Stok Darah Menipis saat Ramadan, PMI Kota Tasikmalaya Gelar Dordar Malam demi Selamatkan Pasien
PMI Kota Tasikmalaya gelar “Dordar Malam” selama Ramadan untuk atasi stok darah menipis, target 35 labu per hari dengan dukungan berbagai mitra demi selamatkan lebih banyak nyawa.
TASIKMALAYA PMI Kota Tasikmalaya mengalami stok darah menipis di tengah suasana Ramadan yang seharusnya penuh keberkahan. Saat langit malam terasa lebih hidup, aktivitas kemanusiaan justru menggeliat ketika sebagian warga bersiap beristirahat. Di Unit Transfusi Darah, satu per satu warga datang bukan untuk berbuka, melainkan untuk berbagi kehidupan melalui donor darah.
Bulan suci ini memang menghadirkan nuansa spiritual yang kuat, namun di balik itu tersimpan tantangan sosial yang nyata. Aktivitas donor darah yang biasanya stabil sepanjang tahun justru menurun signifikan. Perubahan pola makan, kekhawatiran donor saat berpuasa, hingga keterbatasan waktu di siang hari menjadi faktor utama berkurangnya jumlah pendonor.
Padahal, kebutuhan darah di rumah sakit tidak pernah ikut berpuasa. Setiap hari, pasien operasi, penderita anemia, korban kecelakaan, hingga pengidap penyakit kronis tetap membutuhkan transfusi. Ironisnya, kondisi stok yang menipis saat Ramadan ini bukan hal baru, melainkan fenomena yang terus berulang setiap tahun.
Ketua PMI Kota Tasikmalaya, Rahmat Kurnia, mengungkapkan bahwa penurunan jumlah donor darah sukarela menjadi tantangan utama.
“Donor darah malam ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan darah pada bulan Ramadan, sementara di sisi lain jumlah donor darah sukarela mengalami penurunan,” ujarnya saat ditemui, Selasa (17/3/2026).
Ketua PMI Kota Tasikmalaya saat memberikan keterangan kepada TIMES Indonesia, Senin (16/3/2026) malam. (Foto; Harniwan Obech/TIMES Indonesia)
Kondisi ini menuntut langkah cepat dan inovatif. PMI tidak bisa hanya menunggu, tetapi harus menjemput solusi.
Sebagai respons atas kondisi tersebut, PMI Kota Tasikmalaya kembali menggulirkan program Donor Darah Malam (Dordar Malam) selama Ramadan.
Program ini menjadi jembatan bagi masyarakat yang ingin tetap berbagi tanpa mengganggu ibadah puasanya. Donor dilakukan setelah berbuka hingga malam hari, saat kondisi tubuh lebih stabil.
Menariknya, program ini bukan inisiatif baru. Dordar Malam telah berjalan selama empat tahun berturut-turut, menjadi bukti konsistensi PMI dalam menjaga ketersediaan darah.
Rahmat menyebut, keberhasilan program ini tidak lepas dari kolaborasi lintas sektor.
Dalam pelaksanaannya, PMI menggandeng berbagai mitra strategis, di antaranya Yayasan Mayasari, Otoritas Jasa Keuangan, Ikatan Pejabat Pembuat Akta Tanah, Bank Indonesia, Bank BJB, Asia Plaza Tasikmalaya, Bank Syariah Indonesia dan Badan Amil Zakat Nasional.
Kolaborasi ini menjadi gambaran nyata semangat gotong royong bahwa urusan kemanusiaan adalah tanggung jawab bersama.
“Sudah tahun keempat kami menggandeng berbagai mitra untuk menyukseskan kegiatan ini,” kata Rahmat.
Sebagai bentuk penghargaan, PMI bersama mitra menyediakan sekitar 360 paket bingkisan bagi para pendonor.
Namun, bagi banyak orang, hadiah bukanlah alasan utama. Ada kepuasan batin yang tak tergantikan ketika mengetahui bahwa setetes darah yang disumbangkan bisa menyelamatkan nyawa.
“Kalau malam kan biasanya orang sudah lelah, bahkan mengantuk. Tapi mereka tetap datang untuk donor darah. Itu sangat kami apresiasi,” ujar Rahmat.
Dalam program Dordar Malam tahun ini, PMI menargetkan 35 labu darah per hari selama 10 hari pelaksanaan.
Kabar baiknya, hingga hari ketiga, target tersebut berhasil tercapai. Namun di balik capaian itu, masih ada tantangan besar.
Kebutuhan darah harian ternyata masih lebih tinggi dibanding jumlah yang terkumpul. Artinya, meski program berjalan sukses, perjuangan belum selesai.
Satu kantong darah bukan sekadar angka. Dalam dunia medis, satu kantong darah dapat membantu hingga tiga nyawa manusia.
Inilah yang membuat donor darah menjadi salah satu aksi kemanusiaan paling nyata dan berdampak langsung.
Selain itu, donor darah juga memiliki manfaat kesehatan, seperti membantu regenerasi sel darah, menjaga kesehatan jantung, mendeteksi penyakit tertentu lebih dini dan membangun Kesadaran di Bulan Penuh Berkah.
Ramadan sejatinya bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga memperkuat empati dan kepedulian sosial.
Melalui program Dordar Malam, PMI Kota Tasikmalaya berharap masyarakat semakin sadar akan pentingnya donor darah, terutama di momen krusial seperti ini.
“Donor darah adalah bentuk kepedulian nyata kepada sesama. Setetes darah yang kita berikan bisa menjadi harapan hidup bagi orang lain,” tutur Rahmat.
Di tengah keterbatasan, harapan tetap menyala. PMI optimistis, dengan dukungan masyarakat dan kolaborasi berbagai pihak, kebutuhan darah di Tasikmalaya dapat terpenuhi.
Karena pada akhirnya, kemanusiaan tidak mengenal waktu—bahkan di malam hari sekalipun. Dan di setiap kantong darah yang terkumpul, tersimpan harapan, kehidupan, dan masa depan seseorang yang tak kita kenal namun sangat membutuhkan.(*)
Apa Reaksi Anda?