Sirine Kolonial 1824 di Kota Probolinggo, Masih Menggema di Bulan Ramadan

Suara khasnya masih setia menggema di atas Kota Probolinggo. Bukan sekadar bising mesin, sirine terompet yang bertengger di halaman Kantor Pemerintah Kota Probolinggo ini adalah saksi bisu perjalanan

Februari 28, 2026 - 13:00
Sirine Kolonial 1824 di Kota Probolinggo, Masih Menggema di Bulan Ramadan

PROBOLINGGO Suara khasnya masih setia menggema di atas Kota Probolinggo. Bukan sekadar bising mesin, sirine terompet yang bertengger di halaman Kantor Pemerintah Kota Probolinggo ini adalah saksi bisu perjalanan waktu yang masih berfungsi hingga kini, terutama saat bulan Ramadan tiba.

Dibangun pada era kolonial tahun 1824, dahulu sirine terompet ini menjadi alat penanda bahaya atau kondisi darurat.

Sering waktu fungsinyapun berubah, saat ini sirine terompet yang terpasang di sebuah menara setinggi 22 meter ini, menjadi  penanda waktu dan menjadi salah satu warisan fisik yang langka. 

Di zaman Kolonial, sirine terompet ini berada di Benteng pertahan Belanda di wilayah kecamatan Mayangan.

Sirine terompet ini masih dirawat dengan baik dan masih berfungsi, meskipun beberapa kali dipindahkan. Dari Benteng Mayangan, lalu dipindah ke halaman belakang kantor DPRD setempat, dan saat ini berada di Halaman belakang Kantor Pemkot Probolinggo. 

Dan saat ini, di tengah gempuran gawai dan pengeras suara masjid yang menjangkau hampir seluruh penjuru kota, sirine berusia nyaris dua abad ini tetap dipercaya sebagai penanda waktu berbuka puasa.

Menjelang Magrib, teknisi siap sedia di ruang kontrol. Begitu waktu tiba, tuas diaktifkan. Sirine berdengung selama sekitar satu menit, berputar 360 derajat, menyapa warga bahwa waktu berbuka telah tiba.

Sirine-terompet-2.jpg

“Setiap tahun kami sebagai petugas yang bertanggung jawab membunyikannya bersamaan dengan waktu berbuka. Durasi bunyinya sekitar satu menit,” ujar Al Amin, teknisi sekaligus Aparatur Sipil Negara (ASN) di Dinas Perhubungan Kota Probolinggo.

Saat ditemui, Sabtu (28/02/2026), Al Amin menjelaskan, di luar bulan puasa, sirine ini rutin dibunyikan setiap tahunnya di bulan Agustus sebagai bentuk penghormatan peringatan detik-detik Proklamasi.

Namun, ritmenya berubah saat Ramadan tiba. Sirine ini dibunyikan dua kali dalam sehari, yakni saat waktu berbuka puasa dan sebagai penanda waktu sahur.

Perawatan rutin dan intensif dilakukan agar sirine terompet peninggalan Belanda ini tetap berfungsi. 

“Yang unik, beberapa komponen aslinya sudah tidak bisa diganti karena merupakan peninggalan kolonial. Kalau ada yang rusak, kami bawa ke tempat bubut untuk dibuatkan ulang,” jelas Amin

Perawatan rutin terus dilakukan secara berkala. Pengecekan instalasi dan daya listrik menjadi prioritas, terutama menjelang Ramadan. 

Sirine yang berusia lebih dari satu abad ini,  yang digerakkan oleh tiga motor penggerak. Mesin dinamo terus dirawat agar tidak mati di saat-saat penting.

Menurut penuturan warga sekitar, suara sirine yang mampu berputar 360 derajat ini masih dapat terdengar hingga radius satu kilometer. 

Meski zaman terus berubah, bunyi khasnya tetap dinanti sebagai pengingat sahur dan buka puasa yang autentik bagi masyarakat Kota Probolinggo. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow