SMPN 3 Banyuwangi Manfaatkan Sisa Makanan MBG untuk Budidaya Maggot
Inovasiditunjukkan oleh SMP Negeri 3 Banyuwangi dengan memanfaatkan sisa Makanan Bergizi Gratis (MBG) untuk budidaya maggot.
BANYUWANGI - Inovasi berkelanjutan ditunjukkan oleh SMP Negeri 3 Banyuwangi. Sekolah yang terletak di Kelurahan Singotrunan, Kecamatan Banyuwangi ini tidak hanya fokus pada akademik, tapi juga peduli terhadap lingkungan dengan memanfaatkan sisa Makanan Bergizi Gratis (MBG) untuk budidaya maggot (larva lalat Black Soldier Fly/BSF).
Program MBG yang dijalankan pemerintah untuk memastikan asupan gizi siswa ternyata menyisakan tantangan yakni sampah organik dari sisa makanan. Daripada membuangnya ke tempat sampah, SMPN 3 Banyuwangi mengolahnya menjadi media pertumbuhan maggot, yang dikenal sebagai pengurai sampah organik yang efisien.
Tak hanya sisa makanan yang diolah bersama. Bahkan, daun dan ranting di tangan siswa-siswi SMPN 3 Banyuwangi disulap menjadi produk bernilai ekonomis.
Bertempat di belakang bangunan utama sekolah, para ‘pejuang lingkungan’ tersebut memproses sampah-sampah yang berhasil kumpulkan mereka setiap harinya.
Prosesnya dilakukan secara bertahap, mulai dari pengumpulan daun kering, kemudian diolah menjadi kompos setengah matang, hingga menjadi kompos siap panen yang selanjutnya dikemas sebagai pupuk organik berkualitas premium.
Pupuk hasil olahan siswa tersebut bahkan telah dipasarkan dengan harga sekitar Rp7.500 per kemasan. Selain kompos, siswa juga memproduksi eco enzyme dan pupuk organik cair (POC) yang dimanfaatkan untuk kebutuhan tanaman di lingkungan sekolah.
“Sisa makanan dari MBG juga kami kelola sebagai pakan maggot. Hasilnya kemudian digunakan untuk pakan ikan nila yang ada di kolam sekolah,” kata M. Fadil siswa kelas 8 SMPN 3 Banyuwangi, Rabu, (8/4/2026).
Dia mengatakan telah mengikuti kegiatan pengelolaan sampah sejak kelas 7. Fadil juga tertarik karena memiliki minat pada kegiatan pertanian.
“Sejak kelas 7 sudah ikut mengelola sampah. Di rumah juga suka tanam-tanam, jadi senang bisa praktik langsung di sekolah,” ungkapnya.
Bupati Banyuwangi mengaku sangat mengapresiasi sekolah yang dipimpin Kepala Sekolah Holilik tersebut. Dia berharap program serupa dapat menjadi contoh bagi sekolah lain dalam mengelola sampah secara berkelanjutan.
“Ini sangat bagus, anak-anak sudah belajar mengelola sampah dengan benar dan bisa menghasilkan produk yang bermanfaat. Tinggal terus dikembangkan agar lebih optimal dan berkelanjutan,” ujar Ipuk.
“Ini bisa menjadi role model. Sekolah lain bisa meniru dan menyesuaikan dengan kondisi masing-masing,” imbuhnya.
SMPN 3 Banyuwangi dikenal sebagai sekolah yang syarat prestasi. Salah satunya meraih penghargaan Adiwiyata Mandiri, predikat tertinggi dalam program sekolah berbudaya lingkungan.
“Sekolah kami juga sebagai sekolah pelopor yang mengintegrasikan edukasi Geopark Ijen ke dalam kurikulum pembelajaran. Kami juga memiliki fasilitas "Geopark Corner," Duta Geopark, dan modul pembelajaran khusus, serta pernah dikunjungi asesor UNESCO dan Badan Geologi,” Kata Kepala Sekolah SMPN 3 Banyuwangi, Holilik. (*)
Apa Reaksi Anda?