Siksaan Israel Terhadap Aktivis Global Sumud Flotilla Diduga Jauh Lebih Sadis
Dugaan penyiksaan terhadap aktivis Global Sumud Flotilla oleh Israel memicu kecaman internasional. Muncul laporan cedera fisik hingga dugaan kekerasan seksual yang kini diselidiki.
JAKARTA - Tuduhan mengenai perlakuan terhadap aktivis Global Sumud Flotilla yang ditahan Israel terus berkembang setelah sejumlah peserta kembali ke negara masing-masing dan menjalani pemeriksaan medis. Selain dugaan kekerasan fisik yang menyebabkan cedera, muncul pula tuduhan pelecehan seksual hingga pemerkosaan yang kini menjadi perhatian berbagai pihak.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengecam penangkapan aktivis Global Sumud Flotilla oleh Israel di perairan internasional. PBB menilai tindakan tersebut berpotensi melanggar hukum internasional dan memperburuk situasi kemanusiaan di Jalur Gaza.
Juru Bicara Sekretaris Jenderal PBB, Stephane Dujarric, menyatakan keprihatinan atas nasib ratusan aktivis lintas negara yang ditahan dalam operasi tersebut. Menurutnya, seluruh relawan yang berada dalam armada kemanusiaan harus mendapatkan perlindungan penuh.
Pasukan Israel dilaporkan menangkap sekitar 430 aktivis Global Sumud Flotilla yang berada di atas 50 kapal dalam misi pengiriman bantuan kemanusiaan menuju Jalur Gaza. Penangkapan dilakukan setelah armada dicegat di perairan internasional.
Setelah dibawa ke Israel, para aktivis disebut mengalami berbagai bentuk perlakuan yang kemudian memunculkan tuduhan penyiksaan. Rekaman video yang memperlihatkan Menteri Keamanan Israel, Itamar Ben-Gvir, saat mengejek sejumlah aktivis yang ditahan juga memicu kritik internasional.
Pemerintah Jerman menyatakan sejumlah warganya mengalami cedera. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Jerman menyebut beberapa tuduhan yang disampaikan para aktivis tergolong serius, meski belum memerinci rinciannya.
Sumber hukum di Italia juga menyebut jaksa di negara tersebut sedang menyelidiki kemungkinan tindak pidana, termasuk dugaan penculikan, penyiksaan, dan pelecehan seksual.
Penyelenggara Global Sumud Flotilla melalui unggahan di Telegram menyebut sedikitnya terdapat 15 laporan dugaan kekerasan seksual, termasuk pemerkosaan.
"Setidaknya ada 15 kasus penyerangan seksual, termasuk pemerkosaan," tulis penyelenggara.
Mereka juga menyatakan sejumlah peserta mengalami luka akibat tembakan peluru karet dari jarak dekat, sementara puluhan lainnya dilaporkan mengalami patah tulang.
Sementara itu, pihak Israel membantah seluruh tuduhan tersebut. Juru bicara layanan penjara Israel menyatakan seluruh tahanan diperlakukan sesuai hukum dan hak-hak dasar mereka tetap dihormati.
"Semua tahanan dan narapidana ditahan sesuai dengan hukum, dengan menghormati sepenuhnya hak-hak dasar mereka dan di bawah pengawasan staf penjara yang profesional dan terlatih," demikian pernyataan pihak penjara Israel.
Luca Poggi, ekonom asal Italia yang termasuk dalam rombongan aktivis, mengaku mengalami perlakuan kasar selama penahanan.
"Kami ditelanjangi, ditendang ke tanah. Banyak dari kami disetrum dengan alat kejut listrik, beberapa mengalami pelecehan seksual, dan beberapa dilarang mengakses pengacara," katanya kepada Reuters saat tiba di Roma.
Di sisi lain, Sabrina Charik yang membantu proses pemulangan 37 warga Prancis mengatakan lima peserta asal Prancis menjalani perawatan medis di Turki. Sebagian di antaranya dilaporkan mengalami patah tulang rusuk dan cedera tulang belakang.
Beberapa negara Eropa mulai meminta penjelasan resmi terkait perlakuan terhadap para aktivis tersebut. Bahkan Italia menyebut negara-negara Uni Eropa sedang membahas kemungkinan sanksi terhadap Menteri Keamanan Israel, Itamar Ben-Gvir.
Kasus ini menambah sorotan internasional terhadap perlakuan terhadap aktivis kemanusiaan yang terlibat dalam misi bantuan menuju Gaza, sementara sejumlah dugaan pelanggaran masih dalam proses penyelidikan. (*)
Apa Reaksi Anda?