kanan-tengah yang paling banyak dibaca dan paling menginspirasi secara intelektual di dunia berbahasa Inggris. Ambisi ini sejalan dengan langkah sebelumnya ketika Axel Springer membeli Politico senilai USD1 miliar pada 2021. Dua akuisisi besar ini menunjukkan arah baru perusahaan yakni menjadikan bahasa Inggris sebagai medan utama ekspansi, melampaui batas-batas Jerman dan Eropa.
Mengapa Telegraph Begitu Istimewa?
Telegraph bukan soal koran semata. Keberadaaanya adalah institusi dengan sejarah panjang dan pengaruh besar dalam politik serta opini publik Inggris. Menguasai Telegraph berarti memiliki akses ke salah satu corong opini paling berpengaruh di dunia. Bagi Axel Springer, ini adalah tiket emas untuk memperluas pengaruh ideologis dan komersial di pasar global.
Döpfner menyebut kepemilikan Telegraph sebagai sebuah keistimewaan dan tanggung jawab. Ia berjanji akan mempertahankan warisan dan karakter koran tersebut, sembari menyuntikkan modal dan strategi baru untuk ekspansi, termasuk ke pasar Amerika Serikat.
Kekalahan di Medan Regulasi
Kesuksesan Axel Springer ini sekaligus menjadi pukulan telak bagi DMGT, pemilik Daily Mail, yang sebelumnya juga membidik Telegraph. Upaya DMGT terganjal penyelidikan regulator Inggris yang khawatir akan dampak akuisisi terhadap pluralitas media. DMGT mengecam proses regulasi yang dinilai ketinggalan zaman dan merugikan grup media nasional.
Sementara itu, RedBird IMI yang sempat menguasai Telegraph setelah melunasi utang keluarga Barclay, akhirnya menyerahkan kendali setelah melalui negosiasi cepat dan efisien dengan Axel Springer. Mereka menilai perusahaan Jerman itu memiliki jalur regulasi yang lebih jelas dan kekuatan komersial yang kuat untuk membawa Telegraph ke babak selanjutnya.
Dengan akuisisi ini, peta persaingan media global kembali bergeser. Axel Springer tidak lagi sekadar pemain lokal Jerman, tetapi telah bertransformasi menjadi imperium media dengan pengaruh lintas benua. (*)
Apa Reaksi Anda?