Akafarma Sunan Giri Ponorogo Buka Peluang Beasiswa ADik bagi Calon Mahasiswa Disabilitas
Akafarma Sunan Giri Ponorogo kembali menegaskan komitmennya terhadap pendidikan inklusif. Tahun ini, perguruan tinggi kesehatan tersebut kembali membuka kesempatan luas melalui program Beasiswa Afirma
PONOROGO Akafarma Sunan Giri Ponorogo kembali menegaskan komitmennya terhadap pendidikan inklusif. Tahun ini, perguruan tinggi kesehatan tersebut kembali membuka kesempatan luas melalui program Beasiswa Afirmasi Pendidikan Tinggi (ADik) yang dikhususkan bagi calon mahasiswa penyandang disabilitas.
Program ini dirancang untuk memangkas hambatan ekonomi dan aksesibilitas bagi kelompok disabilitas agar dapat mengenyam pendidikan tinggi di bidang farmasi. Berdasarkan klasifikasi yang ditetapkan, terdapat dua kategori utama disabilitas yang menjadi prioritas penerima beasiswa tahun ini.
Pihak kampus merinci kriteria penerima manfaat beasiswa ini ke dalam dua kelompok besar, yakni Disabilitas Sensorik yaitu kategori ini mencakup calon mahasiswa yang memiliki keterbatasan fungsi indra, namun masih memiliki potensi fungsional untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar. Yang pertama disabilitas Netra yaitu khusus bagi calon mahasiswa yang masih memiliki sisa penglihatan (low vision). Yang kedua disabilitas rungu yaitu khusus bagi mereka yang masih memiliki sisa pendengaran agar komunikasi selama praktik kefarmasian tetap efektif.
Disabilitas Fisik dimana kategori ini menyasar individu dengan hambatan mobilitas namun tetap memiliki semangat akademik tinggi, meliputi gangguan fungsi Gerak yaitu kondisi akibat kelainan otot, tulang, sendi, atau saraf yang memerlukan alat bantu (seperti amputasi, cedera tulang belakang, atau kelainan anggota gerak). Penyakit Kronis yaitu individu yang mengalami gangguan fungsi tubuh dalam jangka panjang yang berdampak pada keterbatasan fisik tertentu.
Direktur Akafarma Sunan Giri Ponorogo Nasruhan Arifianto menyampaikan bahwa program beasiswa ADik ini bukan sekadar bantuan finansial, melainkan upaya menciptakan ekosistem pendidikan yang setara.
"Kami ingin membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukan penghalang untuk berkontribusi di sektor kesehatan. Dengan pendampingan yang tepat, mahasiswa disabilitas memiliki peluang yang sama untuk menjadi tenaga teknis kefarmasian yang kompeten," ujarnya.
Beasiswa ADik sendiri merupakan program bantuan biaya pendidikan dari pemerintah yang mencakup biaya kuliah hingga biaya hidup. Dengan adanya kuota khusus di Akafarma Sunan Giri, diharapkan angka partisipasi pendidikan tinggi bagi penyandang disabilitas di wilayah Ponorogo dan sekitarnya dapat meningkat signifikan.
Bagi masyarakat atau calon mahasiswa yang memenuhi kriteria tersebut, proses pendaftaran dan verifikasi dapat dilakukan langsung melalui bagian administrasi kampus Akafarma Sunan Giri Ponorogo dengan menyertakan dokumen pendukung medis yang relevan. (*)
Apa Reaksi Anda?