Peneliti UNISMA Kembangkan Model Pedagogi Berbasis Proyek Lewat Praktik ‘Lumbung Commoning’ di NTB
Tim peneliti dari Universitas Islam Malang (UNISMA) melakukan rekayasa pedagogi transformatif dengan mendampingi guru-guru di Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB), pada 19-23 Mei 2026.
MALANG - Tim peneliti dari Universitas Islam Malang (UNISMA) melakukan rekayasa pedagogi transformatif dengan mendampingi guru-guru di Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB), pada 19-23 Mei 2026. Kegiatan ini bertujuan untuk mengintegrasikan kearifan lokal Lumbung Commoning Sasak ke dalam modul ajar berbasis proyek (project-based learning) guna menjawab tantangan pendidikan di wilayah tersebut.
Proyek riset internasional bertajuk “Transformative Learning in NTB: A Project-Based Collaborative Model for Primary Education Grounded in Lumbung Commoning” ini didanai sepenuhnya oleh program KONEKSI (skema kemitraan Indonesia–Australia). Tim peneliti lintas disiplin ini diketuai oleh Mohammad Yunus dengan anggota Mahayu Woro Lestari, Siti Asmaniyah Mardiasih, Ari Ambarwati, Hamiddin, Imam Wahyudi Karimullah, dan Durrotun Nasihah.
Transformasi Melalui Workshop Terpadu Kegiatan dikemas dalam bentuk Workshop Training of Trainers (ToT) yang melibatkan 60 peserta, terdiri dari kepala sekolah, guru, serta tokoh masyarakat dan budayawan setempat. Pendampingan difokuskan pada guru-guru dari lima sekolah dasar mitra, yakni SDN Anyar 1, SDN Anyar 2, SDN Mumbulsari 2 (Kecamatan Bayan), SDI Terpadu Al Maarif Darussalam (Kecamatan Gangga), dan SDI Hidayaturrahman NW (Kecamatan Pemenang).
Para pengajar difasilitasi untuk meramu modul ajar yang mengintegrasikan tiga mata pelajaran utama—Bahasa Indonesia, Pancasila, dan Pendidikan Agama—yang tetap berpijak pada standar kurikulum nasional seperti Capaian Pembelajaran (CP) dan Alur Tujuan Pembelajaran (ATP).
INFORMASI SEPUTAR UNISMA DAPAT MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id
Menekankan Aspek Humanis dan Budaya Lokal Secara akademik, model ini mengusung pendekatan yang lebih humanis. Hal ini diperkuat oleh Prof. Warsono dari UNESA yang menyatakan bahwa tantangan sesungguhnya adalah mendorong siswa mengajukan pertanyaan bermakna daripada sekadar menjawab pertanyaan. menyatakan bahwa tantangan sesungguhnya adalah mendorong siswa mengajukan pertanyaan bermakna daripada sekadar menjawab pertanyaan.
“Guru didorong untuk pandai menyusun pertanyaan-pertanyaan untuk murid selama proses pembelajaran. Karena esensi belajar sesungguhnya menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh Guru dan itu menggelisahkan murid (agar dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut,” jelssnya.
Materi dalam modul ini bersumber dari nilai-nilai budaya Sasak yang telah digali bersama para budayawan dan tokoh masyarakat pada fase pertama riset, April 2026 lalu. Penggunaan konsep lumbung yang menekankan gotong royong dan berbagi sumber daya diharapkan dapat memperkuat identitas budaya sekaligus keterlibatan siswa dalam pembelajaran.
Dukungan Literasi Digital Dalam kegiatan yang berlangsung di Kantor Bupati Lombok Utara tersebut, hadir pula Ervina dari Pusat Perbukuan (Pusbuk) Kemendikdasmen. Ia memperkenalkan akses materi ajar berkualitas melalui portal Sistem Informasi Perbukuan Indonesia (SIBI). Melalui portal ini, guru dapat mengakses Buku Teks Utama, Buku Teks Pendamping, hingga Buku Muatan Lokal yang telah mendapatkan pengesahan pemerintah untuk memperkaya materi pokok di kelas.
Sinergi antara kearifan lokal dan kemajuan literasi digital juga menjadi pilar utama dalam keberlanjutan model pembelajaran ini. Praktik lumbung commoning yang menekankan pada berbagi sumber daya mendapatkan dukungan teknis melalui akses terhadap Sistem Informasi Perbukuan Indonesia (SIBI) yang dikelola oleh Pusat Perbukuan.
Portal ini memungkinkan guru dan siswa untuk mengeksplorasi beragam referensi, mulai dari Buku Teks Utama hingga Buku Teks Pendamping dan Muatan Lokal yang telah terstandardisasi secara nasional. Integrasi sumber daya digital yang melimpah ini memastikan bahwa modul ajar yang disusun berbasis budaya Sasak tetap selaras dengan standar mutu pendidikan nasional, sekaligus memperkuat identitas kultural siswa agar tetap relevan di tengah arus perkembangan global.
Selepas sesi pemaparan materi, Pusbuk melalui Ervina menyampaikan 125 eksemplar buku yang dibagikan kepada 5 sekolah dan undangan sebagai bentuk dukungan Pusbuk pada aktivitas penelitian yang dijalankab UNISMA, yang didanai sepenuhnya oleh Hibah KONEKSI Australia 2026-2027.
Rektor UNISMA, Prof. Junaidi M.Pd., PhD menyatakan komitmen UNISMA untuk mengawal riset strategis ini. “Meningkatkan kompetensi Guru khususnya dalam penyusunan modul ajar berbasis proyek yang digali dari nilai budaya yang kita sebut Lumbung Commoning Sasak adalah investasi terbaik yang UNISMA berikan bagi Guru-guru di KLU. Dukungan penuh dari pemberi hibah KONEKSI Australia adalah bukti kami punya SDM peneliti mumpuni untuk mewujudkan pedagogi transformatif yang membuat kaki para murid menjejak kuat pada nilai budaya lokal yang sudah diwariskan oleh tetua adat, para budayawan, tokoh agama, dan tokoh masyarakat Sasak ” paparnya.
Keberhasilan UNISMA dalam mengimplementasikan riset ini menjadi langkah strategis untuk menghadirkan inovasi pendidikan yang adaptif, aplikatif, dan kontekstual bagi penguatan kapasitas akademik para Guru di Nusa Tenggara Barat. (*)
INFORMASI SEPUTAR UNISMA DAPAT MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id
Apa Reaksi Anda?