Organisasi Petani Asia Pasifik Perkuat Akses Pasar dan Transisi Agroekologi
Pembangunan Daerah Tertinggal menegaskan pentingnya menempatkan petani sebagai subjek pembangunan.
JAKARTA Organisasi petani di kawasan Asia Pasifik memperkuat strategi peningkatan kesejahteraan petani kecil melalui perluasan akses pasar, penguatan koperasi, serta percepatan transisi menuju sistem agroekologi berkelanjutan dalam periode program 2021–2025.
Komitmen tersebut mengemuka dalam pertemuan regional yang digelar di Mercure Jakarta Batavia, Selasa (24/2/2026), yang dihadiri perwakilan 16 organisasi petani dari 14 negara di Asia.
Sekretaris Jenderal Asian Farmers’ Association (AFA), Esther Penunia, mengatakan selama implementasi program tersebut pihaknya telah menjangkau jutaan petani kecil dan keluarga petani dengan berbagai layanan yang berdampak langsung terhadap peningkatan kesejahteraan.
“Pencapaian paling penting adalah kami berhasil menjangkau jutaan petani kecil dan keluarga petani serta memberikan layanan yang mereka butuhkan untuk meningkatkan kesejahteraan,” ujar Esther.
Ia menjelaskan, strategi yang dijalankan mencakup penguatan kelembagaan koperasi dan unit usaha petani, advokasi kebijakan publik, serta peningkatan kapasitas organisasi.
Melalui skema penjualan kolektif dan pengolahan produk bernilai tambah, sejumlah koperasi dilaporkan mampu meningkatkan pendapatan anggota hingga 20–40 persen.
“Dengan membantu petani membentuk koperasi, melakukan penjualan kolektif, dan pengolahan bersama, mereka mampu meningkatkan pendapatan,” katanya.
Ke depan, AFA akan memperkuat transisi menuju agroekologi melalui program Farmers’ Organizations for Impact (FO4 Impact). Program tersebut diarahkan untuk memastikan proses produksi, pengolahan, hingga pemasaran berjalan selaras dengan prinsip pertanian yang adil, tangguh, dan berkelanjutan.
Sementara itu, Koordinator Steering Committee NIA, Nuruddin, menjelaskan bahwa sejak 2021 penguatan organisasi petani juga difokuskan pada peningkatan keterlibatan dalam proses perumusan kebijakan, mulai dari tingkat desa hingga nasional.
Di tingkat desa, advokasi diarahkan pada pemanfaatan dana desa untuk mendukung kelompok tani. Sedangkan di tingkat kabupaten, pemerintah daerah didorong menghadirkan regulasi yang memperkuat produk unggulan berbasis rantai nilai, khususnya beras ramah lingkungan dan organik.
Menurut Nuruddin, koperasi menjadi instrumen strategis dalam memperkuat posisi tawar petani di pasar.
“Prinsipnya 3K: kualitas, kuantitas, dan kontinuitas. Jika tiga hal ini terpenuhi, koperasi dapat mengelola keuangan secara mandiri dan petani tidak lagi bergantung pada tengkulak,” ujarnya.
Program ini mendapat dukungan hibah dari European Union dan International Fund for Agricultural Development (IFAD). Di tingkat nasional, dukungan juga diberikan dalam bentuk subsidi sertifikasi organik serta bantuan teknologi pasca-panen, seperti mesin sangrai dan mesin pemisah warna beras melalui proses seleksi.
Meski demikian, tantangan masih dihadapi organisasi petani, antara lain kelangkaan pupuk, tingginya harga benih, serta dampak perubahan iklim yang meningkatkan risiko serangan hama dan penyakit tanaman.
“Dengan menjadikan petani sebagai subjek pembangunan, inovasi ketahanan pangan dan peningkatan kesejahteraan dapat tumbuh secara berkelanjutan,” ujarnya.
Delegasi Kyrgyzstan, Toolos Bostonbaev, menilai forum tersebut relevan dalam menghadapi dinamika global.
Ia menyebut melalui program tersebut negaranya berhasil memperluas akses pasar hingga ke Eropa dan Amerika Serikat untuk produk non-kayu.
Pertemuan regional ini diharapkan memperkuat konsolidasi lintas negara, memperluas akses pasar global, serta mendorong kebijakan yang lebih berpihak kepada petani kecil di kawasan Asia Pasifik. (*)
Apa Reaksi Anda?